Laman

Sabtu, Agustus 13

Cara Bertaubat dari Ghibah

Cara bertaubat dari Ghibah

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah orang yang telah berbuat ghibah tidak harus mengumumkan taubatnya. Cukup baginya memintakan ampun bagi orang yang dighibahi dan menyebutkan segala kebaikannya di tempat-tempat mana dia mengghibahinya. Pendapat ini yang dikuatkan oleh Ummu Abdillah Al-Wadi’iyyah dalam kitabnya Nashihati lin Nisa’ (hal. 31).

Haruskah Meminta Maaf kepada Orang yang Dighibahi?

Dalam permasalahan ini, perlu dirinci:

Pertama, bila orang tersebut mendengar ghibahnya, maka dia harus datang kepada orang tersebut meminta kehalalannya (minta maaf).

Kedua, jika orang tersebut tidak mendengar ghibahnya maka cukup baginya menyebutkan kebaikan-kebaikannya dan mencabut diri darinya di tempat ia berbuat ghibah.

Al-Qahthani dalam kitab Nuniyyah beliau (hal. 39) menasihati kita:

“Janganlah kamu sibuk dengan aib saudaramu dan lalai dari aib dirimu, sesungguhnya yang demikian itu adalah dua keaiban. ” Wallahu a’lam.

Kapan Boleh Mengghibah ?

Kapan Boleh Mengghibah ?

Al-Imam An-Nawawi berkata: “Ghibah dibolehkan dengan tujuan syariat yang tidak mungkin mencapai tujuan tersebut melainkan dengannya.”

Dibolehkah ghibah pada enam perkara:

1. Ketika terdzalimi (dianiaya).

2. Meminta bantuan untuk menghilangkan kemungkaran.

3. Meminta fatwa.

4. Memperingatkan kaum muslimin dari sebuah kejahatan atau untuk menasihati mereka.

5. Ketika seseorang menampakkan kefasikannya.

6. Memanggil seseorang yang dia terkenal dengan nama itu.

(Riyadhus Shalihin, bab “Apa-apa yang diperbolehkan untuk Ghibah”)

Cara bertaubat dari ghibah klik DISINI

Curhat di media sosial




Hanya Allah tempat terbaik untuk curhat, tetapi sungguh tidak bisa kita pungkiri tidak jarang fenomena zaman sekarang banyak kita temukan di dunia maya orang - orang curhat kepada orang lain dibarengi dengan tetesan air mata bahkan berujung kepada obrolan phone hingga disusupi oleh syetan yang lihai dalam memanfaatkan situasi pada akhirnya bisa mengurangi keharmonisan dalam rumah tangga.

Curhat ?
Tanpa disadari sering sekarang kita dengar dengan istilah Curhat yang intinya mengemukakan masalah-masalah pribadi dan masalah keluarganya kepada orang lain atau teman yang kita percayai. Masalah-masalah pribadi yang tercurhat tidak lain membuka aib keluarga sendiri dan keluarga  sehingga tidak terlepas membicarakan orang pihak ketiga, baik teman, sahabat, suami, mertua, keluarga, tetangga yang akhirnya buah curhat berakhir ghibah yaitu mengunjing, membicarakan suaminya atau orang lain.
Contoh : Contoh  sebagian kecil curhat yang bermaksiat seorang istiri pada suaminya.

Seorang istri orang lain lagi curhat
Cewek  : Grimis doang sih mah

Cowok : lama" basah dehh

Cewek : apanya yang basah mas tapi jangan ngaur ya..

Cowok : Itunyaa

Cewek : Gak apa" basah dikit lah
Udah segitu aja sy takut mas gak kuat.

Cowok : Masih kuat jiee

Ghibah
Ghibah atau membicarakan orang lain (bisa juga diistilahkan dengan ngerumpi) adalah aktivitas yang ‘MENGASYIKKAN’. Tak sedikit orang, yang secara sadar atau tidak, terjatuh dalam perbuatan ini. Karena memang SYETAN telah menghiasi perbuatan ini sehingga nampak indah dan menyenangkan. Tahukah anda bahwa Allah mengibaratkan ghibah dengan perbuatan memakan daging saudara kita yang telah mati?

Bani Adam adalah makhluk yang lemah, serba kekurangan, dan menjadi tempat kesalahan. Demikianlah fakta yang akan dijumpai bila setiap orang jujur akan hakikat dirinya. Ia lemah dari semua sisi: tubuhnya, semangatnya, keinginannya, imannya, dan lemah #kesabarannya. Dengan keadaan seperti ini, Allah dengan kemaha bijaksanaan-Nya memberikan beban syariat sesuai dengan kesanggupannya. Demikian yang dikatakan Asy-Syaikh Sa’di dalam Tafsir-nya.

