Sesungguhnya merasa dilihat Allah adalah ingat kepada Allah qalbu menyebut Allah (Muraqabah) di sebut dzikir, ini adalah merupakan inti dari segala ibadah-ibadah sesuai tujuan di ciptakan-Nya jin dan manusia untuk beribadah, ibadah dzikir ma'rifat akan Allah dalam surah ( Ad Dzariyat 56) وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
" Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS.Ad- Zaariyat 52: 56).
* ) Mengabdi, Beribadah, Ma'rifatullah, itulah tugas hamba mengabdi dalam seluruh hidupnya dan dzikir itu mampu mengikat diri ke Allah
Sebagaimana rukun agama yang tiga dalam hadis Jibril
1. Rukun ISLAM, Syari'at ==>Jasad
2. Rukun IMAN, Aqidah ==> Akal
3. Rukun IHSAN Akhlak,Tasawuf Taharekat == >> Ruh, dimana ruh makanannya dzikrullah.
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. QS. Ad Zaariyat 55).
Pada saat malaikat Jibril memperkenalkan agama Islam kepada para sahabat melalui Rasulullah SAW. sesudah menjelaskan Tentang Islam dan Iman.
Kemudian Ia (Jibril) berkata: Beritahukan kepadaku apakah Ihsan itu? Nabi bersabda:
قلﷺ أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك
( Ihsan ialah) " Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya. Jika engkau tidak bisa melihatnya, sesungguhnya Ia melihatmu (HR Muslim )
*) Seolah-olah melihat Allah = Ma'rifatullah (Taqarrub Ilallah)
*) Sesungguhnya Ia melihatmu = Qolbu inti ruhani manusia, merasa selalu diawasi Allah ( muraqabah) sepanjang hayat, ibadah sepanjang hayat apabila hatinya telah hidup oleh bimbingan seorang guru ahlinya dan ia dimanapun selalu merasa bersama Allah.
Sebagaimana Allah SWT : "Sesungguhnya aku hadapkan wajahku (qalbu mata batin) kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepatuhan." (Al-An'aam 79).
Kemana pun engkau ( mata batinmu) menghadap, di situlah wajah Allah (QS Al-Baqarah: 115).
Dan Dia Maha Menyaksikan segala sesuatu (QS Saba’: 47). " Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan (QS Al-Buruj: 3).
Dialah yang Maha Awal dan Maha Akhir, Maha Lahir dan Maha Batin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS Al-Hadid: 3).
Hal ini menunjukkan bahwa sebuah kedekatan atau taqarrub sampai-sampai seakan-akan melihatNya, adalah akibat dari kesadaran kuat bahwa "Dialah yang melihat kita." Kesadaran jiwa bahwa Allah SWT melihat kita terus menerus, menimbulkan pantulan pada diri kita, yang membukakan mata hati kita dan sirr ( rahasia) kita untuk memandangNya.
Sebagaimana firman Allah : " Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu ". (QS. An-Nisa 1).
Allah menjaga karena kamu ingat Allah, dzikrullah. Allah mengawasi karena kamu ingat Allah, dzikrullah.
" dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) yang berkata "Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan. (QS. Al-Anfal 8: 21).
" Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.(QS. Al-Anfal 8:27).
Penjelasan : Ihsan itu adalah Kemampuan qalbumu melihat Allah. Kata lain (Ma'rifat)
Terbukanya penghalang qolbu, qolbu bukan hati daging fisik, qolbu yang benar adalah (qolbu Abstarak ghaib ) bashirah mata batin qolbu adalah pusat inti Ruh manusia.
Qolbu abstrak furqon mata batin Inti ruh diri, ruh qudsi yang bersih qalbun salim dimaknai sebagai hati yang bersih dari unsur-unsur kemusyrikan, baik yang nyata ( syrik jaliy /besar) maupun yang samar (syrik khafi/tersembunyi).
