Laman

Sabtu, Agustus 28

Pelita Hati Nikmat Terbesar Dalam Hidup Dari Allah SWT. Tontonlah



 " ikutilah jalan (Tharekat) orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu ( Lukman 31:15 )

Tharekat berarti jalan, orang yang bertharekat adalah orang yang sedang mengadakan perjalanan menuju Allah orang-orang yang mengadakan perjalanan kembali kepada Allah

Ilmu Islam ada 3

Ilmu Fiqih dalam rukun Islam

Ilmu Aqidah dalam rukun Iman

Ilmu Ahlak dalam rukun Ihsan, Ahlak, Adab, Tasawuf

Defenisi Ihsan Tasawuf.

- Imu untuk mengetahui keadaan qobu baik dan buruknya

serta tahu upaya membersihkannya

dan mengadakan perjalanan menuju Allah. ( Kitab Tanwirul Qulub).




Jumat, Agustus 27

Masuk Surga Bukan Karena Amal

Dahulukan Ilmu Daripada Amal

Nabi SAW bersabda, "Tidak seorang pun dari kalian yang dimasukkan surga oleh amalnya dan tidak juga diselamatkan dari neraka karenanya, tidak juga aku kecuali karena rahmat dari Allah." (HR Muslim). 

Ketahuilah bahwa Rahmat Allah itu adalah kuncinya dzikir yang menghasilkan ma'rifatullah.

" Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada qolbu kalian.” (H.R. Muslim).“

" Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)

Lupa ma'rifat Insan mengenal hakikat diri dan tujuan penciptaannya.

" ikutilah jalan (tharekat) orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu ( Lukman 31:15 )

Tharekat berarti jalan, orang yang bertharekat adalah orang yang sedang mengadakan perjalanan menuju/ mengadakan perjalanan kembali kepada Allah

Ilmu Islam Atau Rukun Agama Islam Terdiri 3 (Trilogi) ( Islam, Iman Ihsan)

Ilmu Fiqih dalam rukun Islam

Ilmu Aqidah dalam rukun Iman

Ilmu Ahlak, Adab dalam rukun Ihsan,

Ahlak, Adab, Tasawuf. Seperti Sifat Sombong Dengki, Hasad, Ghibah, Pelit, dll.

Ihsan/ Ahlak, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia” (HR. Al Baihaqi).

Ke-tiga-tiganya kita golongkan juga sbb: Islam Ritual, Iman Intelektual, Ihsan Spritual/ Islam amal Jasad, Iman Nafs Aqidah Keyakinan Iqtikad, Ihsan Ruh Dzikrullah Ma'rifatulah 

Defenisi Ihsan, Tasawuf.- Imu untuk mengetahui keadaan qobu baik dan buruknya, serta tahu upaya membersihkannya, dan mengadakan perjalanan menuju Allah. ( Kitab Tanwirul Qulub).

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman : " Sungguh, telah ada pada " (Diri) Rasulullah itu suri Tauladan Yang Baik Bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak mengingat Allah (berdzikir kepada Allah) ( QS. Al-Ahzab 33: 21). 

Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (QS. Al-Ahzab 33 :41).

  " Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka ... (QS. Binatang ternak 6 : 116).

" yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk (cahaya) dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai AKAL. (QS. Rombongan-rombongan 39:18).

Kita butuh Wasilah:  Kita Butuh Wasilah Wali Allah

Senin, Agustus 23

Ketahuilah ! Mengingat Allah Hakikatnya Adalah Kunci Dan Ruhnya Ibadah

Ingat Kepada Allah Adalah Dzikrullah, Dzikir itu Adalah ( Qolbumu Mata hati nurani ) Ma'rifat Akan Dzat Allah

Ruh dari semua amal Ibadah adalah ma'rifat kepada Allah, dan Ibadah itu sendiri adalah terbungkus oleh ma'rifatullah.

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih  (dari syirik). ” (QS.Rombongan² :3).

" Dzat yang tidak memiliki wujud, lalu bagaimana Ia akan dapat memberikan wujud semua ini ? nyatanya Dia (Allah) lah yang nyata berwujud " 

Segala sesuatu yang bersifat baru ( huduts ) jika bertemu dengan yang bersifat kekal & terdahulu ( baqa & ( Qodim ) maka akan hancur binasa tanpa berbekas, atau tiada ( fana ). Jika aku tiada Dia tampak, dan jika Dia tampak Aku pun hilang lenyap "

" Qolbun salim yang bersih adalah hati yang pemiliknya mampu menjaga kesucian fitrahnya sendiri (QS.Romawi : 30)

Dan betapa banyak manusia menyembah berhala didalam dirinya sendiri karena tidak mengenal Allah & tidak kenal dirinya sendiri.

" Man arofa nafsahu faqod arofa rabbahu "

Siapa yang mengenal akan dirinya makan dia akan mengenal akan Tuhannya.

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19) 

Manusia Didunia hidupnya hanya untuk mengabdi kepada Allah.
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
" Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka ( mengabdi (beribadah/menyembah) kepada-Ku ".(QS. Ad Dzariyat 51:56)

" Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah Sholat untuk mengingat Aku .[ QS.Taha 14].

" Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai (lupa, mengingat Allah) dari shalatnya ( QS.Al Maun 4-5 ).

" Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu, ingatlah kepada Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring (QS.An-Nisa’ 103).

“ Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)

Membuang rasa memiliki segalanya.
" Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. ( QS. An-Nahl 16: 78).

Lalai atau lengah sampai di umpamakan seperti .....binatang. 
" Dan sesungguhnya Kami jadikan isi NERAKA Jahannam
KEBANYAKAN jin dan MANUSIA,  mereka mempunyai -HATI-
tetapi tidak dipergunakannya untuk MEMAHAMI ( ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai -MATA- (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dan mereka mempunyai -TELINGA- (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah).
Mereka itu sebagai Binatang Ternak  bahkan lebih SESAT lagi.
Mereka itulah orang-orang yang lalai ( lupa). (QS Al A’raf 179)

Orang yang selalu mengingat Allah ( berdzikir qalbunya selalu menyebut) Allah.
" Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang ber-AKAL, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka Memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):
"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. ” (QS Ali Imran (3): 190-191).

Nabi SAW bersabda, "Tidak seorang pun dari kalian yang dimasukkan surga oleh amalnya dan tidak juga diselamatkan dari neraka karenanya, tidak juga aku kecuali karena RAHMAT dari Allah." (HR Muslim).
Ketahuilah Rahmat Allah itulah kunci Ma'rifatullah.

https://youtu.be/SPfCOaQs3C4

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
" Sungguh, telah ada pada " (Diri) Rasulullah itu suri Tauladan Yang Baik Bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharao (RAHMAT) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia BANYAK mengingat Allah ( QS. Al-Ahzab 33: 21).

" Dan jika kamu mengikuti *KEBANYAKAN* orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya *PERSANGKAAN belaka* ... (QS. Al-An'am 6 : 116).

“ Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di PAGI dan SENJA hari dengan mengharap keridhaan-Nya,(*)dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang HATINYA telah Kami lalaikan dari Mengingati Kami serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Q.S. Al-Kahfi 18: 28).

Ahli qolbu diajarkan agar senantiasa mengingat Allah ( hatinya hidup) ikhlas dalam hidupnya
Tanyakanlah mereka ( ahli-ahli Qolbu itu).

Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (QS. Al-Ahzab 33 :41).


فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Fas`alu ahla adz-dzikri inn kuntum laa ta'lamun"
" Maka bertanyalah kepada Ahli Dzikir jika kamu tidak mengetahui (QS. Al Anbiya 21 :7).

" Maka KECELAKAAN yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.(QS.39 Az Zumar :22).

Seorang muslim di tuntut untuk berjihad melawan hawa nafsunya

https://backtocreator.blogspot.com/2021/08/seorang-muslim-dituntut-untuk-berjihad.html

Rahmat Allah itulah kunci Ma'rifatullah. https://youtu.be/SPfCOaQs3C4

Sabtu, Agustus 21

Kita Butuh Wasilah & Guru Ruhani ( Mursyid)

Tentang Wasilah (Parantara) dan Guru Pembimbing Ruhani ( Mursyid)

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

" Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. QS. Ad Zaariyat 55).

Rasulullah SAW Nabinta (Nabi kita) di utus ke dunia bukan sekedar menyampaikan kebenaran dari sisi Allah atau hanya menyampaikan hukum-hukum yang dibolehkan atau di larang oleh Allah. Tujuan lebih hakiki dari keberadaan Nabi adalah agar manusia bisa mengenal Allah sebagaimana Firman Allah dalam hadist Qudsi

Dia menciptakan mahluk agar di kenal 

dan merasakan kehadiran-Nya dalam setiap saat sebagaimana didalam salah satu rukun agama Islam rukun Ihsan.

Pada saat malaikat Jibril memperkenalkan agama Islam kepada para sahabat melalui Rasulullah SAW. sesudah menjelaskan Tentang Islam dan Iman.

Kemudian Ia (Jibril) berkata: Beritahukan kepadaku apakah Ihsan itu? Nabi bersabda:

 قلﷺ أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك 

( Ihsan ialah) " Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya. Jika engkau tidak bisa melihatnya, sesungguhnya Ia melihatmu (HR Muslim )

*) Seolah-olah melihat Allah = Ma'rifatullah (Taqarrub Ilallah)

*) Sesungguhnya Ia melihatmu = Qolbu inti ruhanimu merasa selalu diawasi Allah ( muraqabah) sepanjang hayat, merasa bersama Allah)

Allah yang menyaksikan dan yang disaksikan (QS Al-Buruj: 3).

Rasul adalah pembawa wasilah dari sisi Allah dan melalui wasilah itulah manusia bisa berkomunikasi dengan Allah. Sangat jelas termaktub dalam firman Allah dalam Surat Al-Maidah 35 mewajibkan seluruh orang beriman untuk mencari wasilah agar menemukan kemenangan di dunia dan akhirat kelak.

