Laman

Sabtu, Maret 23

Salah Satu Tanda-Tanda Hati Kita Telah Mati Namun Tidak Kita Sadari

Tenang tanpa berdosa padahal sedang melakukan dosa besar " Adzdzabul bil farhi "

Puisi Terakhir Pesan Suami Kepada Istri Yang Hatinya Mungkin Mati Dan Lalai.

Nasehatilah isterimu dengan sabar dan penuh cinta kasih, minta maaflah kepada isteri jika menyakiti hati isteri, bagaimanapun juga mutiara yang kotor jika digosok tiap hari akan menjadi berkilauan. Hasilnya mutiara ini bisa benar-benar menjadi perhiasan dan surga dunia bagimu.

Buat Istiriku Aku selalu Mengingatkanmu Biarpun Engkau Harus Pergi Meninggalkanku Dengarkanlah Aku Mungkin Ini Terakhir Kali Nasehatku Padamu Jangan Lupakan Nasehatku Tapi Tidak Apa Lupakan Aku, Setiap Nasehatku Baik Dan Datangnya Dari Allah Suatu Hari Engkau Akan Ingat Terus Akan Nasehatku.

Apabila Seorang Istiri Bersandiwara, Menipu, Mendzalimi, Membohongi, Ingkar Janji, Suami Merasa Teraniaya, Menyakiti Hati Suami, Mengecewakan Suami, Durhaka Terhadap Suami, Membuat Suami Merasa Tidak Dihormati, Berhianat Terhadap Suami Mempolitiki Suami Demi Tujuannya Tercapai, Ini Semua Dosa Besar Kepada Suami Membuat Hati Suami Terluka Dan Kecewa, Sekaligus Bermaksiat Kepada Allah ta'ala & Allah Ta'ala Akan Bisa Murka Kepada Istri Tersebut

Tenangnya orang yang sedang berbuat dosa dan maksiat karena hatinya tidak lagi mersakan jeleknya perbuatan dosa dan maksiat itu karena hatinya tidak merasakan jeleknya perbuatan dosa yang dilakukannnya, sehingga dosa yang dikerjkan bisa menjadi suatu kebiasaan baginya. Lebih parah lagi dia tidak lagi perduli dengan pandangan Allah dan Rasul dan dia tidak akan malu pada manusia serta mengacuhkannya,. Dia justru ada rasa bangga terhadap maksiat yang dilakukannya.

Jika sudah seperti ini dia tidak akan di maafkan.

Sebagaimana berita dari Rasulullah :



كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ الْـمُجَاهِرِيْنَ، وَإِنَّ مِنَ الْـمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَََّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ فيَقُوْلُ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَة كَذَا وَكَذَا. وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ

“Setiap umatku akan dimaafkan kesalahan/dosanya kecuali orang-orang yang berbuat dosa dengan terang-terangan. Dan termasuk berbuat dosa dengan terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu dosa di waktu malam dan Allah menutup perbuatan jelek yang dilakukannya tersebut namun di pagi harinya ia berkata pada orang lain, “Wahai Fulan, tadi malam aku telah melakukan perbuatan ini dan itu.” Padahal ia telah bermalam dalam keadaan Tuhannya menutupi kejelekan yang diperbuatnya. Namun ia berpagi hari menyingkap sendiri tutupan (tabir) Allah yang menutupi dirinya.”
(HR. Al-Bukhari no. 6069 dan Muslim no. 7410)

Bila dosa telah menumpuk, hatipun akan tertutup dan mati, hingga ia termasuk orang-orang yang lalai.

Allah berfirman:

كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Artinya: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Al-Muthaffifin: 14)

“Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab ‘Tentu saja wahai Rasulullaah.’ Nabi berkata: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata, ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.” (HR. Ath Thabrani dalam)

Hadis di atas mengingatkan para istri agar selalu mengharap ridha suami sebelum ia tidur. Seorang istri yang paham betul bahwa ridha suami akan mengantarkannya ke syurga Allah, pastilah ia akan selalu berusaha menyejukkan hati suaminya. Terlebih lagi, lidah istri adalah sembilu bagi hati suami.

Untuk diketahui, malaikat pun akan melaknat istri yang durhaka kepada suami. Rasulullaah saw. bersabda

, وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَتَأْبَى عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan terhadapnya), maka penghuni langit murka kepadanya hingga suaminya ridha kepadanya.” (HR. Bukhari no. 5194 dan Muslim no.1436).

Bahwa Ridho Suami Diatas Ridho Allah Dan Orang Tua, Benarkah..?

Ridhonya Allah Tergantung Pada Ridho Suami Seorang Istiri.

Andaikan seorang Istri sadar akan dirinya atas besarnya kekecewaan seorang suami karena kebohonganya pada suami sehingga suami merasa sakit hatinya bahkan gelisah dan menderitanya suami atas sikap seorang istri yang pergi meninggalkannya begitu saja mungkin seorang stiri itu akan menangis bertahun-tahun lamanya apalagi seorang suaminya yang selalu mengingatkannya tentang agama ia akan menyesali karena takutnya kepada murka Allah kepadanya.

Isteri pergi meninggalkan suami artinya dia tidak taat kepada suaminya padahal jika seorang isteri tahu bahwa taat pada suami bisa mengantar dia ke surga pastilah dia akan menyesal melakukan hal itu sesuai dengan hadist Rasullullah Shollallahu` Alaihi Wa Ssallam :

Dari Husain bin Muhshain dari bibinya berkata: “Saya datang menemui Rasulullah Shollallahu` Alaihi Wasallam. Beliau lalu bertanya: “Apakah kamu mempunyai suami?” Saya menjawab: “Ya”. Rasulullah Shollallahu` Alaihi Wa Ssallam bertanya kembali: “Apa yang kamu lakukan terhadapnya?” Saya menjawab: “Saya tidak begitu mempedulikannya, kecuali untuk hal-hal yang memang saya membutuhkannya” . Rasulullah Shollallahu` Alaihi Wa Ssallam bersabda kembali: “Bagaimana kamu dapat berbuat seperti itu, sementara suami kamu itu adalah yang menentukan kamu masuk ke surga atau ke neraka” (HR. Imam Nasai, Hakim, Ahmad dengan Hadis Hasan).

Mataku Tidak Bisa Terpejam Sebelum Engkau Ridho

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الْجَنَّةِ؟قُلْنَا بَلَى يَا رَسُوْلَ الله كُلُّ وَدُوْدٍ وَلُوْدٍ، إِذَا غَضِبَتْ أَوْ أُسِيْءَ إِلَيْهَا أَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا، قَالَتْ: هَذِهِ يَدِيْ فِي يَدِكَ، لاَ أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ حَتَّى تَرْضَى

“Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.” (HR. Ath Thabarani dalam Al Ausath dan Ash Shaghir. Lihat Ash Shahihah hadits no. 3380)

Selengkapnya https://muslimah.or.id/3066-mataku-tidak-bisa-terpejam-sebelum-engkau-ridha.htmlhttps://muslimah.or.id/3066-mataku-tidak-bisa-terpejam-sebelum-engkau-ridha.html