Saat kita duduk ditebing sebenarnya kita sedang dalam posisi beribadah yaitu dzikir berpikir akan ke Maha Kuasaan Allah, itu merupakan golongan ibadah, contohnya pada saat kita merenungi kekuasan tuhan, ada dua orang membawa layar lebar berisi film sehingga menutupi pandangan kita tentang berdzikir merenungi kekuasaan tuhan pada akhirnya kita terpengaruh oleh layar film yang menutupi dzikir kita kepada Allah hingga kita terbuai oleh film yang mengasikkan itu, padahal film itu durasinya hanya sebentar akan tammat, tetapi akibat dari layar yang di bawa dua orang tadi kita terlena dan terpengaruh, karena kita lalai menonton film tersebut maka kita lupa berdzikir hingga kita mudah melakukan dosa-dosa, hingga kita makin jauh dari petunjuk-Nya dan terbuai oleh layar tersebut. Itulah gambaran kehidupan kita.
Dzikir adalah bahasa Arab yang telah teradopsi kedalam bahasa Indonesia dengan makna mengucapkan (menyebut) nama Allah. Sedangkan secara hakiki adalah mengingat Allah dalam setiap gerak hidup seorang mukmin.
Pikir adalah akal yang bisa juga dikonotasikan dengan ilmu (pengetahuan). Hidup manusia akan sempurna ( bahagia) jika zikir dan pikir itu melekat pada dirinya. Tetapi dzikir adalah selalu mengingat Allah, sehingga takut berbuat yang dilarang-Nya dan taat melaksanakan segala perintah-Nya.
Tujuan hidup manusia adalah beribadah baik secara batin maupun dzahir.
Allah subhananahwa ta'ala berfirman :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)
Tanda-tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla , yang Ia ciptakan di langit dan di bumi dan di antara keduanya, semua itu tidak diciptakan dengan sia-sia, tetapi mengandung tujuan. Yaitu untuk kemashlahatan makhluk-makhluk-Nya, sebagai sarana beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , sekaligus membuktikan tentang keesaan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. [Ali ‘Imran/3:190-191].
Yang dimaksud dengan merenungi ayat-ayat Allah, ialah melihatnya, merenungi manfaat-manfaatnya, sehingga menghasilkan sebuah keyakinan yang mendalam bahwa hanya Allah Azza wa Jalla saja dzat satu-satunya yang menciptakan semua itu. Dia-lah satu-satunya ilah yang berhak untuk disembah. Dia-lah satu-satunya ilah yang berhak ditakuti, ditaati, dan hanya Dia yang kita jadikan sebagai petunjuk, sebagai bukti keagungan dan kekuasaan-Nya. Dia tidak menciptakan semua itu dengan sia-sia.
Bagaimana mungkin manusia bisa terkagum-kagum dengan hasil karyanya, kemudian ia lupa dengan tanda-tanda kekusaan Allah Azza wa Jalla yang digelar di alam raya ini, bahkan tanda-tanda kebesaran-Nya di dalam diri manusia itu sendiri?
وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri; maka apakah kamu tidak memperhatikan? [adz-Dzâriyât/51:20-21].
Dari uraian diatas bahwa
Dzikir itu pada hakekatnya adalah amalan hati.
Dzikir itu ingat kepada Allah sebagai Ilah bahwa Dialah yang wajib diibadahi dan ditaati. Dan semua perbuatan kita diawasi dan dicatat oleh-Nya untuk dimintai pertanggungan jawabannya.
Dzikir itu ingat kepada Allah yang Maha Kaya. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya, maka minta dan mohonlah kepada-Nya.
Dzikir kepada Allah itu meyakini bahwa Dialah adalah Dzat yang Maha Rahman, Rahim dan Maha Adil.
Kita harus ikhlas akan pemberian-Nya, sabar terhadap musibah dan cobaan yang menguji kita.
Dzikir kepada Allah memberikan kekuatan untuk melaksanakan kewajiban yang Allah perintahkan.
Dzikir kepada Allah memberikan perlindungan kepada kita untuk tidak berbuat maksiat karena selalu ingat akan hukuman Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Perintah selalu berdzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring.
Supaya kita dilindungi, diawasi dan dikendalikan oleh aturan Allah. Selalu terbayang bahwa kita ini sesungguhnya mengharapkan ridha-Nya. Dan dengan ridha-Nya, Ia menghadiahkan surga kepada kita.
Kenapa orang melakukan maksiat? Karena orang itu sedang tidak berdzikir, artinya orang tersebut sedang lupa. Kondisi lupa kepada Allah menyebabkan keadaan seseorang tidak terkendali, sepertihalnya layangan yang putus. Jadi, orang-orang yang melanggar aturan Allah pada hakekatnya adalah orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga menjadikan mereka liar.
