Laman

Minggu, Agustus 8

Perlunya Guru Rohani Jika Menjalankan Rukun Pokok Agama Islam

RUKUN AGAMA ISLAM ( ARKANUDDIN) TERDIRI DARI 3 RUKUN ( Hadist Jibril ) Adalah Keyakinan Pokok Ummat Islam.


Pentingnya Keberadaan Mursyid dalam Tarekat (1)

Hadist Jibril Keyakinan Pokok Utama Agama Islam. Islam Iman Ihsan

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata :

Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan berambut sangat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan ia letakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya. Selanjutnya ia berkata : “Ya Muhammad,

1. beritahulah aku tentang Islam.”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Islam adalah engkau bersaksi tidak ada yang berhak disembah dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; engkau menegakkan shalat; engkau menunaikan zakat; engkau berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,”. Lelaki itu berkata, “Engkau benar”, maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.

2. Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab, “Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malikat Nya, kitab-kitab Nya, para Rasul Nya, hari Akhir, dan engkau beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk”. Ia berkata, “Engkau benar”. Dia bertanya lagi: 

3. “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, yakinlah bahwa sesungguhnya Dia melihatmu.”. 

Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?”. Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”. Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”. Nabi menjawab, “Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju, miskin papa, serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”. Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun memendam hal tersebut beberapa lama, hingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai Umar, tahukah engkau, siapa yang beberapa waktu lalu bertanya itu ?”. Aku menjawab, “Allah dan RasulNya lebih mengetahui,”. Beliau bersabda, “Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.”. [HR Muslim]

Dalam hal Ilmu Fiqih/Syariah terdapat dalam --- Rukun Islam ---

Dalam hal ilmu Aqidah keyakinan terdapat dalam --- Rukun Iman ---

Dalam hal Ilmu ahlak/adab/tasawuf terdapat dalam --- Rukun Ihsan ---- 
Untuk menerapkan ilmu tasawuf jalan pengamalannya adalah Tharekat dengan bimbingan guru ruhani.

Ketiganya Keyakinan Pokok Ummat Islam.

Dalam Rukun Islam Kita belajar Imu Fiqih
Dalam Rukun Iman Kita belajar Ilmu Aqidah 
Sedangkan dalam Rukun Ihsan kita belajar Imu Ahlak atau adab, bagian batin ruhani belajar Ilmu Ahlak adalah belajar Ilmu Tasawuf, Dalam Tasawuf Kita Belajar Mensucikan diri praktek di dalam mensucikan diri kita butuh pembimbing guru yang berkaitan dengan Ilmu ruhani jalan yang mengetahui caranya.

Defenisi Tasawuf - ada 3
1. Imu untuk mengetahui keadaan qobu baik dan buruknya
2. berupaya membersihkannya
3. Mengadakan perjalanan menuju Allah ( Tanwirul Qulub).

Siapa orang yang tak memerlukan seorang penunjuk jalan kalau kita tidak kenal jalan dalam mengarungi perjalanan yang belum kita kenal?

Ali al Khawas berkata dalam syairnya,

Jangan menempuh jalan yang tidak engkau kenal tanpa penunjuk jalan,

Sehingga engkau terjerumus dalam jurang-jurangnya.


Inilahcom Jakarta |
Allah Swt. berfirman: "Barangsiapa mendapatkan kesesatan, maka ia tidak akan menemukan (dalah hidupnya) seorang wali yang mursyid" (Al-Quran Kahfi Surah Al-Kahfi 17 ).

Dalam tradisi tasawuf, peran seorang Mursyid (pembimbing atau guru ruhani) merupakan syarat mutlak untuk mencapai tahapan-tahapan puncak spiritual. Eksistensi dan fungsi Mursyid atau wilayah kemursyidan ini ditolak oleh sebagaian ulama yang anti tasawuf atau mereka yang memahami tasawuf dengan cara-cara individual.

Mereka merasa mampu menembus jalan ruhani yang penuh dengan rahasia menurut metode dan cara mereka sendiri, bahkan dengan mengandalkan pengetahuan yang selama ini mereka dapatkan dari ajaran Al-Quran dan Sunnah. Namun karena pemahaman terhadap kedua sumber ajaran tersebut terbatas, mereka mengklaim bahwa dunia tasawuf bisa ditempuh tanpa bimbingan seorang Mursyid.

Pandangan demikian hanya layak secara teoritis belaka. Tetapi dalam praktek sufisme, hampir bisa dipastikan, bahwa mereka hanya meraih kegagalan spiritual. Bukti-bukti historis akan kegagalan spiritual tersebut telah dibuktikan oleh para ulama sendiri yang mencoba menempuh jalan sufi tanpa menggunakan bimbingan Mursyid. Para ulama besar sufi, yang semula menolak tasawuf, seperti Ibnu Athaillah as-Sakandari, Sulthanul Ulama Izzuddin Ibnu Abdis Salam, Syeikh Abdul Wahab asy-Syarani, dan Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali akhirnya harus menyerah pada pengembaraannya sendiri, bahwa dalam proses menuju kepada Allah tetap membutuhkan seorang Mursyid.

Masing-masing ulama besar tersebut memberikan kesaksian, bahwa seorang dengan kehebatan ilmu agamanya, tidak akan mampu menempuh jalan sufi, kecuali atas bimbingan seorang Syekh atau Mursyid. Sebab dunia pengetahuan agama, seluas apa pun, hanyalah "dunia ilmu", yang hakikatnya lahir dari amaliah. Sementara, yang diserap dari ilmu adalah produk dari amaliah ulama yang telah dibukakan jalan marifat itu sendiri.

Jalan marifat itu tidak bisa begitu saja ditempuh begitu saja dengan mengandalkan pengetahuan akal rasional, kecuali hanya akan meraih Ilmul Yaqin belaka, belum sampai pada tahap Haqqul Yaqin. Alhasil mereka yang merasa sudah sampai kepada Allah (wushul) tanpa bimbingan seorang Mursyid, wushul-nya bisa dikategorikan sebagai wushul yang penuh dengan tipudaya. Sebab, dalam alam metafisika sufisme, mereka yang menempuh jalan sufi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid, tidak akan mampu membedakan mana hawathif-hawathif (bisikan-bisikan lembut) yang datang dari Allah, dari malaikat atau dari syetan dan bahkan dari jin. Di sinilah jebakan-jebakan dan tipudaya penempuh jalan sufi muncul. Oleh sebab itu ada kalam sufi yang sangat terkenal: "Barangsiapa menempuh jalan Allah tanpa disertai seorang guru, maka gurunya adalah syetan".

Oleh sebab itu, seorang ulama sendiri, tetap membutuhkan seorang pembimbing ruhani, walaupun secara lahiriah pengetahuan yang dimiliki oleh sang ulama tadi lebih tinggi dibanding sang Mursyid. Tetapi, tentu saja, dalam soal-soal Ketuhanan, soal-soal bathiniyah, sang ulama tentu tidak menguasainya.

Sebagaimana ayat al-Quran di atas, seorang Syekh atau Mursyid Sufi, mesti memiliki prasyarat yang tidak ringan. Dari konteks ayat di atas menunjukkan bahwa kebutuhan akan bimbingan ruhani bagi mereka yang menempuh jalan sufi, seorang pembimbing ruhani mesti memiliki predikat seorang yang wali, dan seorang yang Mursyid. Dengan kata lain, seorang Mursyid yang bisa diandalkan adalah seorang Mursyid yang Kamil Mukammil, yaitu seorang yang telah mencapai keparipurnaan marifatullah sebagai Insan yang Kamil, sekaligus bisa memberikan bimbingan jalan keparipurnaan bagi para pengikut thariqatnya.

