Laman

Rabu, Agustus 18

Seorang muslim dituntut untuk berjihad melawan nafsunya, dan menjauhkan dirinya dari terjerumus dalam kealfaan mengingat Allah, sehingga tidak membahayakan bagi agama dan imannya.

Sesungguhnya merasa dilihat Allah adalah ingat kepada Allah qalbu menyebut Allah (Muraqabah) di sebut dzikir, ini adalah merupakan inti dari segala ibadah-ibadah sesuai tujuan di ciptakan-Nya jin dan manusia untuk beribadah, ibadah dzikir ma'rifat akan Allah dalam surah ( Ad Dzariyat 56) وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

" Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS.Ad- Zaariyat 52: 56).

* ) Mengabdi, Beribadah, Ma'rifatullah, itulah tugas hamba mengabdi dalam seluruh hidupnya dan dzikir itu mampu mengikat diri ke Allah

Sebagaimana rukun agama yang tiga dalam hadis Jibril 

1. Rukun ISLAM, Syari'at ==>Jasad

2. Rukun IMAN, Aqidah ==> Akal

3. Rukun IHSAN Akhlak,Tasawuf Taharekat == >> Ruh, dimana ruh makanannya dzikrullah.

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. QS. Ad Zaariyat 55).

Pada saat malaikat Jibril memperkenalkan agama Islam kepada para sahabat melalui Rasulullah SAW. sesudah menjelaskan Tentang Islam dan Iman.

Kemudian Ia (Jibril) berkata: Beritahukan kepadaku apakah Ihsan itu? Nabi bersabda:

 قلﷺ أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك 

( Ihsan ialah) " Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya. Jika engkau tidak bisa melihatnya, sesungguhnya Ia melihatmu (HR Muslim )

*) Seolah-olah melihat Allah = Ma'rifatullah (Taqarrub Ilallah)

*) Sesungguhnya Ia melihatmu = Qolbu inti ruhani manusia, merasa selalu diawasi Allah ( muraqabah) sepanjang hayat, ibadah sepanjang hayat apabila hatinya telah hidup oleh bimbingan seorang guru ahlinya dan ia dimanapun selalu merasa bersama Allah.

Sebagaimana Allah SWT : "Sesungguhnya aku hadapkan wajahku (qalbu mata batin) kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepatuhan." (Al-An'aam 79).

Kemana pun engkau ( mata batinmu)  menghadap, di situlah wajah Allah (QS Al-Baqarah: 115).

Dan Dia Maha Menyaksikan segala sesuatu (QS Saba’: 47). " Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan (QS Al-Buruj: 3).

Dialah yang Maha Awal dan Maha Akhir, Maha Lahir dan Maha Batin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS Al-Hadid: 3).

Hal ini menunjukkan bahwa sebuah kedekatan atau taqarrub sampai-sampai seakan-akan melihatNya, adalah akibat dari kesadaran kuat bahwa "Dialah yang melihat kita." Kesadaran jiwa bahwa Allah SWT melihat kita terus menerus, menimbulkan pantulan pada diri kita, yang membukakan mata hati kita dan sirr ( rahasia) kita untuk memandangNya.

Sebagaimana firman Allah : " Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu ". (QS. An-Nisa 1).

Allah menjaga karena kamu ingat Allah, dzikrullah. Allah mengawasi karena kamu ingat Allah, dzikrullah.

" dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) yang berkata "Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan. (QS. Al-Anfal 8: 21).

" Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.(QS. Al-Anfal 8:27).

Penjelasan : Ihsan itu adalah Kemampuan qalbumu melihat Allah. Kata lain (Ma'rifat) 

Terbukanya penghalang qolbu, qolbu bukan hati daging fisik, qolbu yang benar adalah (qolbu Abstarak ghaib ) bashirah mata batin qolbu adalah pusat inti Ruh manusia.

Qolbu abstrak furqon mata batin Inti ruh diri, ruh qudsi yang bersih qalbun salim dimaknai sebagai hati yang bersih dari unsur-unsur kemusyrikan, baik yang nyata ( syrik jaliy /besar) maupun yang samar (syrik khafi/tersembunyi).

Sehingga ia tidak pernah lupa 'ikatan primordialnya' untuk selalu menuhankan Allah dan menyembah, beribadah, berma'rifat hanya kepada-Nya. Di samping itu, ia selalu condong (hanif, lurus ) kepada kebenaran, kebaikan, dan keluhuran budi pekerti (akhlaq al-karimah)

Tidak akan baik sebuah kalbu kecuali apabila menetap padanya ma’rifatullah ma'rifat Dzat (mengenal Dzat Allah ‘azza wa jalla ), Kemampuan Qalbumu Melihat Allah (Ma'rifat) Terbukanya Penghalang Qolbu, mengetahui keagungan-Nya, cinta dan takut kepada-Nya, berharap dan tawakal kepada-Nya.