Sehingga ia tidak pernah lupa 'ikatan primordialnya' untuk selalu menuhankan Allah dan menyembah, beribadah, berma'rifat hanya kepada-Nya. Di samping itu, ia selalu condong (hanif, lurus ) kepada kebenaran, kebaikan, dan keluhuran budi pekerti (akhlaq al-karimah)
Tidak akan baik sebuah kalbu kecuali apabila menetap padanya ma’rifatullah ma'rifat Dzat (mengenal Dzat Allah ‘azza wa jalla ), Kemampuan Qalbumu Melihat Allah (Ma'rifat) Terbukanya Penghalang Qolbu, mengetahui keagungan-Nya, cinta dan takut kepada-Nya, berharap dan tawakal kepada-Nya.
Inilah hakikat Tauhid yang merupakan makna "La ilaha illallah". Tidak ada kebaikan bagi kalbu kecuali saat menjadikan Allah Yang Maha Esa sebagai sesembahan yang diibadahi, yang dicintai, dan ditakuti, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Ibnu Athaillah menggambarkan secara bijak: "Alam semesta ini gelap, dan sebenarnya menjadi terang karena dicahayai Allah di dalamnya. Karena itu siapa yang melihat semesta, namun tidak menyaksikan Allah di dalamnya, atau di sisinya, atau sebelum dan sesudahnya, benar-benar ia telah dikaburkan dari wujud Cahaya, dan tertutup dari matahari ma'rifat oleh mendung-mendung duniawi semesta."
Kontemplasi demi kontemplasi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid yang Kamil Mukammil hanya akan menggapai kebuntuan jalan dalam praktek Muroqobah, Musyahadah maupun Ma'rifah.
Dikatakan demikian manakala jiwa itu bagaikan teman yang berkhianat, karena itu (ihsan) tiada jalan untuk membiarkannya barang sekejappun, agar jiwa tidak berhianat karena ia dapat menghancurkan modal (amal-amal baik) bahkan meraih keuntungan, untuk itu diperlukan adanya pengawasan secara terus menerus di setiap gerakan baik dalam diamnya sekalipun dan setiap detiknya.
Rasulullah SAW bersabda:" Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran besar. Lantas sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah? Rasul menjawab, “jihad (memerangi) hawa nafsu.”
💦 " Jihad batin lebih berat dari jihad dzahir, karena jihad batin adalah satu jihad yang terus menerus yang bertujuan memutus semua kehendak dan dorongan hawa nafsu, untuk melakukan perkara-perkara yang terlarang serta mengekang keinginan terhadapnya ". [ Syekh Abdul Qadir Jaelani ].
Bagi mereka yang dicahayai oleh Allah maka digambarkan oleh Ibnu Athaillah dalam al-Hikam:
"Telah terpancar cahayanya dan jelaslah kegembiraanya, lalu ia pejamkan matanya dari dunia dan berpaling darinya, sama sekali dunia bukan tempat tinggal dan bukan tempat ketentraman. Namun ia jiwanya bangkit di dalam dunia itu, semata menuju Allah Ta'ala, berjalan di dalamnya sembari memohon pertolongan dari Allah untuk datang kepada Allah.
Allah berfirman :
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Innani annallohu la ilaha illa anaa fakbuduni wa aqimissholata *li dzikryy "*
" Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah Sholat *untuk berdzikir kepada-Ku* .[ QS.Taha 14].
"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang *LALAI* dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan menolong dengan barang berguna."(QS Al- maun, 4-6).
فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ
" Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu, *berdzikir lah kepada Allah* di *WAKTU BERDIRI, di WAKTU DUDUK dan di BERBARING*...(QS.An-Nisa’ 103)
Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
" Sungguh telah ada pada " (Diri) Rasulullah itu *suri Tauladan Yang Baik Bagimu* (yaitu) bagi orang yang *MENGHARAP (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia BANYAK BERDZIKIR kepada ALLAH* ( QS. Al-Ahzab 33: 21).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. *Aku BERSAMANYA KETIKA IA MENGINGAT-KU. Jika ia MENGINGAT-KU SAAT SENDIRIAN, AKU akan mengingatnya DALAM DIRI-KU*. .. (Hadist Qudsi)
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19) 💤💤
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik [yaitu] Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan *hati mereka di waktu mengingat (berdzikir) Allah*. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (Q.S. Az-Zumar Rombongan-rombongan 39: 23).