Tentu saja, untuk mencari model manusia paripurna setelah wafatnya Rasulullah saw. terutama hari ini, sangatlah sulit. Sebab ukuran-ukuran atau standarnya bukan lagi dengan menggunakan standar rasional-intelektual, atau standar-standar empirisme, seperti kemasyhuran, kehebatan-kehebatan atau pengetahuan-pengetahuan ensiklopedis misalnya. Bukan demikian. Tetapi, adalah penguasaan wilayah spiritual yang sangat luhur, dimana, logika-logikanya, hanya bisa dicapai dengan mukasyafah kalbu atau akal hati.

Karenanya, pada zaman ini, tidak jarang Mursyid Tarekat yang bermunculan, dengan mudah untuk menarik simpati massa, tetapi hakikatnya tidak memiliki standar sebagai seorang Mursyid yang wali sebagaimana di atas. Sehingga saat ini banyak Mursyid yang tidak memiliki derajat kewalian, lalu menyebarkan ajaran tarekatnya. Dalam banyak hal, akhirnya, proses tarekatnya banyak mengalami kendala yang luar biasa, dan akhirnya banyak yang berhenti di tengah jalan persimpangan.

Lalu siapakah Wali itu? Wali adalah kekasih Allah Swt. Mereka adalah para kekasih Allah yang senanatiasa total dalam thaat ubudiyahnya, dan tidak berkubang dalam kemaksiatan. Dalam al-Quran disebutkan: "Ingatlah, bahwa wali-wali Allah itu tidak pernah takut, juga tidak pernah susah."

Sebagian tanda dari kewalian adalah tidak adanya rasa takut sedikit pun yang terpancar dalam dirinya, tetapi juga tidak sedikit pun merasa gelisah atau susah. Para Wali ini pun memiliki hirarki spiritual yang cukup banyak, sesuai dengan tahap atau maqam dimana, mereka ditempatkan dalam Wilayah Ilahi di sana. Paduan antara kewalian dan kemursyidan inilah yang menjadi prasyarat bagi munculnya seorang Mursyid yang Kamil dan Mukammil di atas. 

Jumat, Juli 30

Rukun Ihsan Sebagai Penjaga Rukun Lainnya

 

Ihsan Sebagai Penjaga Rukun Islam Dan Rukun Iman Sebelumya.


Oleh: Hannan Putra --Hebatnya gejolak syahwat yang meliputi setiap jiwa anak muda juga dirasakan oleh para nabi. Seperti Nabi Yusuf AS, pada usianya yang muda belia lagi lajang, Yusuf muda juga memiliki gelora syahwat layaknya manusia normal. Lantas, bagaimanakah jadinya jika seorang anak muda dalam kondisi ini dirayu seorang wanita cantik untuk berbuat maksiat?

Inilah yang dikisahkan Allah SWT dalam Alquran. "Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya." (QS Yusuf [12]: 24).

Anak muda mana yang tidak tergiur berbuat maksiat dalam kondisi tersebut. Apa yang kurang dari Zulaikha? Seorang wanita cantik, kaya raya, dan bangsawan. Seluruh yang diinginkan laki-laki ada pada dirinya. Yusuf dan Zulaikha hanya berdua saja dalam rumahnya. Pemuda manakah yang bisa selamat jika menjadi Yusuf dalam kisah tersebut?

Dalam satu riwayat disebutkan, tatkala Zulaikha dan Yusuf hendak memulai melakukan maksiat, Zulaikha meminta izin. Ia menutup sebuah patung yang ada di rumahnya dengan kain. Bertanyalah Yusuf, mengapa patung itu harus ditutupi kain.

"(Patung) itu tuhan saya. Saya malu jika ia melihat saya (melakukan maksiat)," jawab Zulaikha. Inilah tafsir dari tanda yang dimaksudkan dalam ayat tersebut. Sebuah kiasan dari Allah SWT bahwa Dia Maha Menyaksikan segala sesuatu.

Yusuf pun menangis. "Apakah engkau merasa malu dengan patung yang tidak dapat melihat atau mendengar itu? Patung itu juga tidak dapat memberi manfaat atau mudharat (jika ia murka melihat engkau bermaksiat). Patung itu tidak pula hidup dan tidak dibangkitkan. Sedangkan aku takut kepada Allah yang Maha Mengatur seluruh urusan makhluk-Nya," ujar Yusuf dengan terbata-bata.

Yusuf pun sadar, Tuhannya Maha Melihat dan Maha Menyaksikan apa yang dilakukan hamba-Nya. Tuhan yang disembah Yusuf tidak pernah tidur maupun lalai. Seharusnya, ia yang lebih malu untuk bermaksiat. Yusuflah yang semestinya takut dengan murka Tuhannya jika ia bermaksiat, sedangkan Tuhannya menyaksikan. Kesadaran inilah yang membuncah dalam dada seorang Yusuf muda yang masih belia itu. Inilah yang membuatnya lari dan membatalkan niat awalnya untuk bermaksiat.

Jika setiap Muslim memperhatikan "tanda" yang diberikan Allah kepadanya, serta menyadari kehadiran Allah dalam setiap gerak dan langkahnya, mustahil ia bisa bermaksiat kepada Allah. Bagaimana mungkin seorang Muslim yang sadar bahwa ia hidup di bumi Allah, menghirup udara milik Allah, dan memakan rezeki dari Allah, kemudian ia bermaksiat di hadapan mata Allah? Tidakkah ia malu kepada Tuhannya untuk melakukan maksiat. Ke manapun ia pergi, tidak akan bisa bersembunyi dari mata Allah yang Maha Melihat.

Kesadaran akan hadirnya Allah dalam setiap helaan nafasnya inilah yang menyelamatkan Nabi Yusuf. Kesadaran itu pula yang bisa menyelamatkan para hamba dari bermaksiat kepada Sang Khaliq. Betapa banyak "tanda" yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Semua tanda tersebut sangatlah terang dan terlihat. Seorang yang bermaksiat pasti berontak hatinya melihat "tanda" yang terlihat nyata oleh matanya, terdengar oleh telinga, dan sangat terasa di hatinya. Namun, "tanda" tersebut ia sembunyikan dan dibuang jauh-jauh. Ia berpura-pura seakan Allah tidak menyaksikan perbuatan maksiatnya.

Merasakan kehadiran Allah inilah yang disebut dengan ihsan. Rasulullah SAW mendefinisikan ihsan dalam hadisnya, "Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya maka yakinlah Dia Maha Melihat kepadamu." (HR Muslim).

Setiap mukmin, harus memiliki tiga unsur sebagai pembangun agama dalam dirinya. Tiga unsur itulah, iman, Islam, dan ihsan. Banyak orang yang sanggup menunaikan kelima rukun Islam, memercayai keenam rukun iman, namun tidak sanggup berihsan secara sempurna. Seorang Muslim dapat menunaikan zakat dengan jumlah yang banyak, menunaikan haji ke Tanah Suci, namun masih saja melakukan apa yang dilarang Allah. Hal ini membuktikan, tingkat ihsan yang ada pada dirinya masih kurang. Sehingga tidak ada yang bisa mencegahnya jika ia ingin bermaksiat. Ia tidak merasakan kehadiran Allah yang Maha Menyaksikan segala perbuatannya.