Terkadang kelemahan ini menyebabkan seseorang terjatuh ke dalam perbuatan dosa sekali lagi perbuatan dosa dan maksiat yaitu batin terhadap suaminya atau orang yang digunjing tersebut. Mendzalimi diri sendiri, orang lain, bahkan mendzalimi Allah.
Keadaan demikian banyak terjadi pada manusia khususnya yang tidak mendapat hidayah dan rahmat dari Allah. Allah Subhanahu wa ta’ala. berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. Dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab: 72)

Banyak sekali faktor yang mendorong manusia untuk berbuat kesalahan atau kemaksiatan. Terkadang dorongan itu datang dari dalam diri sendiri dan terkadang dari luar. Berbahagialah orang yang mengerti kelemahan dirinya.

Abu Ad-Darda berkata: “Termasuk wujud ilmunya seorang hamba adalah dia mengetahui imannya bertambah atau berkurang. Dan termasuk dari barakah ilmunya seorang hamba adalah dia mengetahui darimana syetan akan menggelincirkannya.” (Asbab Ziyadatul Iman, hal. 10)

Salah satu bagian tubuh yang paling mudah menjerumuskan manusia ke dalam kemaksiatan adalah lisan. Sungguh betapa ringan lisan ini digerakkan untuk bermaksiat kepada Allah. Serta betapa berat untuk diajak berdzikir kepada Allah. Demikan hakikat lisan sebagaimana ucapan Abu Hatim: “Lisan memiliki peraba tersendiri yang tidak hanya digunakan untuk mengetahui asin atau tidaknya makanan dan minuman, atau panas dan dingin, atau manis dan pahit. Lisan sangat tanggap apabila telinga mendengar sebuah berita, baik atau buruk dan benar atau salah. Dan sangat tanggap pula bila mata melihat suatu kejadian, baik atau buruk. Lisan dengan mudahnya bercerita dengan mengumbar apa saja yang menyentuhnya. Ingatlah, lidah itu tak bertulang.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah z)

Namun bukan berarti engkau diam dari suatu kemungkaran dan diam untuk mengucapkan kebenaran. “Setan bisu” itulah gelar dan panggilan seseorang yang diam dari kemungkaran dan tidak mau menyuarakan kebenaran.

Makna Ghibah

Tidak ada penafsiran terbaik tentang makna ghibah selain penafsiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam hadits beliau. Bila ada penafsiran para ulama tentang ghibah maka tidak akan terlepas dari penafsiran beliau meski dengan ungkapan yang berbeda. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam sudah menjelaskan makna ghibah ini dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah zbahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

“Tahukah kalian apa yang dimaksud dengan ghibah?” Mereka berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “Kamu menceritakan tentang saudaramu apa yang dia tidak sukai.” Dikatakan kepada beliau: “Bagaimana pendapat engkau bila apa yang aku katakan ada pada saudaraku itu?” Beliau menjawab: “Jika apa yang kamu katakan ada pada saudaramu maka kamu telah mengghibahinya, dan jika apa yang kamu katakan tidak ada pada dirinya, maka kamu telah berdusta.”(Shahih, HR. Muslim no. 2589, Abu Dawud no. 4874, dan At-Tirmidzi no. 1435)

Ghibah adalah Dosa Besar

Dari keterangan di atas, diambil kesimpulan bahwa makna ghibah adalah menceritakan seseorang kepada orang lain, apakah kamu termasuk ? dan orang yang dijadikan objek pembicaraan tidak menyukai apa yang dibicarakan. Bila apa yang diceritakan tidak ada pada orang tersebut, ini merupakan dusta atas namanya dan tentu saja dosanya lebih besar dari yang pertama.

Ibnu Katsir mengatakan: “Ghibah adalah haram secara ijma’ dan tidak dikecualikan (boleh dilakukan) melainkan (dalam hal yang) maslahatnya lebih kuat, seperti dalam jarh dan ta’dil (menerangkan perawi hadits) dan nasehat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika seseorang yang jahat meminta izin kepada beliau untuk bertemu beliau, maka beliau berkata : ‘Izinkan dia, sesungguhnya dia adalah orang yang paling jelek di kaumnya.’ Juga seperti sabda beliau kepada Fathimah binti Qais saat dipinang oleh Mu’awiyah dan Abu Jahm. (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam mengabarkan) bahwa Mu’awiyah adalah orang yang sangat miskin dan Abu Jahm adalah orang yang tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/215)