Inilah hakikat Tauhid yang merupakan makna "La ilaha illallah". Tidak ada kebaikan bagi kalbu kecuali saat menjadikan Allah Yang Maha Esa sebagai sesembahan yang diibadahi, yang dicintai, dan ditakuti, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Ibnu Athaillah menggambarkan secara bijak: "Alam semesta ini gelap, dan sebenarnya menjadi terang karena dicahayai Allah di dalamnya. Karena itu siapa yang melihat semesta, namun tidak menyaksikan Allah di dalamnya, atau di sisinya, atau sebelum dan sesudahnya, benar-benar ia telah dikaburkan dari wujud Cahaya, dan tertutup dari matahari ma'rifat oleh mendung-mendung duniawi semesta."

Kontemplasi demi kontemplasi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid yang Kamil Mukammil hanya akan menggapai kebuntuan jalan dalam praktek Muroqobah, Musyahadah maupun Ma'rifah.

Dikatakan demikian manakala jiwa itu bagaikan teman yang berkhianat, karena itu (ihsan) tiada jalan untuk membiarkannya barang sekejappun, agar jiwa tidak berhianat karena ia dapat menghancurkan modal (amal-amal baik) bahkan meraih keuntungan, untuk itu diperlukan adanya pengawasan secara terus menerus di setiap gerakan baik dalam diamnya sekalipun dan setiap detiknya.

Rasulullah SAW bersabda:" Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran besar. Lantas sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah? Rasul menjawab, “jihad (memerangi) hawa nafsu.”

💦 " Jihad batin lebih berat dari jihad dzahir, karena jihad batin adalah satu jihad yang terus menerus yang bertujuan memutus semua kehendak dan dorongan hawa nafsu, untuk melakukan perkara-perkara yang terlarang serta mengekang keinginan terhadapnya ". [ Syekh Abdul Qadir Jaelani ].

Bagi mereka yang dicahayai oleh Allah maka digambarkan oleh Ibnu Athaillah dalam al-Hikam:

"Telah terpancar cahayanya dan jelaslah kegembiraanya, lalu ia pejamkan matanya dari dunia dan berpaling darinya, sama sekali dunia bukan tempat tinggal dan bukan tempat ketentraman. Namun ia jiwanya bangkit di dalam dunia itu, semata menuju Allah Ta'ala, berjalan di dalamnya sembari memohon pertolongan dari Allah untuk datang kepada Allah.

Allah berfirman : 

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Innani annallohu la ilaha illa anaa fakbuduni wa aqimissholata *li dzikryy "*

" Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah Sholat *untuk berdzikir kepada-Ku* .[ QS.Taha 14].

"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang *LALAI* dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan menolong dengan barang berguna."(QS Al- maun, 4-6).

فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ 

" Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu, *berdzikir lah kepada Allah* di *WAKTU BERDIRI, di WAKTU DUDUK dan di BERBARING*...(QS.An-Nisa’ 103)

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman : 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

" Sungguh telah ada pada " (Diri) Rasulullah itu *suri Tauladan Yang Baik Bagimu* (yaitu) bagi orang yang *MENGHARAP (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia BANYAK BERDZIKIR kepada ALLAH* ( QS. Al-Ahzab 33: 21). 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. *Aku BERSAMANYA KETIKA IA MENGINGAT-KU. Jika ia MENGINGAT-KU SAAT SENDIRIAN, AKU akan mengingatnya DALAM DIRI-KU*. .. (Hadist Qudsi) 

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19) 💤💤

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik [yaitu] Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan *hati mereka di waktu mengingat (berdzikir) Allah*. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (Q.S. Az-Zumar Rombongan-rombongan 39: 23).

Allah Subhanahu Wata'ala Berfirman : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

" Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah Wasilah, (jalan perantara) Yang menyampaikanmu kepada Allah dan berjihadlah ( diantaranya jihad batin melawan hawa nafsu) pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.( QS.Al Maidah 5: 35.)

Rasulullah SAW Bersabda : 

عن دود عن ابن مسعود قال رسول الله ص م : كُنْ مَعَ اللهِ وَاِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَ اللهِ فَكُنْ مَعَ مَنْ كَانَ مَعَ اللهِ فَإِنَّهُ يُوْصِلُكَ اِلَى اللهِ

Artinya: “Sertakan dirimu kepada Allah, jika kamu belum dapat menyertakan dirimu kepada Allah, maka sertakanlah dirimu kepada orang yang telah beserta Allah, maka ia akan menyampaikan kepada kamu pengenalan kepada Allah.” (H.R. Abu Dawud)

Berdasarkan keterangan Hadits di atas bahwa kita harus menyertakan diri kepada orang yang beserta Allah, artinya kita harus belajar secara langsung kepada orang yang telah dapat serta Allah yang lazim disebut mursyid atau guru atau Syekh. Maka tidaklah berlebihan jika Abu Yazid al-Busthami berpendapat bahwa: ”Barang siapa yang menuntut ilmu tanpa berguru, maka syetan gurunya”, pendapat tersebut didasarkan pada Hadits Nabi Saw:

مَنْ لاَشَيْخٌ مُرْشِدٌ لَهُ فَمُرْشِدُهُ الشَّيْطَانُ

Artinya: “Barangsiapa yang tiada Syekh Mursyid (guru) yang memimpinnya ke jalan Allah, maka syetanlah yang menjadi gurunya”.