Dalam berihsan, Nabi Yusuf telah memperlihatkan sebuah teladan yang nyata. Pada masa pergolakan jiwa mudanya yang masih lajang dan mencari jati diri, ia sudah dihadapkan pada ujian maha berat. Tak banyak orang yang bisa selamat dari godaan maut tersebut. Namun, ia tidak membohongi dirinya. Secara jujur ia membaca "tanda" sebagai pesan Allah bagi dirinya. Ia menghadirkan Allah sebagai Tuhan yang Maha Melihat dan Menyaksikan segala perbuatannya. Sikap ihsan inilah yang bisa menyelamatkan manusia, sebagaimana ia telah menyelamatkan Yusuf dari godaan maha dahsyat itu.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA 



Ruh Agama Islam Terdapat Pada Rukun ?

Rukun Agama Islam Ada Tiga 

Rukun Islam, 5 Rukun Iman 6 Rukun Ihsan 1 Defenisi.

Islam => Fiqih, bahas hukum syariat

Iman =>Aqidah

Ihsan = Ahlak/Tasawuf

Ahlak atau Adab Lebih Tinggi Daripada Ilmu, dalam hadis Rasulullah SAW. Sebagai mana Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Tasawuf adalah orang-orang Yang Mengamalkan Ilmu Tasawuf Dinamakan Tarekat dalam Rukun Ihsan sedangkan yang tidak Mengamalkan bukan tergolong pengamal Tasawuf tapi pengkaji Ilmu Tasawuf di namakan orang Syariatbyang mengkaji Olmu Tasawuf tapi tidak pernah praktek 

Ihsan atau Tasawuf Adalah Ruhnya Agama Islam.

Dalam Rukun Islam Adalah Tubuh, 

Rukun Iman Adalah Akal Untuk Beriqtikad

Rukun Ihsan Adalah Ruh Diri Asal manusia Yang Fitrah, Qolbu atau Mata Nurani dalam bahasa umum adalah hati, namun bukan hati atau jantung yang materi tapi immateri abstrak ghaib qolbu sanubari terdalam inti dari Ruh manusia untuk merasa melihat seolah-olah melihat Allah dan merasakan diawasi Allah untuk (Qolbu berdzikir)

Dengan berdzikir merasa bersama Allah dan Allah bersama orang-orang yang mengingatnya ( berdzikir kepadanya ( ingatan dalam hati menyebut nama--Nya)

Puncak dari Ilmu adalah Adab dan rendah hati 

Puncak dari ibadah adalah banyak mengingat Allah dzikir yang terdapat dalam Rukun Ihsan.

Cara membersihkan hati adalah dengan bedzikir sebanyak-banyaknya baik dalam keadaan berdiri duduk dan berbaring seperti firman Allah tidak memandang waktu dan tempat.

Simak Vide Penjelasan Ahlak dalam Rukun Ihsan Oleh KH Zezen Zaenal Abidin & Ustadz  Abdul Somad https://youtu.be/ulG0P52jOME 


Jika Mengikuti Kebanyakan Orang.

Agama Islam Terdiri Dari 3 Pilar : Islam, Iman Ihsan Tasawuf Tanpa Tarekat https://youtu.be/ulG0P52jOME 

1. Islam : Fiqih => Jasad => Hukum.

2. Iman : Aqidah => Akal = Iqtikad.

3. Ihsan : Akhlak/Tasawuf => Ruh = Dzikrullah

*Sesungguhnya Rasulullah Diutus untuk menyempurnakan Akhlak manusia*

Sesungguhnya Adab lebih tinggi daripada Ilmu. (Hadist)

Pelajaran Ahlak atau Tasawuf dalam rukun agama yang ketiga Ihsan yang berarti ( baik), Hakikat rukun Ihsan adalah Tarekat yang berarti jalan, jalan menempuh melakukan mengamalkan Ilmu Tasawuf, perjalanan menuju Allah, mempelajari Tasawuf tanpa memasuki tarekat adalah tetap berada para maqom Ilmu Syari'at mengetahui Ilmu Tasawuf tapi tidak mengamalkan Ilmu Tasawuf, bukan berarti pengamal Tasawuf.

" Fiqih Tauhid Tasawuf selagi dia di tanah Ilmu dinamakan Syari'at

Fiqih Tauhid Tasawuf jika Di amalkan dinamakan Tarekat dan menghasilkan Ma'rifat.

Defensi Tasawuf

" Ilmu untuk mengetahui keadaan qalbu baik dan buruk, serta upaya membersihkannya dan perjalanan menuju Allah " (Kitab Tanwirul Qulub).

Tau sifat-sifat dalam qolbu sifat-sifat baiknya (mahmudnya) atau sifat-sifat buruknya (mazmumnya)

Tau Cara membersihkannya ( Wakagiyatud tadhiriha) seperti Tidak boleh sombong, iri, dengki, dendam, pemaaf dll.

Mengadakan Perjalanan. (Suluk) melakukan perjalanan ruh menuju Allah, (WasairuIllah).

Masdharu asarillah. ( KH. Zezen Zaenal Abidin, Mantan Ro'is Aam MUI Jabar).

Kesimpulan : Tasawuf Adalah Tarekat (Sufi)

Ilmu rukun Ihsan ahlak adalah Ilmu Tasawuf yang menenempuh jalan Tarekat yang di tuntun seorang guru ruhani sebagai wasilah kepada Allah, atau menyambungkan ruh kita kepada Rasulullah SAW.

" Dan jika kamu mengikuti KEBANYAKAN orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya PERSANGKAAN BELAKA... (QS. Al-An'am : 116).

Ahlusunnah Aswaja Adalah :Fiqih, Aqidah & Sufi.

1. Fiqih = > Imam Syafi'i 2. Aqidah => Abu Hasan Al Asy'ari, 3. Tasawuf => Imam Ghazali - 

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, cara terbaik untuk meraih muqarabah Merasa dilihat Allah ( dzikir) itu semua ialah dengan MENCARI GURU ROHANI yang akan membawa HATI HIDUP. Inilah yang akan menyelamatkan seseorang di AKHIRAT. ( Kitab Sirrul Asror) Rahasia Tauhid.

Ceramah : KH Zezen Zaenal Abidin https://youtu.be/oFheBzfJ7GQ

Ustadz Abdul Somad Lc Ma. https://youtu.be/t0DdNaxAkEs

Lanjutan Penjelasan KH Buya Yahya Rois Aam PBNU https://youtu.be/-kR9nPllnUU 

Wajibnya Mencari Guru Mursyid https://youtu.be/C7SIRLvDeF0 ...





Jumat, Juli 23

KAMU DAN AKU SEORANG YANG KOTOR

 


CAHAYO CAHAYA DIATAS CAHAYA BERLAPIS-LAPIS

CAHAYO IGINJANG CAHAYO MARLAPIS-LAPIS

" Nurun Ala Nurun"
نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ
CAHAYA DIATAS CAHAYA (BERLAPIS-LAPIS)
(QS. Cahaya (Allah )35)


Perumpamaan Allah Subhanahu Wata'ala!


وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِيْ هٰذَا الْقُرْاٰنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَۚ

" Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam *PERUMPAMAAN* supaya mereka dapat pelajaran (QS.39:27)

" Di Dalam setiap rongga anak Adam, aku ciptakan suatu mahligai yang disebut dada,dalam dada ada Qolbu, didalam qolbu ada fuad, didalam fuad ada syagofa, didalam syagofa ada siir, didalam siir ada Aku " (Hadist Qudsi)

Surah An Nur (Cahaya) 24:35 Cahaya Allah Cahaya Diatas Cahaya Berlapis-lapis (Al Misbah) Pelita Besar Tidak Di Timur Tidak Di Barat.

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

" Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. An-Nur Cahaya Allah 35)

" Dan BERPEGANG TEGUHLAH kamu semuanya pada tali (agama) Allah, { LAA ILAHA ILLALLAH } dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat PETUNJUK.[QS.Ali Imran 103] .

" Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." [ QS.AZ Zumar 22].

Hanya Allah Yang Mau Di Tuju. Allah Do Tujuan https://backtocreator.blogspot.com/2021/07/allah-do-na-ita-tuju-ya-mashuud-dalam.html

Taq : #Abah #ANOM #TQNNEWS #PP_Suryalaya #Hamba Allah #CatatanUntukDiriku ##tasawuf #cinta #165 #RukunIhsan #Cahayaqolbu #ihsan #catatanjarakjauh #tqn #Al_Ikhlas



Kamis, Juli 22

ALLAH DO NA ITA TUJU "YA MA''SHUUD" DALAM MENJAWAB KALIMAT TAHLIL-AN

Allah Do Na Ita Tuju Di Bagasan Ngoluon /Yang Kita Tuju "Ya Ma'Shuud" Dalam Jawab Tahlil-an 


" JANGAN MENGIKUTI KEBANYAKAN ORANG Mereka Akan Menyesatkanmu"  JADILAH GOLONGAN YANG SEDIKIT (QS. AL-ANAM 116).

DAKWAH TAUHID

 " Katakan: Inilah jalanku yang aku dan orang-orang yang mengikuti daku kepada Allah dengan pandangan yang jelas (basirah mata bathin)”. (Surah Yusuf, ayat 108).

"... siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang menyembunyikan *kesaksian* 😭dari Allah yang ada padanya?" Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan ( QS.Al-Baqarah 140).

DIRI ASAL, JATI DIRI MANUSIA ( ITA SUDE) 

" Dan Ingatlah " Dulu Ketika Allah mengeluarkan kamu, Allah mengambil KESAKSIAN terhadap jiwamu (Seraya berfirman) : " "Bukankah Aku ini Tuhanmu? "kamu menjawab: " BETUL (Engkau Tuhan kami), Aku Menjadi SAKSI". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari KIAMAT kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya aku (bani Adam) adalah orang-orang yang LENGAH, (lupa), terhadap ini (keesaan Tuhan)", (QS.7 Al-A'raf :172).

Belum Bertarekat Belum Mengamalkan Tasawuf Belum Menjalankan Rukun Agama Yang Je  Tiga  Rukun Ihsan, Secara Hakikatnya, Tarekat tidak Seperti Doktrin Orang-Orang Awam Menjelaskan Tarekat.

Memahami Perbedaan Tasawuf Dan Tarekat

" Fiqih bagi Tarekat itu Harus Wajib Sedangkan Tarekat itu adalah lanjutan daripada Syari'at, Ilmu Tauhid  Fiqih Tasawuf  selagi dia berada di ranah ILMU  maka di sebutnya SYARI'AT. Tauhid  Fiqih Tasawuf jika sudah diamalkan maka menjadi TORIKOT bila diamalkan menghasilkan MA'RIFAT ( KH Zezen Zaenal Abidin Wakil Talqin TQN PP Suralaya Daerah Sukabumi Jawa Barat) Akun Akun Hijrah Santuy YouTube

KH. Toras Zainuddin Nasution, Lc.MA. CARA CEPAT NYAMBUNG QOLBU KE ALLAH DENGAN TALQIN.

https://youtu.be/qexHcr5u4gE  


" Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu (mengambil persaksianmu dalam Surah Al-A'raf 172) JIKA kamu adalah ORANG-ORANG YANG BERIMAN. (Hadid Besi QS.57:8)

Allah Menyerukan Kepada Manusia Kembali Beserta Para Nabi Dan Waliyullah Sampai Ke Akhir Zaman.

“Dan KEMBALILAH kamu kepada Rabbmu, dan berserah diri-lah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). ” (QS. Az-Zumar Rombongan 39 :54).

" Dan jika kamu mengikuti KEBANYAKAN orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka ... (QS. Al-An'am : 116).

Tiada Berubah Kamu, Kita Harus Kembali Ke-asal Diri Yang Ma'rifatullah Fitrah Dan Jadikanlah dirimu diantara golongan sedikit ini inilah jalan hidayah datang kepadamu.

" Maka hadapkanlah wajahmu (ruh qudsi/diri sejati-mu | baca diatas QS.Al A'raf 7: 172 | dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut FITRAH itu. TIDAK ADA PERUBAHAN dalam ciptaan Allah, (itulah) agama yang LURUS, tetapi  KEBANYAKAN manusia tidak mengetahui." (QS. Ar-Rum 30: 30)

Ilmu Itu Ada Dua : Ilmu Dzahir Dan Ilmu Bhatin. Guru Juga Ada Dua : Guru Ilmu Lahir Guru Syari'at, Banyak Dan Guru Ilmu Bhatin, Tharekat Untuk Mencapai Hakikat Hidup, Sedikit Dari Yang Sedikit.

Penuhilah Seruan Allah

" Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah sesungguhnya *Allah membatasi antara manusia dan hatinya* dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.[ QS. Al Anfal 8:24]

Pencari  Dunia Dan Pencari Akhirat Serta Pencari Allah.

" Pencari Dunia jumlahnya banyak, Pencari akhirat jumlahnya sedikit, dan pencari Allah lebih SEDIKIT dari yang SEDIKIT ". [ Syeh Abdul Qadir Jaelani ].

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, cara terbaik untuk meraih muqarabah Merasa dilihat Allah ( dzikir) itu semua ialah dengan  mencari guru Rohani yang akan membawa HATI HIDUP. Inilah yang akan menyelamatkan seseorang di akhirat.

Syekh Abdul Qadir Jaelani QS.

ABAH ANOM ( SYEH SOHIBUL WAFA TAJUL ARIFIN QS. TQN PP SURYALAYA TASIKMALAYA

Al Imam Al Alim Al Alamat Al aruf Billah Muhaddits Al Musnid Al Mufasir Qutb Al Haramain Syeh Muhammad Al Maliki al Hasani al Husaini as Syadzili dari Mekkah 40 Hari menjelang wafatnya pada tahun 1425 H (2004 M) mengungkapkan bahwa Syekh Sohibul Wafa Tajul Arifin adalah Sulthanul Awliya film hadza zaman (Rajanya Para Waliyullah Zaman Ini)

Tak Seorangpunrr Yang Menolak Syekh Abdul Qadir Jaelani Wali Qutub, Syekh Abdul Qadir Al Jaelani Adalah Cucu Daripada Nabi Muhammad SAW dari Hasan Dan Husein Jalur Kedua Orang Tuanya, Lahir Dalam Keadaan Berpuasa.

Guru Anda Belum Tentu tahu ini anda tak pantas meragukan atau hanya mengikuti hawanafsu ketika hidayah ini menemuimu.

