Laman

Minggu, Agustus 8

Perlunya Guru Rohani Jika Menjalankan Rukun Pokok Agama Islam

RUKUN AGAMA ISLAM ( ARKANUDDIN) TERDIRI DARI 3 RUKUN ( Hadist Jibril ) Adalah Keyakinan Pokok Ummat Islam.


Pentingnya Keberadaan Mursyid dalam Tarekat (1)

Hadist Jibril Keyakinan Pokok Utama Agama Islam. Islam Iman Ihsan

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata :

Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan berambut sangat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan ia letakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya. Selanjutnya ia berkata : “Ya Muhammad,

1. beritahulah aku tentang Islam.”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Islam adalah engkau bersaksi tidak ada yang berhak disembah dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; engkau menegakkan shalat; engkau menunaikan zakat; engkau berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,”. Lelaki itu berkata, “Engkau benar”, maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.

2. Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab, “Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malikat Nya, kitab-kitab Nya, para Rasul Nya, hari Akhir, dan engkau beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk”. Ia berkata, “Engkau benar”. Dia bertanya lagi: 

3. “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, yakinlah bahwa sesungguhnya Dia melihatmu.”. 

Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?”. Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”. Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”. Nabi menjawab, “Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju, miskin papa, serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”. Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun memendam hal tersebut beberapa lama, hingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai Umar, tahukah engkau, siapa yang beberapa waktu lalu bertanya itu ?”. Aku menjawab, “Allah dan RasulNya lebih mengetahui,”. Beliau bersabda, “Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.”. [HR Muslim]

Dalam hal Ilmu Fiqih/Syariah terdapat dalam --- Rukun Islam ---

Dalam hal ilmu Aqidah keyakinan terdapat dalam --- Rukun Iman ---

Dalam hal Ilmu ahlak/adab/tasawuf terdapat dalam --- Rukun Ihsan ---- 
Untuk menerapkan ilmu tasawuf jalan pengamalannya adalah Tharekat dengan bimbingan guru ruhani.

Ketiganya Keyakinan Pokok Ummat Islam.

Dalam Rukun Islam Kita belajar Imu Fiqih
Dalam Rukun Iman Kita belajar Ilmu Aqidah 
Sedangkan dalam Rukun Ihsan kita belajar Imu Ahlak atau adab, bagian batin ruhani belajar Ilmu Ahlak adalah belajar Ilmu Tasawuf, Dalam Tasawuf Kita Belajar Mensucikan diri praktek di dalam mensucikan diri kita butuh pembimbing guru yang berkaitan dengan Ilmu ruhani jalan yang mengetahui caranya.

Defenisi Tasawuf - ada 3
1. Imu untuk mengetahui keadaan qobu baik dan buruknya
2. berupaya membersihkannya
3. Mengadakan perjalanan menuju Allah ( Tanwirul Qulub).

Siapa orang yang tak memerlukan seorang penunjuk jalan kalau kita tidak kenal jalan dalam mengarungi perjalanan yang belum kita kenal?

Ali al Khawas berkata dalam syairnya,

Jangan menempuh jalan yang tidak engkau kenal tanpa penunjuk jalan,

Sehingga engkau terjerumus dalam jurang-jurangnya.


Inilahcom Jakarta |
Allah Swt. berfirman: "Barangsiapa mendapatkan kesesatan, maka ia tidak akan menemukan (dalah hidupnya) seorang wali yang mursyid" (Al-Quran Kahfi Surah Al-Kahfi 17 ).

Dalam tradisi tasawuf, peran seorang Mursyid (pembimbing atau guru ruhani) merupakan syarat mutlak untuk mencapai tahapan-tahapan puncak spiritual. Eksistensi dan fungsi Mursyid atau wilayah kemursyidan ini ditolak oleh sebagaian ulama yang anti tasawuf atau mereka yang memahami tasawuf dengan cara-cara individual.

Mereka merasa mampu menembus jalan ruhani yang penuh dengan rahasia menurut metode dan cara mereka sendiri, bahkan dengan mengandalkan pengetahuan yang selama ini mereka dapatkan dari ajaran Al-Quran dan Sunnah. Namun karena pemahaman terhadap kedua sumber ajaran tersebut terbatas, mereka mengklaim bahwa dunia tasawuf bisa ditempuh tanpa bimbingan seorang Mursyid.

Pandangan demikian hanya layak secara teoritis belaka. Tetapi dalam praktek sufisme, hampir bisa dipastikan, bahwa mereka hanya meraih kegagalan spiritual. Bukti-bukti historis akan kegagalan spiritual tersebut telah dibuktikan oleh para ulama sendiri yang mencoba menempuh jalan sufi tanpa menggunakan bimbingan Mursyid. Para ulama besar sufi, yang semula menolak tasawuf, seperti Ibnu Athaillah as-Sakandari, Sulthanul Ulama Izzuddin Ibnu Abdis Salam, Syeikh Abdul Wahab asy-Syarani, dan Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali akhirnya harus menyerah pada pengembaraannya sendiri, bahwa dalam proses menuju kepada Allah tetap membutuhkan seorang Mursyid.