Karena pentingnya mursyid ini, seorang ulama tabi’in, Muhammad bin Sirin rahimahullah mengatakan:

إِنَّ هَذَا العِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Karena itu, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Riwayat Muslim).

" Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus 10:62)

مَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ *وَلِيًّا مُّرْشِدًا*

... man yahdillahu fahuwal muhtadi waman yudhlil falan tajida lahu *walii-yan mursyidan;*

Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong Wali Mursyid yang dapat memberi petunjuk kepadanya*.(QS. Al- Kahfi 18 :17)

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, cara terbaik untuk meraih muqarabah Merasa dilihat Allah ( dzikir) itu semua ialah dengan MENCARI GURU ROHANI yang akan membawa HATI HIDUP. Inilah yang akan menyelamatkan seseorang di AKHIRAT. Wajib Mencari Guru Mursyid https://youtu.be/C7SIRLvDeF0 

Firman Allah dalam Al Qur’an

 وَّدُوْنَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ وَاذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَلَا تَكُنْ مِّنَ الْغٰفِلِيْنَ بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ

" Dan sebutlah (Allah) dalam hatimu (Siir Rahasia, dzikir kofi, tersembunyi ) dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang LALAI. (QS.7 Tempat Tertinggi :205).

Siapa yang tau cara berdzikirnya dan banyaknya berapa dan bagaimana ? Selain daripada berguru kepada ahli qolbu ahli ruh guru rohani yang sudah bersih qolbunya !

“ Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di PAGI dan SENJA hari dengan mengharap keridhaan-Nya,( .💦..)dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang HATINYA telah Kami *LALAIKAN* dari *MENGINGATI KAMI* serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Q.S. Al-Kahfi 18: 28).

(..💦.)[orang-orang yang menempuh jalan mengamalkan ilmu tasawuf yang mengadakan perjalanan menuju Allah, pengikut-pengikut jalan kerohanian sekelompok kecil dari manusia mereka jamaah rombongan atau orang-orang yang selalu mecari ridho Allah dan mereka adalah jamaah yang di tuntun banyak mengingat Allah punya kontrol diri, ahli dzikir baik dzikir zahar bersuara, atau kofi tersembunyi siir dalam hati yang mengamalkan rukun agama ke tiga hakikat rukun ihsan]

Apakah Ilmu Tasawuf bukan bagian dari Agama Islam Sehingga kita boleh Abaikan?  https://backtocreator.blogspot.com/2021/08/apakah-ilmu-tasawuf-bukan-bagian-dari.html

Ilmu Syariat Dan Ilmu Ma'rifat Satu Kesatuan Yang Tidak Terpisah

Ilmu Syariat & Ilmu Ma'rifat Ada Pada Satu Tempat Tak Bisa Terpisah.

" Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah. (Az Zaariyat 51: 49).

Sebagaimana Tubuh dengan Ruh dan sebagaimana Rukun Islam Iman Adalah Syari'at & Rukun Ihsan adalah Ma'rifat Ilmu tentang Akhlak/Adab/Tasawuf pengamalannya adalah menempuh jalan ( ber-Tharekat /jalan, metode, cara) dengan bimbingan guru ruhani hasilnya adalah Ma'rifat ( Seolah-olah Melihat Allah ) dan merasa selalu diawasi Allah ( Muraqabah ) bersama Allah.

Tujuan manusia dihidupkan adalah Ibadah,(Ma'rifat) QS.5156 ibadah yang di sertai ma'rifat ibadah tanpa ma'rifat adalah gerak gerik ritual kosong tak bermakna.

Rukun Ihsan : “ Ihsan itu adalah kalian beribadah/menyembah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya. Kalaupun kalian tidak bisa melihat-Nya, maka ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Melihat kalian (apa yang kalian kerjakan).” ( HR Muslim).

Sebagaimana pula tentang talqin, talqin bagi ilmu syari'at dan talqin dalam ilmu tasawuf, ayat yang sama mengenai talqin yaitu : Laqinu mautakum Laa Ilaha Illallah artinya : Talqinlanlah/bimbinglah orang yang akan mati dengan Laa Ilaha Illallah yang men talqin/membimbing orang sembarangan itu talqin bagi ilmu syari'at untuk orang sakaratulmaut, sedangkan talqin dalam ilmu rukun Ihsan/ ilmu tasawuf adalah talqinlanlah/ bimbinglah orang yang akan mati ( calon mati semua orang yang akan mati namun berfokus pada hati yang lalai banyak lupa mengingat Allah hati yang mati mengingati Allah agar hati itu hidup mengingat Allah yang membimbingkan talqin pun bukan sembarangan orang tetapi adalah oleh guru ruhani pula yang bersih hatinya pilihan Allah Waliyullah Wali Mursyid sebagaimana pada ( QS.18: 17) & ( QS. 5: 35 ) & (QS. 10:62) dengan tujuan utamanya agar menghadap Allah sudah terbiasa lisan dan hatinya menyebut Allah dan menghadap Allah dalam dalam keadaan bersih ( QS.26: 88-89)

Syariat merupakan penyembahan mahluk kepada Sang Khalik. Sedangkan Hakikat adalah kesaksian mahluk terhadap kehadiran-Nya. ( Imam Al-Qusyairi ).

" Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, (Syari'at & Hakikat) antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing ( QS.19:20).

Allah membatasi manusia dengan hati-nya artinya ilmu pengetahuan lahir-nya tubuh jasmani-nya dengan Ilmu pengetahuan batin-nya tubuh ruhani-nya

" ... sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hati (qolbu-nya )dan sesungguhnya kepadanyalah kamu akan dikumpulkan. (QS Al Anfal 8: 24).

" barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hati (qolbu-nya). QS. 64:11).

Tonton video berikut  ini https://youtu.be/gBQoOgIkCbs

Baca juga Kewajiban Seorang muslim dituntut berjihad melawan hawa nafsunya  


Minggu, Agustus 8

Perlunya Guru Rohani Jika Menjalankan Rukun Pokok Agama Islam

RUKUN AGAMA ISLAM ( ARKANUDDIN) TERDIRI DARI 3 RUKUN ( Hadist Jibril ) Adalah Keyakinan Pokok Ummat Islam.


Pentingnya Keberadaan Mursyid dalam Tarekat (1)

Hadist Jibril Keyakinan Pokok Utama Agama Islam. Islam Iman Ihsan

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata :

Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan berambut sangat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan ia letakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya. Selanjutnya ia berkata : “Ya Muhammad,

1. beritahulah aku tentang Islam.”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Islam adalah engkau bersaksi tidak ada yang berhak disembah dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; engkau menegakkan shalat; engkau menunaikan zakat; engkau berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,”. Lelaki itu berkata, “Engkau benar”, maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.

2. Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab, “Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malikat Nya, kitab-kitab Nya, para Rasul Nya, hari Akhir, dan engkau beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk”. Ia berkata, “Engkau benar”. Dia bertanya lagi: 

3. “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, yakinlah bahwa sesungguhnya Dia melihatmu.”. 

Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?”. Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”. Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”. Nabi menjawab, “Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju, miskin papa, serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”. Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun memendam hal tersebut beberapa lama, hingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai Umar, tahukah engkau, siapa yang beberapa waktu lalu bertanya itu ?”. Aku menjawab, “Allah dan RasulNya lebih mengetahui,”. Beliau bersabda, “Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.”. [HR Muslim]

Dalam hal Ilmu Fiqih/Syariah terdapat dalam --- Rukun Islam ---

Dalam hal ilmu Aqidah keyakinan terdapat dalam --- Rukun Iman ---

Dalam hal Ilmu ahlak/adab/tasawuf terdapat dalam --- Rukun Ihsan ---- 
Untuk menerapkan ilmu tasawuf jalan pengamalannya adalah Tharekat dengan bimbingan guru ruhani.

Ketiganya Keyakinan Pokok Ummat Islam.

Dalam Rukun Islam Kita belajar Imu Fiqih
Dalam Rukun Iman Kita belajar Ilmu Aqidah 
Sedangkan dalam Rukun Ihsan kita belajar Imu Ahlak atau adab, bagian batin ruhani belajar Ilmu Ahlak adalah belajar Ilmu Tasawuf, Dalam Tasawuf Kita Belajar Mensucikan diri praktek di dalam mensucikan diri kita butuh pembimbing guru yang berkaitan dengan Ilmu ruhani jalan yang mengetahui caranya.

Defenisi Tasawuf - ada 3
1. Imu untuk mengetahui keadaan qobu baik dan buruknya
2. berupaya membersihkannya
3. Mengadakan perjalanan menuju Allah ( Tanwirul Qulub).

Siapa orang yang tak memerlukan seorang penunjuk jalan kalau kita tidak kenal jalan dalam mengarungi perjalanan yang belum kita kenal?

Ali al Khawas berkata dalam syairnya,

Jangan menempuh jalan yang tidak engkau kenal tanpa penunjuk jalan,

Sehingga engkau terjerumus dalam jurang-jurangnya.


Inilahcom Jakarta |
Allah Swt. berfirman: "Barangsiapa mendapatkan kesesatan, maka ia tidak akan menemukan (dalah hidupnya) seorang wali yang mursyid" (Al-Quran Kahfi Surah Al-Kahfi 17 ).

Dalam tradisi tasawuf, peran seorang Mursyid (pembimbing atau guru ruhani) merupakan syarat mutlak untuk mencapai tahapan-tahapan puncak spiritual. Eksistensi dan fungsi Mursyid atau wilayah kemursyidan ini ditolak oleh sebagaian ulama yang anti tasawuf atau mereka yang memahami tasawuf dengan cara-cara individual.