Allah Subhanahu Wata'ala Berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
" Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah Wasilah, (jalan perantara) Yang menyampaikanmu kepada Allah dan berjihadlah ( diantaranya jihad batin melawan hawa nafsu) pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.( QS.Al Maidah 5: 35.)
Rasulullah SAW Bersabda :
عن دود عن ابن مسعود قال رسول الله ص م : كُنْ مَعَ اللهِ وَاِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَ اللهِ فَكُنْ مَعَ مَنْ كَانَ مَعَ اللهِ فَإِنَّهُ يُوْصِلُكَ اِلَى اللهِ
Artinya: “Sertakan dirimu kepada Allah, jika kamu belum dapat menyertakan dirimu kepada Allah, maka sertakanlah dirimu kepada orang yang telah beserta Allah, maka ia akan menyampaikan kepada kamu pengenalan kepada Allah.” (H.R. Abu Dawud)
Berdasarkan keterangan Hadits di atas bahwa kita harus menyertakan diri kepada orang yang beserta Allah, artinya kita harus belajar secara langsung kepada orang yang telah dapat serta Allah yang lazim disebut mursyid atau guru atau Syekh. Maka tidaklah berlebihan jika Abu Yazid al-Busthami berpendapat bahwa: ”Barang siapa yang menuntut ilmu tanpa berguru, maka syetan gurunya”, pendapat tersebut didasarkan pada Hadits Nabi Saw:
مَنْ لاَشَيْخٌ مُرْشِدٌ لَهُ فَمُرْشِدُهُ الشَّيْطَانُ
Artinya: “Barangsiapa yang tiada Syekh Mursyid (guru) yang memimpinnya ke jalan Allah, maka syetanlah yang menjadi gurunya”.
Karena pentingnya mursyid ini, seorang ulama tabi’in, Muhammad bin Sirin rahimahullah mengatakan:
إِنَّ هَذَا العِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Karena itu, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Riwayat Muslim).
" Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus 10:62)
مَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ *وَلِيًّا مُّرْشِدًا*
... man yahdillahu fahuwal muhtadi waman yudhlil falan tajida lahu *walii-yan mursyidan;*
Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong Wali Mursyid yang dapat memberi petunjuk kepadanya*.(QS. Al- Kahfi 18 :17)
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, cara terbaik untuk meraih muqarabah Merasa dilihat Allah ( dzikir) itu semua ialah dengan MENCARI GURU ROHANI yang akan membawa HATI HIDUP. Inilah yang akan menyelamatkan seseorang di AKHIRAT. Wajib Mencari Guru Mursyid https://youtu.be/C7SIRLvDeF0
Firman Allah dalam Al Qur’an
وَّدُوْنَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ وَاذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَلَا تَكُنْ مِّنَ الْغٰفِلِيْنَ بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ
" Dan sebutlah (Allah) dalam hatimu (Siir Rahasia, dzikir kofi, tersembunyi ) dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang LALAI. (QS.7 Tempat Tertinggi :205).
Siapa yang tau cara berdzikirnya dan banyaknya berapa dan bagaimana ? Selain daripada berguru kepada ahli qolbu ahli ruh guru rohani yang sudah bersih qolbunya !
“ Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di PAGI dan SENJA hari dengan mengharap keridhaan-Nya,( .💦..)dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang HATINYA telah Kami *LALAIKAN* dari *MENGINGATI KAMI* serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Q.S. Al-Kahfi 18: 28).
(..💦.)[orang-orang yang menempuh jalan mengamalkan ilmu tasawuf yang mengadakan perjalanan menuju Allah, pengikut-pengikut jalan kerohanian sekelompok kecil dari manusia mereka jamaah rombongan atau orang-orang yang selalu mecari ridho Allah dan mereka adalah jamaah yang di tuntun banyak mengingat Allah punya kontrol diri, ahli dzikir baik dzikir zahar bersuara, atau kofi tersembunyi siir dalam hati yang mengamalkan rukun agama ke tiga hakikat rukun ihsan]
Apakah Ilmu Tasawuf bukan bagian dari Agama Islam Sehingga kita boleh Abaikan? https://backtocreator.blogspot.com/2021/08/apakah-ilmu-tasawuf-bukan-bagian-dari.html