Ghibah jelas perbuatan terlarang. Bahkan ia termasuk perbuatan dosa besar. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat: 12)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian adalah haram seperti haramnya hari kalian ini, bulan kalian ini, dan negeri kalian ini.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Bakrah)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Ketika saya dibawa naik, saya melewati suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga yang dengannya mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka. Aku bertanya:’Hai Jibril, siapakah mereka?’ Jibril menjawab: ‘Mereka adalah kaum yang telah memakan daging orang lain dan menginjak-injak kehormatan mereka’.” (HR. Abu Dawud no. 4878 dari shahabat Anas bin Malik dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 4082 dan dalam Ash-Shahihah no. 533)

Masih banyak dalil-dalil yang menjelaskan tentang keharaman ghibah dan bahwa ghibah termasuk dosa besar.

Baca juga disini, Kapan boleh mengghibah ?

Sabtu, Agustus 6

Back, Sahabat dan masa lalu yang kelam bagi Inneke Koesherawati


Tak banyak yang tahu apalagi anak sekarang, masa kelam Inneke Koesherawati adalah artis hot tahun 1990 an. Sosok Inneke dulunya dikenal sebagai model dewasa yang kerap berpose menantang. Bukan hanya itu, Inne juga sering tampil di majalah dewasa dengan pakaian hot hampir tela**ang b*gil. Namun, bagaimana perubahan Inne saat ini? Ia bukan hanya enak di pandang tapi juga cantik sangat mempesona. Namun ia menjemput hidatah Inne mrnemukan hakikat hidup ia memutuskan bertaubat dan mendekatkan diri kembali kepada jalan hidup yang bahagia yang ditunjuki oleh sang pencipta Alloh Azza wajalla. Pun sudah lebih religius, penulis yakin jika inne melihat pose - posenya masalalu maka ia seakan menyesal ingin kembali memutar waktu bahwa ia sadar akan kekeliruannya yang luar biasa pada masa itu.

Sahabat erat inneke. Arti Sahabat Sejati Bagi Inneke dan Marini Zumarnis.

Persahabatan merupakan ikatan yang bisa membawa setiap orang menuju perubahan dimana adanya dukungan satu dengan yang lain. Itu juga yang tampaknya dirasakan oleh sahabatnya Marini Zumarnis dan Inneke Koesherawati.

Persahabatan mereka sejak belum menikah hingga punya anak memberikan banyak pengalaman berharga hingga tujuan akhir mereka tidak saja menjadi sahabat di dunia tetapi sahabat sampai Syurga. Karena calon penghuni surga itu yang mengikuti perintah Alloh yaitu berhijab secara Syar'i.

Berbagai potret kebahagiaan dua sahabat ini sering mereka unggah di akun instagramnya. Tidak hanya sekedar potret kebahagiaan, kedekataan tetapi juga mereka sering saling menulis berbagai untaian indah tentang persahabatan mereka, saling memotivasi, saling berbagi ilmu dan hal -hal lainnya.

Dua perempuan yang kini juga telah berhijab juga saling bekerjasama memberikan inspirasi bagi muslimah lain dalam berhijab. Karena berhijab tidak menunggu - nunggu.

Bagi Ambassador Wardah Cosmetic, Inneke Koesherawati semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkanya dan hanya sahabat yang berhati mulia membawa kita ke jalan Allah.

” Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkanya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati  sahabatnya. Sahabat yang beriman ibarat mentari yang mennyinar. Sahabat setia bagai pewangi yang mengharumkan. Sahabat sejati menjadi pendorong impian. Sahabat berhati mulia membawa kita ke jalan Allah,” tulis Inneke dalam akun instagramnya sambil mengunggah fotonya bersama sahabatnya Marini Zumarnis.

Sementara itu, bagi Marini Zumarnis bahwa sahabat sejati adalah sahabat yang selalu dihati.
“Sahabat sejati adalah sahabat yang selalu dihati dan selalu menyenangkan sahabatnya,” tulis Marini
Di lain waktu Inneke juga mengunggah foto dirinya dan Marini dengan berharap agar persahabatan mereka langgeng hingga akhir hayat.

“Itulah gunanya sahabat yang bisa mengajak kita dari yang jelek ke yang baik.Semoga persahabatan kita langgeng sampai akhir hayat, Aamiin,” tulis Inneke dalam lain kesempatan.
Bagaimana denganmu yang membaca dgn siapa kamu bersahabat ?

Sebagian penulis kutip dari www.chanelmuslim com