Mereka merasa mampu menembus jalan ruhani yang penuh dengan rahasia menurut metode dan cara mereka sendiri, bahkan dengan mengandalkan pengetahuan yang selama ini mereka dapatkan dari ajaran Al-Quran dan Sunnah. Namun karena pemahaman terhadap kedua sumber ajaran tersebut terbatas, mereka mengklaim bahwa dunia tasawuf bisa ditempuh tanpa bimbingan seorang Mursyid.

Pandangan demikian hanya layak secara teoritis belaka. Tetapi dalam praktek sufisme, hampir bisa dipastikan, bahwa mereka hanya meraih kegagalan spiritual. Bukti-bukti historis akan kegagalan spiritual tersebut telah dibuktikan oleh para ulama sendiri yang mencoba menempuh jalan sufi tanpa menggunakan bimbingan Mursyid. Para ulama besar sufi, yang semula menolak tasawuf, seperti Ibnu Athaillah as-Sakandari, Sulthanul Ulama Izzuddin Ibnu Abdis Salam, Syeikh Abdul Wahab asy-Syarani, dan Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali akhirnya harus menyerah pada pengembaraannya sendiri, bahwa dalam proses menuju kepada Allah tetap membutuhkan seorang Mursyid.

Masing-masing ulama besar tersebut memberikan kesaksian, bahwa seorang dengan kehebatan ilmu agamanya, tidak akan mampu menempuh jalan sufi, kecuali atas bimbingan seorang Syekh atau Mursyid. Sebab dunia pengetahuan agama, seluas apa pun, hanyalah "dunia ilmu", yang hakikatnya lahir dari amaliah. Sementara, yang diserap dari ilmu adalah produk dari amaliah ulama yang telah dibukakan jalan marifat itu sendiri.

Jalan marifat itu tidak bisa begitu saja ditempuh begitu saja dengan mengandalkan pengetahuan akal rasional, kecuali hanya akan meraih Ilmul Yaqin belaka, belum sampai pada tahap Haqqul Yaqin. Alhasil mereka yang merasa sudah sampai kepada Allah (wushul) tanpa bimbingan seorang Mursyid, wushul-nya bisa dikategorikan sebagai wushul yang penuh dengan tipudaya. Sebab, dalam alam metafisika sufisme, mereka yang menempuh jalan sufi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid, tidak akan mampu membedakan mana hawathif-hawathif (bisikan-bisikan lembut) yang datang dari Allah, dari malaikat atau dari syetan dan bahkan dari jin. Di sinilah jebakan-jebakan dan tipudaya penempuh jalan sufi muncul. Oleh sebab itu ada kalam sufi yang sangat terkenal: "Barangsiapa menempuh jalan Allah tanpa disertai seorang guru, maka gurunya adalah syetan".

Oleh sebab itu, seorang ulama sendiri, tetap membutuhkan seorang pembimbing ruhani, walaupun secara lahiriah pengetahuan yang dimiliki oleh sang ulama tadi lebih tinggi dibanding sang Mursyid. Tetapi, tentu saja, dalam soal-soal Ketuhanan, soal-soal bathiniyah, sang ulama tentu tidak menguasainya.

Sebagaimana ayat al-Quran di atas, seorang Syekh atau Mursyid Sufi, mesti memiliki prasyarat yang tidak ringan. Dari konteks ayat di atas menunjukkan bahwa kebutuhan akan bimbingan ruhani bagi mereka yang menempuh jalan sufi, seorang pembimbing ruhani mesti memiliki predikat seorang yang wali, dan seorang yang Mursyid. Dengan kata lain, seorang Mursyid yang bisa diandalkan adalah seorang Mursyid yang Kamil Mukammil, yaitu seorang yang telah mencapai keparipurnaan marifatullah sebagai Insan yang Kamil, sekaligus bisa memberikan bimbingan jalan keparipurnaan bagi para pengikut thariqatnya.

Tentu saja, untuk mencari model manusia paripurna setelah wafatnya Rasulullah saw. terutama hari ini, sangatlah sulit. Sebab ukuran-ukuran atau standarnya bukan lagi dengan menggunakan standar rasional-intelektual, atau standar-standar empirisme, seperti kemasyhuran, kehebatan-kehebatan atau pengetahuan-pengetahuan ensiklopedis misalnya. Bukan demikian. Tetapi, adalah penguasaan wilayah spiritual yang sangat luhur, dimana, logika-logikanya, hanya bisa dicapai dengan mukasyafah kalbu atau akal hati.

Karenanya, pada zaman ini, tidak jarang Mursyid Tarekat yang bermunculan, dengan mudah untuk menarik simpati massa, tetapi hakikatnya tidak memiliki standar sebagai seorang Mursyid yang wali sebagaimana di atas. Sehingga saat ini banyak Mursyid yang tidak memiliki derajat kewalian, lalu menyebarkan ajaran tarekatnya. Dalam banyak hal, akhirnya, proses tarekatnya banyak mengalami kendala yang luar biasa, dan akhirnya banyak yang berhenti di tengah jalan persimpangan.