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ
Tunjukilah kami jalan yang lurus [QS. Al-Fatihah: 6]
Karena orang yang lurus adalah berjihad pada jalan-Nya, berjihad yaitu memperbanyak mengingat Allah jihad melawan hawanafsu.
Jihad yang paling utama adalah jihad seseorang untuk dirinya dan hawa nafsunya.(Riwayat Abnu An-Najari)
Baca juga : Jihad menanamkan dzikir pada hati dan tuntunannya dari hadist nabi Hadist tuntunan dari Rasulullah berdzikir dalam hati
Dzikir adalah bahasa Arab yang telah teradopsi kedalam bahasa Indonesia dengan makna mengucapkan (menyebut) nama Allah. Sedangkan secara hakiki adalah mengingat Allah dalam setiap gerak hidup seorang mukmin.
Pikir adalah akal yang bisa juga dikonotasikan dengan ilmu (pengetahuan). Hidup manusia akan sempurna ( bahagia) jika zikir dan pikir itu melekat pada dirinya. Tetapi dzikir adalah selalu mengingat Allah, sehingga takut berbuat yang dilarang-Nya dan taat melaksanakan segala perintah-Nya.
Tujuan hidup manusia adalah beribadah baik secara batin maupun dzahir.
Allah subhananahwa ta'ala berfirman :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)
Tanda-tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla , yang Ia ciptakan di langit dan di bumi dan di antara keduanya, semua itu tidak diciptakan dengan sia-sia, tetapi mengandung tujuan. Yaitu untuk kemashlahatan makhluk-makhluk-Nya, sebagai sarana beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , sekaligus membuktikan tentang keesaan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. [Ali ‘Imran/3:190-191].
Yang dimaksud dengan merenungi ayat-ayat Allah, ialah melihatnya, merenungi manfaat-manfaatnya, sehingga menghasilkan sebuah keyakinan yang mendalam bahwa hanya Allah Azza wa Jalla saja dzat satu-satunya yang menciptakan semua itu. Dia-lah satu-satunya ilah yang berhak untuk disembah. Dia-lah satu-satunya ilah yang berhak ditakuti, ditaati, dan hanya Dia yang kita jadikan sebagai petunjuk, sebagai bukti keagungan dan kekuasaan-Nya. Dia tidak menciptakan semua itu dengan sia-sia.
Bagaimana mungkin manusia bisa terkagum-kagum dengan hasil karyanya, kemudian ia lupa dengan tanda-tanda kekusaan Allah Azza wa Jalla yang digelar di alam raya ini, bahkan tanda-tanda kebesaran-Nya di dalam diri manusia itu sendiri?
وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri; maka apakah kamu tidak memperhatikan? [adz-Dzâriyât/51:20-21].
Dari uraian diatas bahwa
Dzikir itu pada hakekatnya adalah amalan hati.
Dzikir itu ingat kepada Allah sebagai Ilah bahwa Dialah yang wajib diibadahi dan ditaati. Dan semua perbuatan kita diawasi dan dicatat oleh-Nya untuk dimintai pertanggungan jawabannya.
Dzikir itu ingat kepada Allah yang Maha Kaya. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya, maka minta dan mohonlah kepada-Nya.
Dzikir kepada Allah itu meyakini bahwa Dialah adalah Dzat yang Maha Rahman, Rahim dan Maha Adil.
Kita harus ikhlas akan pemberian-Nya, sabar terhadap musibah dan cobaan yang menguji kita.
Dzikir kepada Allah memberikan kekuatan untuk melaksanakan kewajiban yang Allah perintahkan.
Dzikir kepada Allah memberikan perlindungan kepada kita untuk tidak berbuat maksiat karena selalu ingat akan hukuman Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Perintah selalu berdzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring.
Supaya kita dilindungi, diawasi dan dikendalikan oleh aturan Allah. Selalu terbayang bahwa kita ini sesungguhnya mengharapkan ridha-Nya. Dan dengan ridha-Nya, Ia menghadiahkan surga kepada kita.
Kenapa orang melakukan maksiat? Karena orang itu sedang tidak berdzikir, artinya orang tersebut sedang lupa. Kondisi lupa kepada Allah menyebabkan keadaan seseorang tidak terkendali, sepertihalnya layangan yang putus. Jadi, orang-orang yang melanggar aturan Allah pada hakekatnya adalah orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga menjadikan mereka liar.
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ
Tunjukilah kami jalan yang lurus [QS. Al-Fatihah: 6]
Karena orang yang lurus adalah berjihad pada jalan-Nya, berjihad yaitu memperbanyak mengingat Allah jihad melawan hawanafsu.
Jihad yang paling utama adalah jihad seseorang untuk dirinya dan hawa nafsunya.(Riwayat Abnu An-Najari)
Baca juga : Jihad menanamkan dzikir pada hati dan tuntunannya dari hadist nabi Hadist tuntunan dari Rasulullah berdzikir dalam hati