Pada Saat Jibril Mengenalkan Agama ini Kepada Para Sahabat Melalui Rasulullah SAW. Sesudah Menjelaskan Tentang Islam dan Iman
Kemudian ia (Jibril) berkata: Beritahukan kepadaku APAKAH IHSAN ITU itu? Nabi bersabda:
ٱعبدالله كا نك تراه فان لم تكن تراه فانه يراك
( Ihsan ialah) " Engkau beribadah kepada Allah SEAKAN AKAN ENGKAU MELIHATNYA ( Inilah Ma'rifatullah). Jika engkau tidak bisa melihatnya, sesungguhnya Ia Melihatmu. (HR Muslim).

Sebagaimana firman Allah :
ان الله كان عليكم رقىبا
" Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu ". (QS. An-Nisa 1).
Allah menjaga karena kamu ingat Allah.
Allah mengawasi karena kamu ingat Allah

Penjelasan : Ihsan itu adalah Kemampuan Qalbumu Melihat Allah (Ma'rifat) Terbukanya Penghalang Qolbu, Qolbu bukan hati daging fisik, Qolbu Yang Benar (Qolbu Yang Abstarak) Bashirah Mata Bhatin (Qolbu) Pusat inti Ruh Manusia.
Muraqabah (Merasa dilihat Allah)


Tingkatkan Muraqabah (Merasa Dilihat Allah) Jembatan untuk mencintai Allah https://youtu.be/RiCaMViZg0w 


Qolbu Abstrak Furqon Mata bhatin inti ruh diri, ruh qudsi Yang bersih qalbun salim dimaknai sebagai hati yang bersih dari unsur-unsur kemusyrikan, baik yang nyata ( syrik jaliy) maupun yang samar (syrik khafi).

Sehingga ia tidak pernah lupa 'ikatan primordialnya' untuk selalu menuhankan Allah dan menyembah, beribadah, berma'rifat hanya kepada-Nya. Di samping itu, ia selalu condong (hanif, lurus ) kepada kebenaran, kebaikan, dan keluhuran budi pekerti (akhlaq al-karimah)

Orang Arif ( bijaksana) berkata :
" Orang yang tidak tahu kotor diri tidak akan mau membersihkan diri lihatlah orang gila, orang gila tidak tahu dirinya gila jika mengaku diri sehat itu bukan orang gila".
(Bijak melihat hikmah di balik kata-kata orang Arif )

Tidak akan baik sebuah kalbu kecuali apabila menetap padanya ma’rifatullah ma'rifat Dzat (mengenal Dzat Allah ‘azza wa jalla ), Kemampuan Qalbumu Melihat Allah (Ma'rifat) Terbukanya Penghalang Qolbu, mengetahui keagungan-Nya, cinta dan takut kepada-Nya, berharap dan tawakal kepada-Nya.

Inilah hakikat Tauhid yang merupakan makna La ilaha illallah. Tidak ada kebaikan bagi kalbu kecuali saat menjadikan Allah Yang Maha Esa sebagai sesembahan yang diibadahi, yang dicintai, dan ditakuti, tidak ada sekutu bagi-Nya.

TALQIN KALIMAT DZIKIR LAA ILAHA ILLALLAH.

Pemahaman TALQIN

Talkin-kan : artinya : Ajarkan-lah, Tuntun-lah, Ingatkanlah, bimbing-lah, Ijazahkan-lah(Tarekat)

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ
Laqinu mautaakum Laa Ilaha Illallah
Artinya : " Talqinkan-lah
Orang yang akan meninggal
dengan "Laa Ilaha Illallah" ".

ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮِ فالم انه ﻻَ ﺇﻟٰﻪَ ﺇﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ 

Dzikir yang paling utama adalah La ilaha ilallah ". (HR Tirmidzi).

حيو باقي

 yang hidup kekal abadi 

حيو مو جود

 yang hidup tetap ada

حيو مقصود

 yang hidup kekal yang Dituju

Siapa yang mentalkin, menuntun Mrngijazah-ksn Laa Ilaha Illallah agar Hati Hidup ? Guru Yang Sudah Sampai Yang Hatinya juga Suci, pilihan Allah
Siapa orang yang akan meninggal? Semua Manusia.
Siapa yang di tuntun?
Orang yang hatiny, lengah banyak lupa kepada Allah, lupa  janji setianya kepada Allah di Alam Lahut >Baca Ulang Diatas> Surah QS.Al-A'raf 7.172 ].

Kenapa? Karena Talqin Dzikir Laa Ilaha Illalah Bukan Hanya Untuk Orang Yang Akan Sakaratul Maut

Talqin Dzikir Juga Untuk Orang Yang Akan Menghadapi Sakitnya Sakaratul Maut Membiasakan Diri Yang Akan Menghadapi Dahsyatnya Sakaratul Maut, Talqin yang di Ijazahkan Oleh Guru Mursyid Yang Bertujuan Membiasakan Lisan dan hati Yang Akan Menghadapi Sakaratul Maut Dan Di bawah nanti kita dapatkan Talqin Rasulullah SAW Kepada Para Sahabatnya Kalimat Laa Ilaha  Illallah dan Talqin Dzikir Kofi Idzmu Dzat ( Allah)kepada Saidina Ali R'a.

Orang yang sakaratul maut itu telinganya sulit mendengar rasa dahaganya: andai semua air diminumkan kepada orang yang sakaratul maut itu tidak cukup untuk menyegarkannya, gemuruhnya : bagaikan seribu petir, rasa perihnya,: bagaikan seribu sayatan pedang dan yang mentalqinkannya bukan mursyid hanya orang biasa apa adanya, jangan cukup dengan begitu saja

Pengertian Talqin Dzikir Laa Ilaha illalah | KH Zezen Zaenal Abidin https://youtu.be/FZOtW00gowc



Terbukanya Mata Bhatin Dalam Thoriqoh KH Zezen Zaenal Abidin  https://youtu.be/n0fN-YFFujc

Kenapa Ruh Qudsi Macet? https://youtu.be/Ac8ujPGXHMc

Membuka Ruh Qudsi Yang Macet https://youtu.be/IPSPZvoxwsk

" Sungguh, telah ada pada " (diri) Rasulullah itu SURI TAULADAN YANG BAIK BAGIMU  (yaitu) bagi orang yang MENGHARAP  (RAHMAT) ALLAH dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia BANYAK MENGINGAT ALLAH.( QS. Al-Ahzab 21).

" Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah y( ber-ibadahlah kepada) Aku dan laksanakanlah Sholat untuk MENGINGAT-AKU ( hati berdzikir menyebut Allah) Aku .[ QS.Taha  14.]


فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ
" Maka APABILA kamu telah menyelesaikan shalatmu, INGATLAH( hati berdzikir menyebut Allah /kepada) Allah
di WAKTU BERDIRI, di WAKTU DUDUK dan di BERBARING...(QS.An-Nisa’ 103)

" Maka KECELAKAAN yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk MENGINGAT ALLAH. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.(QS.39 Rombongan² Az Zumar :22).

Arti Tarekat Adalah Jalan, Metode Cara Jalan menuju Allah, Ma'rifat Kepada Allah Jalan Yang Dituntun, DiBimbing Oleh Seorang Kekasih Allah, Penerus Rasulullah / Waliyullah Tiap Hari Minta Petunjuk ' Ihdinas Shirotol Mustaqim Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus ( Jalannya Para Waliyullah)

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik [yaitu] Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan *hati mereka di waktu MENGINGAT ALLAH*. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (Q.S. Az-Zumar 39: 23).