Lalu siapakah Wali itu? Wali adalah kekasih Allah Swt. Mereka adalah para kekasih Allah yang senanatiasa total dalam thaat ubudiyahnya, dan tidak berkubang dalam kemaksiatan. Dalam al-Quran disebutkan: "Ingatlah, bahwa wali-wali Allah itu tidak pernah takut, juga tidak pernah susah."

Sebagian tanda dari kewalian adalah tidak adanya rasa takut sedikit pun yang terpancar dalam dirinya, tetapi juga tidak sedikit pun merasa gelisah atau susah. Para Wali ini pun memiliki hirarki spiritual yang cukup banyak, sesuai dengan tahap atau maqam dimana, mereka ditempatkan dalam Wilayah Ilahi di sana. Paduan antara kewalian dan kemursyidan inilah yang menjadi prasyarat bagi munculnya seorang Mursyid yang Kamil dan Mukammil di atas. 

Jumat, Juli 30

Rukun Ihsan Sebagai Penjaga Rukun Lainnya

 

Ihsan Sebagai Penjaga Rukun Islam Dan Rukun Iman Sebelumya.


Oleh: Hannan Putra --Hebatnya gejolak syahwat yang meliputi setiap jiwa anak muda juga dirasakan oleh para nabi. Seperti Nabi Yusuf AS, pada usianya yang muda belia lagi lajang, Yusuf muda juga memiliki gelora syahwat layaknya manusia normal. Lantas, bagaimanakah jadinya jika seorang anak muda dalam kondisi ini dirayu seorang wanita cantik untuk berbuat maksiat?

Inilah yang dikisahkan Allah SWT dalam Alquran. "Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya." (QS Yusuf [12]: 24).

Anak muda mana yang tidak tergiur berbuat maksiat dalam kondisi tersebut. Apa yang kurang dari Zulaikha? Seorang wanita cantik, kaya raya, dan bangsawan. Seluruh yang diinginkan laki-laki ada pada dirinya. Yusuf dan Zulaikha hanya berdua saja dalam rumahnya. Pemuda manakah yang bisa selamat jika menjadi Yusuf dalam kisah tersebut?

Dalam satu riwayat disebutkan, tatkala Zulaikha dan Yusuf hendak memulai melakukan maksiat, Zulaikha meminta izin. Ia menutup sebuah patung yang ada di rumahnya dengan kain. Bertanyalah Yusuf, mengapa patung itu harus ditutupi kain.

"(Patung) itu tuhan saya. Saya malu jika ia melihat saya (melakukan maksiat)," jawab Zulaikha. Inilah tafsir dari tanda yang dimaksudkan dalam ayat tersebut. Sebuah kiasan dari Allah SWT bahwa Dia Maha Menyaksikan segala sesuatu.

Yusuf pun menangis. "Apakah engkau merasa malu dengan patung yang tidak dapat melihat atau mendengar itu? Patung itu juga tidak dapat memberi manfaat atau mudharat (jika ia murka melihat engkau bermaksiat). Patung itu tidak pula hidup dan tidak dibangkitkan. Sedangkan aku takut kepada Allah yang Maha Mengatur seluruh urusan makhluk-Nya," ujar Yusuf dengan terbata-bata.

Yusuf pun sadar, Tuhannya Maha Melihat dan Maha Menyaksikan apa yang dilakukan hamba-Nya. Tuhan yang disembah Yusuf tidak pernah tidur maupun lalai. Seharusnya, ia yang lebih malu untuk bermaksiat. Yusuflah yang semestinya takut dengan murka Tuhannya jika ia bermaksiat, sedangkan Tuhannya menyaksikan. Kesadaran inilah yang membuncah dalam dada seorang Yusuf muda yang masih belia itu. Inilah yang membuatnya lari dan membatalkan niat awalnya untuk bermaksiat.

Jika setiap Muslim memperhatikan "tanda" yang diberikan Allah kepadanya, serta menyadari kehadiran Allah dalam setiap gerak dan langkahnya, mustahil ia bisa bermaksiat kepada Allah. Bagaimana mungkin seorang Muslim yang sadar bahwa ia hidup di bumi Allah, menghirup udara milik Allah, dan memakan rezeki dari Allah, kemudian ia bermaksiat di hadapan mata Allah? Tidakkah ia malu kepada Tuhannya untuk melakukan maksiat. Ke manapun ia pergi, tidak akan bisa bersembunyi dari mata Allah yang Maha Melihat.

