Laman

Rabu, Juli 14

Islam Kaffah Itu Bagaimana ?

HADIS RUKUN AGAMA ISLAM [ ISLAM IMAN IHSAN ].

Ihsan berisi inti seolah-olah melihat Allah ( (Ma'rifat) dzat Allah Jalan untuk mencapai makrifat adalah tarekat yang arti tarekat adalah jalan, yaitu jalan untuk Mengenal Allah Ma'rifatullah

Allah Subhanahu Wata'ala Berfirman : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

" Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah Waisilah,(Seorang Guru) Yang menyampaikanmu kepada Allah) jalan yang mendekatkan diri kepada Allah, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.( QS.Al Maidah 35.)


“Sertakan dirimu kepada Allah, jika kamu belum dapat menyertakan dirimu kepada Allah, maka sertakanlah dirimu kepada orang yang telah beserta Allah, maka ia akan menyampaikan kepada kamu pengenalan kepada Allah.” (H.R. Abu Dawud)

Mengolah Qolbu Ruh Al Qudsi
Mengolah Qolbu Ruh Qudsi https://youtu.be/1vcbZ7jvFZw


Islam Kaffah: Syariat, Tarekat, Hakikat, dan Ma'rifat

“Wahai orang yang beriman, masuklah kamu semua ke dalam Islam. janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kalian,” (Surat Al-Baqarah ayat 208).

Secara umum ada tiga prinsip dalam beragama Islam yang pokok yaitu Islam, Iman dan Ihsan berdasarkan pada hadis sahih riwayat Muslim dari Umar bin Khattab --yang dikenal dengan hadits Jibril --dimana menurut KH Zezen Zaenal Abidin, Bahwasanya Ini Adalah Ummul Hadist selain yang umum diketahui masyarakat Ummul Qur'an adalah Al-Fatihah

Inilah Tripod Agama Rukun Agama Tripod Agama Islam Tanpa Ke 3 Pilar Ini Tripod Tidak Akan berdiri (Jomplang) dan menurutnya Ihsan  bukan sekedar di ketahui tapi tidak di masuki secara utuh di rasakan seperti bunyinya di rasa muqarabah Ma'rifat kepada Allah

Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu ". (QS. An-Nisa 1).

Allah selalu menjaga karena hatimu selalu dzikir

Allah mengawasi karena kita sadari karena ingat Allah (dzikrullah)

Itulah perlunya guru pembimbing ruhani hati Qolbu ruhani yang goflah tertidur mengingat dzikir kepada Allah oleh seorang guru rohani yang sudah paripurna kamil Mukamil sempurna dan penyempurnakan manusia pilihan Allah.

Hal itu dikaitkan dengan percakapan antara malaikat Jibril dan Rasulullah yang ringkasannya sebagai berikut:

Hai Muhammad. Beritahukan kepadaku apa itu Islam! Rasulullah Saw berkata : “Islam adalah Anda bersaksi tiada tuhan yang disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, tegakkan shalat, bayarkan zakat, puasa di bulan Ramadhan, laksanakan haji jika Anda mampu berjalan ke sana. Ia berkata : Anda benar. Kami heran, ia bertanya kemudian ia membenarkan. Ia berkata lagi : Beritahukan kepadaku apa itu Iman! Rasul menjawab : Anda percaya kepada Allah, MalaikatNya, kitan-kitabNya, Rasul-rasulNya, hari Akhir, dan anda beriman kepada qadar baik dan buruk. Ia menjawab : Anda benar. Ia berkata lagi : Beritahu aku apa itu Ihsan! Rasul berkata : "Anda sembah Allah seolah-olah melihatnya, dan jika Anda tidak dapat melihatnya, maka Ia pasti melihatmu." (Fath al-Bari li Ibn Hajr, (125/1)

ISLAM - Islam yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah syariat,

IMAN - man adalah hakikat

IHSAN - Ihsan itu serupa ma'rifat,

Ketiga jenjang ini pada dasarnya adalah pengejewantahan dari makna takwa. 

Maka untuk mengamalkannya butuh tarikat dari seorang pembimbing (mursyid). Agar tidak terjadi ketimpangan, maka ketiganya harus diterapkan secara keseluruhan, yakni syariat, tarekat, dan hakikat untuk mencapai puncak makrifat (pengetahuan).

Syariat tanpa hakikat adalah kosong dan hakikat tanpa syariat adalah batal serta tak berdasar.

Jika dianalogikan, maka syariat itu ibarat perahu, tarekat adalah nahkodanya, hakikat adalah pulau yang hendak dituju dari perjalanan itu, sementara ma'rifat adalah tujuan akhir, yaitu bertemu dengan Sang Pemilik Pulau. Dengan demikian, hakikat dan ma'rifat tak akan mampu dituju oleh salik, tanpa menggunakan perahu dan melalui nahkoda. Karena itu menurut Sayyid Bakri, umat Islam tidak boleh terkecoh untuk mudah meninggalkan syariat atas nama hakikat atau ma'rifat( Sayyid Bakri)

Syariat dan Hakikat.

Syariat adalah wujud ketaatan salik kepada agama Allah dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Syariah adalah sisi praktis dari ibadah dan muamalah dan perkara-perkara ubudiyah. Tempatnya adalah anggota luar dari tubuh. Yang mengkaji khusus ilmu syariah disebut fuqaha (ahli fiqih).