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram *dengan MENGINGATI Allah*. *Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram*.” (Q.S. Ar-Ra’d [13] ayat 28).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. AKU BERSAMANYA KETIKA IIA MENGINGAT-KU Jika IA MENGINGAT-KU SAAT SENDIRIAN AKU akan MENGINGATNYA DALAM DIRI-KU . .. (Hadist Qudsi)

“ Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya, [ orang-orang yang menempuh jalan mengamalkan ilmu tasawuf yang bertarekatlah pengikut-pengikut jalan kerohanian sekelompok kecil dari manusia mereka jamaah rombongan atau orang-orang yang selalu mecari ridho Allah dan mereka adalah jamaah ahli dzikir baik dzikir zahar bersuara, atau kofi tersembunyi siir dalam hati yang mengamalkan rukun agama ke tiga hakikat Rukun  Ihsan] dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami *LALAIKAN* dari *MENGINGATIi* Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Q.S. Al-Kahfi 18 ayat 28).


KH Wahfiiudin Penjelasan Wakil Allah Khalifah https://youtu.be/_N8sjQ8lnVg 


Dan Di Sni Penjelasan Zaman Nabi Tidak Ada Wali Dan Sekarang Akhir Zaman Wali Ada Nabi Sudah Tidak Ada https://youtu.be/b6FPwrpI1ps 

HANYA HATI YANG BERSIH MEMASUKI SURGA-NYA 

Allah berfirman :
يَوْمَ لَا الٌ لَا  لَّا اللَّهَ لْبٍ لِيمٍ
“(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang MENGHADAP ALLAH DENGAN HATI  (Qolbu) YANG BERSIH.💦 ( QS. Asy-Syu'ara Penyair 26: 88-89).

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih 💦 (dari syirik). ” (QS. az Zumar:3).

Jadi, hati yang bersih adalah hati yang pemiliknya mampu menjaga kesucian fitrahnya (QS. Ar-Rum 30: 30💦)

Orang Arif ( bijaksana) berkata : " Orang yang tidak tahu kotor diri tidak akan mau membersihkan diri lihatlah orang gila, orang gila tidak tahu dirinya gila jika mengaku berarti dirinya sehat itu bukan orang gila dan dua tau membersihkan dirinya, orang-orang yang bertarekat yang bisa di sebut gila karena kotor diri " { Bijak memahami hikmah kata-kata orang Arifbillah }.

(Bijak melihat hikmah di balik kata-kata orang Arif )

" yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka *itulah orang-orang yang telah diberi Allah PETUNJUK* dan *mereka itulah orang-orang yang mempunyai AKAL*. (QS.Az Zumar 39:18)

Oleh : IkhwanMandily, Ikhwan 37 PP TQN Suryalaya. 



Sabtu, Juli 17

Generasi Muslim Akhir Zaman Yang Terasing

“Jika kamu menaati kebanyakan manusia di bumi

niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.”

Menjelang Sayyidul Ayyam (Hari Jum’at) pekan ini, penulis mengajak untuk bermuhasabah terhadap amaliyah yang telah kita kerjakan paling tidak sepekan yang lalu sebagai bahan evaluasi agar hari esok, lusa dan kemuadian menjadi lebih baik, sesuai dengan penegasan Allah SWT. dalam al-Qur’an surat al-Hasyr ayat 18 :


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Sebagai bahan muhasabah kali ini, penulis mengajak marilah sejenak kita fahami dan kita renungkan salahsatu sabda Rasulullah SAW. berikut ini :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ. رواه مسلم

“Dari Abi Hurairah dia berkata, "Rasulullah S.A.W. bersabda : "Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing." (H.R. Muslim)

Ketika Islam datang ke dunia pertama kali dianggap asing, bahkan masyarakat arab  ketika itu menganggapnya Islam sebagai agama yang tidak masuk akal, karena Islam membawa ajaran yang sangat berbeda bahkan bertentangan dengan apa yang telah masyarakat arab lakukan pada waktu itu. Islam membawa kebenaran dan akan memberantas penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan. Benar-benar saat itu Islam dianggap asing karena membawa kebenaran dan yang ada pada diri mereka adalah kebathilan. Apabila kita analogikan; kita pergi ke suatu desa atau pemukiman yang primitif/terbelakang dan kita membawa sesuatu yang baru dan mereka tidak mengenal itu sebelumnya, maka bagi mereka apa yang kita bawa itu amatlah asing, dan akan ada penolakan dari mereka.

Begitu pula Islam pada saat pertamakali datang pada masyarakat arab. Islam membawa kebenaran (al-haq) dari rabb semesta alam, mengajak mereka kepada Tauhid (pengesaan) yakni menyembah Allah SWT sebagai tuhan yang ESA, dan memberantas semua penyimpangan, penyelewengan dan keburukan-keburukan yang telah mendarah daging pada diri mereka.

Selanjutnya kata Nabi, وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ  “Dan Islam akan kembali dalam keadaan asing sebagaimana mulanya ia datang”.

Di abad modern ini lebih parah daripada zaman jahiliyah dulu. Kalau dulu Islam dianggap asing oleh orang-orang kafir quraisy, sekarang ini Ajaran Islam yang sesungguhnya justru dianggap asing oleh pemeluknya sendiri, oleh orang-orang yang telah mengaku sebagai muslim, bahkan telah berlabel muslim sejak lahir karena orang tuanya, nenek moyangnya telah terlebih  dahulu memeluk Islam. Sekarang ini pemeluk Islam (Muslim) kadang merasa asing akan kebenaran ajarannya, asing dalam mengamalkan ajaran dan tuntunannya. Ajaran Islam dianggap sebagai penghalang untuk meraih apa yang diinginkan, sehingga tidak segan-segan aturan atau ajaran Islam yang sudah jelas dan tegas mengajak dan akan membawa kepada keselamatan-pun dilanggar, ditinggalkan dan bahkan dibuang jauh-jauh. Kalaupun ada orang yang teguh pendiriannya untuk menegakkan tuntunan Islam, menentang perbuatan atau kebijakan yang tidak sesuai prinsip-prinsip dan ajaran Islam dianggap sebagai orang aneh atau orang asing. Hal tersebut sudah ditegaskan oleh Rasulullah S.A.W. فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ  maka beruntunglah orang-orang yang terasing”.

Sumber : Mahkamah Agung .go.id 


Dakwah Tauhid dakwah Jalan bertauhid Dakwah Jalan menuju Allah Jalan berarti Tarekat, Karena Tarekat itu berarti Jalan, atau cara, dalam bahasa Inggrisnya metode, Orang Yang Bertarekat Adalah orang yang punya metode menuju Allah untuk apa untuk berma'rifat, apa perlu ma'rifat?

Apa syaratnya dakwah Tarekoh?