Kesadaran akan hadirnya Allah dalam setiap helaan nafasnya inilah yang menyelamatkan Nabi Yusuf. Kesadaran itu pula yang bisa menyelamatkan para hamba dari bermaksiat kepada Sang Khaliq. Betapa banyak "tanda" yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Semua tanda tersebut sangatlah terang dan terlihat. Seorang yang bermaksiat pasti berontak hatinya melihat "tanda" yang terlihat nyata oleh matanya, terdengar oleh telinga, dan sangat terasa di hatinya. Namun, "tanda" tersebut ia sembunyikan dan dibuang jauh-jauh. Ia berpura-pura seakan Allah tidak menyaksikan perbuatan maksiatnya.

Merasakan kehadiran Allah inilah yang disebut dengan ihsan. Rasulullah SAW mendefinisikan ihsan dalam hadisnya, "Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya maka yakinlah Dia Maha Melihat kepadamu." (HR Muslim).

Setiap mukmin, harus memiliki tiga unsur sebagai pembangun agama dalam dirinya. Tiga unsur itulah, iman, Islam, dan ihsan. Banyak orang yang sanggup menunaikan kelima rukun Islam, memercayai keenam rukun iman, namun tidak sanggup berihsan secara sempurna. Seorang Muslim dapat menunaikan zakat dengan jumlah yang banyak, menunaikan haji ke Tanah Suci, namun masih saja melakukan apa yang dilarang Allah. Hal ini membuktikan, tingkat ihsan yang ada pada dirinya masih kurang. Sehingga tidak ada yang bisa mencegahnya jika ia ingin bermaksiat. Ia tidak merasakan kehadiran Allah yang Maha Menyaksikan segala perbuatannya.

Dalam berihsan, Nabi Yusuf telah memperlihatkan sebuah teladan yang nyata. Pada masa pergolakan jiwa mudanya yang masih lajang dan mencari jati diri, ia sudah dihadapkan pada ujian maha berat. Tak banyak orang yang bisa selamat dari godaan maut tersebut. Namun, ia tidak membohongi dirinya. Secara jujur ia membaca "tanda" sebagai pesan Allah bagi dirinya. Ia menghadirkan Allah sebagai Tuhan yang Maha Melihat dan Menyaksikan segala perbuatannya. Sikap ihsan inilah yang bisa menyelamatkan manusia, sebagaimana ia telah menyelamatkan Yusuf dari godaan maha dahsyat itu.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA 



Ruh Agama Islam Terdapat Pada Rukun ?

Rukun Agama Islam Ada Tiga 

Rukun Islam, 5 Rukun Iman 6 Rukun Ihsan 1 Defenisi.

Islam => Fiqih, bahas hukum syariat

Iman =>Aqidah

Ihsan = Ahlak/Tasawuf

Ahlak atau Adab Lebih Tinggi Daripada Ilmu, dalam hadis Rasulullah SAW. Sebagai mana Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Tasawuf adalah orang-orang Yang Mengamalkan Ilmu Tasawuf Dinamakan Tarekat dalam Rukun Ihsan sedangkan yang tidak Mengamalkan bukan tergolong pengamal Tasawuf tapi pengkaji Ilmu Tasawuf di namakan orang Syariatbyang mengkaji Olmu Tasawuf tapi tidak pernah praktek 

Ihsan atau Tasawuf Adalah Ruhnya Agama Islam.

Dalam Rukun Islam Adalah Tubuh, 

Rukun Iman Adalah Akal Untuk Beriqtikad

Rukun Ihsan Adalah Ruh Diri Asal manusia Yang Fitrah, Qolbu atau Mata Nurani dalam bahasa umum adalah hati, namun bukan hati atau jantung yang materi tapi immateri abstrak ghaib qolbu sanubari terdalam inti dari Ruh manusia untuk merasa melihat seolah-olah melihat Allah dan merasakan diawasi Allah untuk (Qolbu berdzikir)

Dengan berdzikir merasa bersama Allah dan Allah bersama orang-orang yang mengingatnya ( berdzikir kepadanya ( ingatan dalam hati menyebut nama--Nya)

Puncak dari Ilmu adalah Adab dan rendah hati 

Puncak dari ibadah adalah banyak mengingat Allah dzikir yang terdapat dalam Rukun Ihsan.

Cara membersihkan hati adalah dengan bedzikir sebanyak-banyaknya baik dalam keadaan berdiri duduk dan berbaring seperti firman Allah tidak memandang waktu dan tempat.

Simak Vide Penjelasan Ahlak dalam Rukun Ihsan Oleh KH Zezen Zaenal Abidin & Ustadz  Abdul Somad https://youtu.be/ulG0P52jOME 


Jika Mengikuti Kebanyakan Orang.

Agama Islam Terdiri Dari 3 Pilar : Islam, Iman Ihsan Tasawuf Tanpa Tarekat https://youtu.be/ulG0P52jOME 

1. Islam : Fiqih => Jasad => Hukum.

2. Iman : Aqidah => Akal = Iqtikad.

3. Ihsan : Akhlak/Tasawuf => Ruh = Dzikrullah

*Sesungguhnya Rasulullah Diutus untuk menyempurnakan Akhlak manusia*

Sesungguhnya Adab lebih tinggi daripada Ilmu. (Hadist)

Pelajaran Ahlak atau Tasawuf dalam rukun agama yang ketiga Ihsan yang berarti ( baik), Hakikat rukun Ihsan adalah Tarekat yang berarti jalan, jalan menempuh melakukan mengamalkan Ilmu Tasawuf, perjalanan menuju Allah, mempelajari Tasawuf tanpa memasuki tarekat adalah tetap berada para maqom Ilmu Syari'at mengetahui Ilmu Tasawuf tapi tidak mengamalkan Ilmu Tasawuf, bukan berarti pengamal Tasawuf.