Masing-masing ulama besar tersebut memberikan kesaksian, bahwa seorang dengan kehebatan ilmu agamanya, tidak akan mampu menempuh jalan sufi, kecuali atas bimbingan seorang Syekh atau Mursyid. Sebab dunia pengetahuan agama, seluas apa pun, hanyalah "dunia ilmu", yang hakikatnya lahir dari amaliah. Sementara, yang diserap dari ilmu adalah produk dari amaliah ulama yang telah dibukakan jalan marifat itu sendiri.

Jalan marifat itu tidak bisa begitu saja ditempuh begitu saja dengan mengandalkan pengetahuan akal rasional, kecuali hanya akan meraih Ilmul Yaqin belaka, belum sampai pada tahap Haqqul Yaqin. Alhasil mereka yang merasa sudah sampai kepada Allah (wushul) tanpa bimbingan seorang Mursyid, wushul-nya bisa dikategorikan sebagai wushul yang penuh dengan tipudaya. Sebab, dalam alam metafisika sufisme, mereka yang menempuh jalan sufi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid, tidak akan mampu membedakan mana hawathif-hawathif (bisikan-bisikan lembut) yang datang dari Allah, dari malaikat atau dari syetan dan bahkan dari jin. Di sinilah jebakan-jebakan dan tipudaya penempuh jalan sufi muncul. Oleh sebab itu ada kalam sufi yang sangat terkenal: "Barangsiapa menempuh jalan Allah tanpa disertai seorang guru, maka gurunya adalah syetan".

Oleh sebab itu, seorang ulama sendiri, tetap membutuhkan seorang pembimbing ruhani, walaupun secara lahiriah pengetahuan yang dimiliki oleh sang ulama tadi lebih tinggi dibanding sang Mursyid. Tetapi, tentu saja, dalam soal-soal Ketuhanan, soal-soal bathiniyah, sang ulama tentu tidak menguasainya.

Sebagaimana ayat al-Quran di atas, seorang Syekh atau Mursyid Sufi, mesti memiliki prasyarat yang tidak ringan. Dari konteks ayat di atas menunjukkan bahwa kebutuhan akan bimbingan ruhani bagi mereka yang menempuh jalan sufi, seorang pembimbing ruhani mesti memiliki predikat seorang yang wali, dan seorang yang Mursyid. Dengan kata lain, seorang Mursyid yang bisa diandalkan adalah seorang Mursyid yang Kamil Mukammil, yaitu seorang yang telah mencapai keparipurnaan marifatullah sebagai Insan yang Kamil, sekaligus bisa memberikan bimbingan jalan keparipurnaan bagi para pengikut thariqatnya.

Tentu saja, untuk mencari model manusia paripurna setelah wafatnya Rasulullah saw. terutama hari ini, sangatlah sulit. Sebab ukuran-ukuran atau standarnya bukan lagi dengan menggunakan standar rasional-intelektual, atau standar-standar empirisme, seperti kemasyhuran, kehebatan-kehebatan atau pengetahuan-pengetahuan ensiklopedis misalnya. Bukan demikian. Tetapi, adalah penguasaan wilayah spiritual yang sangat luhur, dimana, logika-logikanya, hanya bisa dicapai dengan mukasyafah kalbu atau akal hati.

Karenanya, pada zaman ini, tidak jarang Mursyid Tarekat yang bermunculan, dengan mudah untuk menarik simpati massa, tetapi hakikatnya tidak memiliki standar sebagai seorang Mursyid yang wali sebagaimana di atas. Sehingga saat ini banyak Mursyid yang tidak memiliki derajat kewalian, lalu menyebarkan ajaran tarekatnya. Dalam banyak hal, akhirnya, proses tarekatnya banyak mengalami kendala yang luar biasa, dan akhirnya banyak yang berhenti di tengah jalan persimpangan.

Lalu siapakah Wali itu? Wali adalah kekasih Allah Swt. Mereka adalah para kekasih Allah yang senanatiasa total dalam thaat ubudiyahnya, dan tidak berkubang dalam kemaksiatan. Dalam al-Quran disebutkan: "Ingatlah, bahwa wali-wali Allah itu tidak pernah takut, juga tidak pernah susah."

Sebagian tanda dari kewalian adalah tidak adanya rasa takut sedikit pun yang terpancar dalam dirinya, tetapi juga tidak sedikit pun merasa gelisah atau susah. Para Wali ini pun memiliki hirarki spiritual yang cukup banyak, sesuai dengan tahap atau maqam dimana, mereka ditempatkan dalam Wilayah Ilahi di sana. Paduan antara kewalian dan kemursyidan inilah yang menjadi prasyarat bagi munculnya seorang Mursyid yang Kamil dan Mukammil di atas.