Tidak ada karena Tarekoh adalah pengamalan kumpulan orang-orang yang belajar tak seorangpun yang belajar Tarekoh mengaku bahkan merasa lebih pintar mengetahui ilmu semua merasa kelas Play Grup TK, PAUD karena mereka merasa tak memiliki dan punya apa-apa. banyak orang salah menilai Tarekoh karena hasil doktrin peninggalan para penjajah kolonial. jangan berpikir bertapa seperti jaka Tingkir dll itu kan baru cerita dan di TV 🙂 sesuai kemampuan


Apa perlunya ma'rifat?

perlu dalam setiap ibadah perlu ma'rifat untuk mensucikannya,

Ma'rifat adalah Ilmu dasar dari Agama Dasar Tauhid Agama, Semua Orang punya Ilmu ma'rifat karena Ilmu ma'rifat adalah Ilmu fitrah manusia, manusia mengetahui antara Tuhan dengan mahluk, atau antara pencipta yang tak bermula dengan ciptaan yang di awali dengan di di ciptakan di mulai punya permulaan, setiap yang bermula pasti berakhir (fana, binasa)


Dengan melakukan Torekoh itu apakah harus mengtahui fikih ?

Harus Itu Wajib

Apakah yang dimaksud dengan Tarekoh?

Sebenarnya yang dikatakan torekoh itu adalah lanjutan dari pada Syariat.

" Ilmu Tauhid fikih tasawuf selagi ia belajar di ranah ilmu maka di sebutnya syariat 

Tauhid fikih tasawuf kalau sudah diamalkan menjadi Torekot, bila diamalkan bila diamalkan akan menghasilkan ma'rifat "

melihat Allah sedekat dekatnya

Apa hubungannya tirikoh dengan tasawuf ?

Torekot adalah pengamalan tasawuf lanjutan daripada tasawuf

orang disebut ahli tasawuf padahal dia baru mengkaji mendengar ceramah ilmu tasawuf hati-hati nggak apa baca ihya Ulumuddin 

Tarekoh nya apa?

belum sih nggak pake torikot!

a ini namanya ahli Ilmu tasawuf

bagus?

bagus!

hormati 

hormati

tapi jangan disebut ahli tasawuf dalam arti pengamall tasawuf.

sombong dengki serakah dendam itu Ilmu tasawuf itu.

apakah punya Ilmu tasawuf?

Apakah sudah berupa untuk dibesihkan?

apa alatnya dzikir

dzikirnya jalur mana ?


punya pembimbingnya?

lengkapreferensinya?

di akui pembimbingnya?

10 tahun belajar Tarekoh kok masih belum terbang 

juga ?

aa ini terpengaruh film juga 🙂


Disini Admin mengajak kepada Tauhid

Masuk kedalam Islam secara Kaffah sesuai perintah Allah denganbmenjalankan Rukun Agama secara utuh Islam Iman Ihsan tiga pokok pilar tiang agama.

Firman Allah SWT: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ 

Artinya, “Wahai orang yang beriman, masuklah kamu semua ke dalam Islam. janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kalian,” (Surat Al-Baqarah ayat 208).


Islam, Iman, dan Ihsan tak Bisa Dipisahkan

https://www.republika.co.id/berita/qcjm5u366/islam-iman-dan-ihsan-tak-bisa-dipisahkan


Mari Kita Mengenal Kesempurnaan Ajaran Islam Lebih Jelas lagi antara ke 3 rukun agama Islam

Pada Saat Malaikat Jibril mengenalkan agama ini kepada para sahabat yang terkenal dengan Hadis ini adalah Hadis Jibril


Islam Terdiri Dari 3 Rukun 

Rukun Islam, Rukun Iman, dan Rukun Ihsan


Malaikat Jibril Datang Untuk Mengajarkan Agama Ini Kepada Sahabat dan kita ummat Islam ". 

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

عَنْ عُمَرَ رضي الله عنه أَيضاً قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَم، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البيْتَ إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً. قَالَ: صَدَقْتَ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ، قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآَخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسئُوُلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ: أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيَّاً ثُمَّ قَالَ: يَا عُمَرُ أتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

" Dari Umar radhiyallahu ‘anhu pula dia berkata; pada suatu hari ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, 

tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian sangat putih, dan rambutnya sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tidak seorang pun dari kami yang mengenalnya, kemudian ia duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendekatkan lututnya lalu meletakkan kedua tangannya di atas pahanya, seraya berkata:

‘Wahai Muhammad jelaskan kepadaku tentang Islam?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

1⃣ ” Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan haji ke Baitullah Al Haram jika engkau mampu mengadakan perjalanan ke sana.” Laki-laki tersebut berkata: ‘Engkau benar.’ Maka kami pun terheran-heran padanya, dia yang bertanya dan dia sendiri yang membenarkan jawabannya. 

Dia berkata lagi: “Jelaskan kepadaku tentang iman?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

2⃣ “(Iman itu adalah) Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir serta engkau beriman kepada takdir baik dan buruk.” Ia berkata: ‘Engkau benar.’ Kemudian laki-laki tersebut bertanya lagi: 

‘Jelaskan kepadaku tentang ihsan?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

3⃣ “(Ihsan adalah) Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya dan jika engkau tidak bisa melihat-Nya, sungguh Dia melihatmu.” 

Yang kita garis bawahi di sini adalah Rukun Ihsan yang berarti ( baik)

Dia berkata: “Beritahu kepadaku kapan terjadinya kiamat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui dari yang bertanya.” Ia berkata: “Jelaskan kepadaku tanda-tandanya!” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Jika seorang budak wanita melahirkan tuannya dan jika engkau mendapati penggembala kambing yang tidak beralas kaki dan tidak pakaian saling berlomba dalam meninggikan bangunan.”

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Kemudian laki-laki itu pergi, aku pun terdiam sejenak.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku: 


“Wahai ‘Umar, tahukah engkau siapa orang tadi?” Aku pun menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

“Dia adalah Jibril yang datang untuk 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗷𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗮𝗴𝗮𝗺𝗮 𝗶𝗻𝗶 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗸𝗮𝗹𝗶𝗮𝗻 .” (HR Muslim)

Itulah yang di sebut Islam 3 rukun agama Islam Iman Dan Ihsan

Inti Daripada Ajaran Agama Adalah Untuk Bertaqwa dengan berjalan Menuju Allah Untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah agar timbul ketaqwaan lahir maupun bhatin

Bagaimana Cara Bertaqwa Untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah Tidak Ada Cara Lain Kecuali Di Bimbing Oleh Guru Waliyullah Sebagai penerus Rasulullah SAW.

" Warosatul Anbiya" tentu mereka Orang Yang Yang Sudah Dekat dan sampai Kepada Allah

Yaitu orang yang banyak mengingat Allah Dengan apa ❓

Dengan banyak ingat kepada Allah karena inilah inti daripada semua amal perbuatan di dunia ini sesuai dengan tujuan Allah menciptakan jin dan manusia agar mereka beribadah dalam surah (Ad-Dzariyat 56 )

Tujuan Beribadah adalah semurni-murninya Ibadah pengabdian kepada Allah mengenalnya ma'rifat dzat -Nya karena Allah ingin di ketahui  dikenal (Ma'rifat) maka dari itu Allah menciptakan ciptaanNya selain dirin-Nya dan adanya agama karena mengenal Allah disebut juga Awaludin Ma'rifatullah.