Menurut Syekh Tajudin as-Subki, syariat adalah segala sesuatu yang ditanggungkan kepada seorang hamba. Sedangkan hakikat adalah inti dan makna dari perkara tertentu. Syariat berbasis fiqih, sementara hakikat berbasis iman. Dengan kata lain, syariat adalah pengejawantahan dari perbuatan-perbuatan fiqih, yang digali dari dalil-dalil secara terperinci” (Tajudin as-Subki, kitab jam’u al-jawami’ 1/42)

Relasi keduanya tak terpisahkan. Karena syariat harus diperkuat dengan hakikat dan hakikat dibatasi oleh ketentuan hukum syariat. Sehingga, keberadaan syariat seharusnya mampu mendorong komunikasi langsung "syuhud" antara seorang hamba dan khalik tanpa perantara apa pun.

Ma'rifat dan Tarekat

Makrifat adalah anugerah Allah pada kalangan Al-Arif (orang yang mencapai makrifat) berupa ilmu, rahasia (asrar) dan lataif (kelembutan). Untuk mendapatkan anugerah arifbillah ini, seorang salik tidak dapat begitu saja, tetapi, ia harus menempuh jalan panjang yang berisi tingkatan-tingkatan. Jumlah maqam yang harus dilalui oleh seorang sufi ternyata bersifat relatif. Artinya, antara satu sufi dengan yang lain mempunyai jumlah maqam yang berbeda karena maqāmāt itu terkait erat dengan pengalaman spiritual itu sendiri.

Tarekat

Tarekat adalah kesungguhan hati (mujahadah al-nafs) dan meningkatkan kualitas karakter hati yang kurang menuju kesempurnaan dan naik dalam posisi kesempurnaan dengan sebab ditemani oleh para mursyid. Tarikat adalah jembatan yang menjadi perantara dari syariah menuju hakikat (As-Sayyid, Takrifat, hal. 94).

Urgensinya Mursyid dalam Tarekat

Tujuan tarekat adalah untuk mengenal Allah, sedangkan mursyid bertujuan untuk membimbing atau mengarahkan orang untuk mengenalkan ilmu hakikat dan ma'rifat. Mereka tidak saja akan menjelaskan pentingnya ilmu ini dengan pemisalan yang tinggi, tapi sekaligus sebagai teladan. Sandaran dalam bertarikat harus berguru atau belajar secara langsung kepada orang yang telah ma'rifat, sebagaimana Hadits Nabi Saw:

عن دود عن ابن مسعود قال رسول الله ص م : كُنْ مَعَ اللهِ وَاِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَ اللهِ فَكُنْ مَعَ مَنْ كَانَ مَعَ اللهِ فَإِنَّهُ يُوْصِلُكَ اِلَى اللهِ

“Sertakan dirimu kepada Allah, jika kamu belum dapat menyertakan dirimu kepada Allah, maka sertakanlah dirimu kepada orang yang telah beserta Allah, maka ia akan menyampaikan kepada kamu pengenalan kepada Allah.” (H.R. Abu Dawud)

Berdasarkan keterangan Hadits di atas bahwa kita harus menyertakan diri kepada orang yang beserta Allah, artinya kita harus belajar secara langsung kepada orang yang telah dapat serta Allah yang lazim disebut mursyid atau guru atau Syekh. Maka tidaklah berlebihan jika Abu Yazid al-Busthami berpendapat bahwa: ”Barang siapa yang menuntut ilmu tanpa berguru, maka syetan gurunya”, pendapat tersebut didasarkan pada Hadits Nabi Saw:

مَنْ لاَشَيْخٌ مُرْشِدٌ لَهُ فَمُرْشِدُهُ الشَّيْطَانُ

Artinya: “Barangsiapa yang tiada Syekh Mursyid (guru) yang memimpinnya ke jalan Allah, maka syetanlah yang menjadi gurunya " 

Karena pentingnya Mursyid ini, seorang ulama tabi’in, Muhammad bin Sirin rahimahullah mnengatakan:

إِنَّ هَذَا العِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Karena itu, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Riwayat Muslim).

Maka wajar jika seluruh syekh tarekat tasawuf sepakat bahwa tak seorang pun boleh mengajarkan dan memberikan bimbingan tentang hakikat, kecuali telah menguasai syariat secara benar dan mendalam seperti  lainnya. Seperti Syekh Abu al-Hasan as-Syadzlili, pendiri tarekat as-Syadziliyah. Barangsiapa yang kehilangan akar tak akan berhasil mencapai puncak, kata imam as-Sya’rani sebagaimana dinukil Sayid Bakari. (As-Sayid, Takrifat, hal. 95). 

Seperti Syeh Wali Kutub Tuan Syekh Abdul Qadir Jaelani qs.

Wallahu'lam bishawab.

Baca Setiap Orang Wajib Dan Sudah Tahu Ma'rifat https://backtocreator.blogspot.com/2021/07/setiap-manusia-memiliki-ilmu-marifat.html

*Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon

Dikutip sebahagian dari Tribun news Rabu, 17 Maret 2021

https://m.tribunnews.com/tribunners/2021/03/17/islam-kaffah-syariat-tarekat-hakikat-dan-marifat?page=all