" Fiqih Tauhid Tasawuf selagi dia di tanah Ilmu dinamakan Syari'at

Fiqih Tauhid Tasawuf jika Di amalkan dinamakan Tarekat dan menghasilkan Ma'rifat.

Defensi Tasawuf

" Ilmu untuk mengetahui keadaan qalbu baik dan buruk, serta upaya membersihkannya dan perjalanan menuju Allah " (Kitab Tanwirul Qulub).

Tau sifat-sifat dalam qolbu sifat-sifat baiknya (mahmudnya) atau sifat-sifat buruknya (mazmumnya)

Tau Cara membersihkannya ( Wakagiyatud tadhiriha) seperti Tidak boleh sombong, iri, dengki, dendam, pemaaf dll.

Mengadakan Perjalanan. (Suluk) melakukan perjalanan ruh menuju Allah, (WasairuIllah).

Masdharu asarillah. ( KH. Zezen Zaenal Abidin, Mantan Ro'is Aam MUI Jabar).

Kesimpulan : Tasawuf Adalah Tarekat (Sufi)

Ilmu rukun Ihsan ahlak adalah Ilmu Tasawuf yang menenempuh jalan Tarekat yang di tuntun seorang guru ruhani sebagai wasilah kepada Allah, atau menyambungkan ruh kita kepada Rasulullah SAW.

" Dan jika kamu mengikuti KEBANYAKAN orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya PERSANGKAAN BELAKA... (QS. Al-An'am : 116).

Ahlusunnah Aswaja Adalah :Fiqih, Aqidah & Sufi.

1. Fiqih = > Imam Syafi'i 2. Aqidah => Abu Hasan Al Asy'ari, 3. Tasawuf => Imam Ghazali - 

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, cara terbaik untuk meraih muqarabah Merasa dilihat Allah ( dzikir) itu semua ialah dengan MENCARI GURU ROHANI yang akan membawa HATI HIDUP. Inilah yang akan menyelamatkan seseorang di AKHIRAT. ( Kitab Sirrul Asror) Rahasia Tauhid.

Ceramah : KH Zezen Zaenal Abidin https://youtu.be/oFheBzfJ7GQ

Ustadz Abdul Somad Lc Ma. https://youtu.be/t0DdNaxAkEs

Lanjutan Penjelasan KH Buya Yahya Rois Aam PBNU https://youtu.be/-kR9nPllnUU 

Wajibnya Mencari Guru Mursyid https://youtu.be/C7SIRLvDeF0 ...





Jumat, Juli 23

KAMU DAN AKU SEORANG YANG KOTOR

 


CAHAYO CAHAYA DIATAS CAHAYA BERLAPIS-LAPIS

CAHAYO IGINJANG CAHAYO MARLAPIS-LAPIS

" Nurun Ala Nurun"
نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ
CAHAYA DIATAS CAHAYA (BERLAPIS-LAPIS)
(QS. Cahaya (Allah )35)


Perumpamaan Allah Subhanahu Wata'ala!


وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِيْ هٰذَا الْقُرْاٰنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَۚ

" Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam *PERUMPAMAAN* supaya mereka dapat pelajaran (QS.39:27)

" Di Dalam setiap rongga anak Adam, aku ciptakan suatu mahligai yang disebut dada,dalam dada ada Qolbu, didalam qolbu ada fuad, didalam fuad ada syagofa, didalam syagofa ada siir, didalam siir ada Aku " (Hadist Qudsi)

Surah An Nur (Cahaya) 24:35 Cahaya Allah Cahaya Diatas Cahaya Berlapis-lapis (Al Misbah) Pelita Besar Tidak Di Timur Tidak Di Barat.

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

" Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. An-Nur Cahaya Allah 35)

" Dan BERPEGANG TEGUHLAH kamu semuanya pada tali (agama) Allah, { LAA ILAHA ILLALLAH } dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat PETUNJUK.[QS.Ali Imran 103] .

" Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." [ QS.AZ Zumar 22].

Hanya Allah Yang Mau Di Tuju. Allah Do Tujuan https://backtocreator.blogspot.com/2021/07/allah-do-na-ita-tuju-ya-mashuud-dalam.html

Taq : #Abah #ANOM #TQNNEWS #PP_Suryalaya #Hamba Allah #CatatanUntukDiriku ##tasawuf #cinta #165 #RukunIhsan #Cahayaqolbu #ihsan #catatanjarakjauh #tqn #Al_Ikhlas