Maka dalam Rukun Ihsan yang berbunyi beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya  

Inilah yang disebut ma'rifat tapi bukan ma'rifat Sekedar Sifat-sitlfatnya yang di bahas dalam sifat 20 maupun nama-nama-nya tapi ma'rifat Dzat-Nya itulah Rukun Ihsan. Dengan berma'rifat merasa seolah-olah melihat (Ma'rifat) dan di lihat Allah (Muroqobah) merasakan terus di awasi karena hatinya ingat (dzikir) kepada Allah dengan mengikat diri ke Allah tentu juga untuk membersihkan dan menghindari segala bujukan hawa nafsu dan dosa-dosa, dengan cara yang di ajarkan oleh Guru yang sudah punya resep metodenya untuk membersihkan dosa-dosa kita sendiri dengan dzikir 

Allah berfirman :

(يَوْمَ لَا الٌ لَا (88) لَّا اللَّهَ لْبٍ لِيمٍ (89

“(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗵𝗮𝘁𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗶𝗵.💦 ( QS. Asy-Syu'ara 88-89).


Orang Arif bijaksana berkata : 

" Orang yang tidak tahu kotor diri tidak akan mau membersihkan diri lihatlah orang gila ".

(Bijak melihat hikmah di balik kata-kata orang Arif )


“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih 💦 (dari syirik). ” (QS. az Zumar:3).


TALQIN kan : artinya : Ajarkan-lah/ tuntun-lah


لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ 

Laqinu mautaakum Laa Ilaha Illalloh

Artinya : " TALQINKANLAH

𝗢𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗔𝗞𝗔𝗡 𝗠𝗘𝗡𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟

dengan "𝗟𝗔𝗔 𝗜𝗟𝗔𝗛𝗔 𝗜𝗟𝗟𝗔𝗟𝗟𝗔𝗛 " ".

Orang Arif Memahami Mengajarkan Laa Ilaha Illallah Adalah kepada Hati Yang Mati 

𝗢𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹 [ 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽] yang 𝗵𝗮𝘁𝗶𝗻𝘆𝗮 𝗹𝘂𝗽𝗮 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵


" Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu, 𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗟𝗔𝗛 Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. (QS.An-Nisa’ 103)

Tidak akan baik sebuah kalbu kecuali apabila menetap padanya ma’rifatullah ma'rifat Dzat (mengenal Dzat Allah ‘azza wa jalla ), Kemampuan Qalbumu Melihat Allah (Ma'rifat) Terbukanya Penghalang Qolbu, mengetahui keagungan-Nya, cinta dan takut kepada-Nya, berharap dan tawakal kepada-Nya.

https://m.tribunnews.com/tribunners/2021/03/17/islam-kaffah-syariat-tarekat-hakikat-dan-marifat?page=all

Inilah hakikat tauhid yang merupakan makna La ilaha illallah. Tidak ada kebaikan bagi kalbu kecuali saat menjadikan Allah Yang Maha Esa sebagai sesembahan yang diibadahi, yang dicintai, dan ditakuti, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Yaitu dengan menerima Talqin Dzikir "Laa Ilaha Illallah" yang ditanamkan di dalam hati orang yang berjalan menuju keridhaan Allah oleh guru rohani bukan guru dzahir tapi guru batin, dan untuk membersihkannya hati kita, " Hendaklah engkau bersama Allah, jika tidak mampu, berusahalah selalu bersama orang-orang yang dekat kepada Allah, karena sesungguhnya orang itulah yang akan menyampaikanmu kepada Allah (HR. Abu Daud).

Dan yang paling utama untuk menyambungkan ruh kita kepada Rasulullah SAW.

Yaitu Bertarekat, tujuannya untuk Menjalankan Rukun Agama Yang Ke tiga Yaitu Rukun Ihsan Diatas


Rasulullah SAW. telah Bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR Al-Baihaqi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Pendidikan Ahlak hanya bisa didapatkan dari Rukun ini Ihsan, Ihsan yang berarti Baik. 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu 𝘀𝘂𝗿𝗶 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗱𝗮𝗻 yang 𝗯𝗮𝗶𝗸 𝗯𝗮𝗴𝗶𝗺𝘂 (yaitu) bagi orang yang 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗿𝗮𝗽 (𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝘁) 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵 dan (kedatangan) hari kiamat dan dia 𝗯𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗯𝘂𝘁 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵”. (QS Al-Ahzab: 21).

Banyak menyebut Allah

Banyak menyebut Allah, artinya dengan Rukun Ihsan yaitu agar selalu merasa dilihat Allah dengan apa❓ tentunya Ingat senantiasa selalu terhubung dengan Allah, atau ingat itu qolbu dzikrullah, Dzikrullah Ibadah Yang Tak pernah putus, dan Sesungguhnya Tujuan Jin dan Manusia di ciptakan Allah tidak lain untuk Ini, Ibadah Wama Holaqotul Jinna Wal Insa Illa liya'budun (QS. Ad Dzariyat 56.) 

Dan dzikir adalah benteng diri manusia dari hawa nafsunya. dimana syetan selalu berusaha untuk mendatangi manusia lewat muka belakang kiri dan kanannya, kalau bukan karena Nabi Yusuf Ingat Allah Dzikrullah dia mungkin sudah tergoda oleh Zulaikha. 

Dan dengan dzikirlah pencuci hati yang kotor, 

Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya bagi tiap-tiap sesuatu ada pengilapnya (pembersihnya). Sesungguhnya pengilap hati adalah dzikrullah.'' (HR Ibnu Abidunya dan Baihaqi dari riwayat Said bin Sinan. Lihat at-Targhib wa at-Tarhib juz 11 hal 243). 

Dzikir adalah isi daripada Rukun Ihsan, tentu dengan bimbingan oleh guru yang juga hatinya sudah bersih bukan guru sembarang saja, banyak pintu masuk ke Baitullah Kabbah, tetapi kita hanya butuh satu pintu, banyak guru mengajarkan hati agar bersih karena Qalbu mukmin Baitullah, tapi kita hanya butuh satu orang Guru, bukan guru zhahir, tapi Guru Rohani, Karena Rukun Ihsan Ini adalah amalnya Ruhani jati diri manusia, sedangkan Rukun Islam amal dzahir dan Rukun Iman amal Hati iqtiqad keyakinan Tauhid saja. 

“Ketahuilah, sungguh di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah kalbu .” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan : Ihsan itu adalah Kemampuan Qalbumu Melihat Allah (Ma'rifat) Terbukanya Penghalang Qolbu, Qolbu bukan hati daging fisik, Qolbu Yang Benar (Qolbu Yang Abstarak) Bashirah Mata Bhatin (Qolbu) Pusat inti Ruh Manusia.

Klik link jika video tidak muncul https://youtu.be/lxIMcbz8RZU


Dengan hati yang bersih, kita akan mudah mengakses hidayah Allah SWT.


"Barang siapa bertasawuf tanpa fiqih maka akan menjadi zindiq, barang siapa berfiqih tanpa tasawuf maka akan menjadi fasiq, dan barang siapa mengamalkan keduanya maka akan mencapai hakikat." (Imam Malik) 


"Intinya Islam, iman dan ihsan adalah satu kesatuan yang dinamakan agama Islam,

Islam, Iman, dan Ihsan tak Bisa Dipisahkan

Islam, iman, dan ihsan adalah satu kesatuan yang disebut agama Islam. Semuanya berjalan bersama beriringan, barang siapa memisahkannya maka telah berkurang sebagian dari agama," 

Baca Tentang Jalan Menuju Ma'rifat Disini

Namun Kenyataan Kebanyakan Ummat Islam Meninggalkan Rukun Ihsan. 

Tasawuf Tanpa Thariqah sama dengan Nol

Link 🔗 https://www.nu.or.id/post/read/38418/tasawuf-tanpa-thariqah-sama-dengan-nol