Wasilah bukanlah amal ibadah (shalat, puasa, zakat dll) seperti yang ditafsirkan secara syari'at, karena seluruh amal ibadah hanyalah bentuk dari proses penyembahan terhadap Allah. Shalat, Puasa dan lain-lain hanya akan menjari ritual hampa, menjadi tradisi dan budaya saja kalau tidak mempunyai ruh dari ibadah itu sendiri. Ibadah mempunyai unsur zahiriah dan bathiniah dan keduanya harus ada agar ibadah diterima disisi Allah. Secara zahir anggota badan kita harus mengikuti aturan-aturan yang telah disampaikan Allah kepada Rasul-Nya tanpa melebihkan dan menguranginya. Aturan itu sudah menjadi standar sebagai contoh bentuk gerakan shalat, jumlah raka'at shalat, aturan-aturan puasa, itu semua sudah baku dan tidak bisa ditambah maupun dikurangi. Disamping aturan aspek zahir, ibadah memiliki aspek bathin dan ini merupakan hal yang sangat pokok sebagaimana Ilmu zahir syaria't dan ada ilmu hakikat yang sering disebut juga ilmu batin atau ilmu ruhani sebagaimana halnya guru ada guru zahir dan ada guru ruhani.

Fisik manusia harus diajarkan cara menyebut nama Allah begitu pula rohani manusia, harus diajarkan cara menyebut nama Allah. Di dunia ini sangat banyak orang yang bisa mengajarkan cara fisik manusia untuk menyebut nama Allah, dalam hal ini kita tidak kekurangan Guru, akan tetapi Guru yang bisa mengajarkan rohani kita untuk menyebut nama Allah itu sangat langka. Fisik manusia bisa diajarkan oleh Guru fisik, gerakan shalat, aturan puasa dan lain sebagainya, sementara rohani manusia harus diajarkan oleh rohani pula. Tidak mungkin rohani manusia diajarkan oleh Guru Jasmani, keduanya mempunyai unsur dan sifat yang berbeda. Rohani manusia diajarkan oleh rohani Rasulullah SAW yang telah berisi Kalimah Allah yang berasal dari sisi Allah. Unsur Kalimah Allah yang ada dalam diri Muhammad bin Abdullah inilah yang menyebabkan pangkat Beliau bisa menjadi Rasul. Nur Allah yang diberikan kepada Rasul dan orang-orang yang dikehendaki-Nya itulah yang kemudian disebut sebagai Wasilah.

Disinilah sebenarnya letak perbedaan antara pengamal tarekat/tasawuf dengan orang yang hanya memahami Islam secara syariat saja. Pengamal tarekat untuk bisa menapaki jalan berguru terlebih dulu memahami dan menjalankan aturan-aturan Allah yang kita sebut syariat dan aturan itu akan tetap dilaksanakan seterusnya. Pelaksanaan syariat oleh pengamal tarekat tidak lagi hanya sekedar memenuhi kewajiban ibadah akan tetapi mereka sudah masuk kepada alam hakikat dari ibadah itu sendiri.

Untuk bisa menyelami samudera hakikat yang maha luas, diperlukan seorang pembimbing yang ahli dibidangnya agar tidak tersesat dan pembimbing ini dikenal sebagai Guru Mursyid.

Dalam khazanah ilmu tasawuf Guru Mursyid mempunyai peranan besar dalam membentuk hierarki manusia untuk sampai ke tingkat realisasi tertinggi dalam menempuh perjalanan spiritual, karena dimensi Al-Qur’an telah tertanam dalam dirinya. Hanya saja persoalan ini jarang dikupas dan diteliti lebih dalam sehingga masih menjadi sebuah misteri dalam kehidupan manusia. Bahkan pemuka agama sekalipun banyak yang belum mengetahuinya. Guru Mursyid hanya dimengerti oleh hati yang terbuka dan jiwa yang telah disucikan.

" Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus 10:62)

Predikat mulia yang diberikan secara khusus oleh Allah kepada manusia pilihan ini sebenarnya secara gambling telah disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-Kahfi ayat 17 dengan sebutan “Waliyan Mursyida” artinya wali yang mursyid. Kata “Wali” di sini dalam versi kaum Sufi diartikan sebagai figure manusia suci, pemimpin rohani, manusia yang sangat taat beribadah kepada Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan kata “Mursyid” diartikan sebagai Nur Ilahi, Cahaya Ilahi, atau Energy Ilahi.

مَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ *وَلِيًّا مُّرْشِدًا*

... man yahdillahu fahuwal muhtadi waman yudhlil falan tajida lahu walii-yan mursyidan;

Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan  seorang penolong *Wali Mursyid* yang dapat memberi petunjuk kepadanya*.(QS. Al- Kahfi 18 :17)

Abu Yazid al-Busthami berpendapat bahwa: ”Barang siapa yang menuntut ilmu tanpa berguru, maka syetan gurunya”, pendapat tersebut didasarkan pada Hadits Nabi Saw:

مَنْ لاَشَيْخٌ مُرْشِدٌ لَهُ فَمُرْشِدُهُ الشَّيْطَانُ

Artinya: “Barangsiapa yang tiada Syekh Mursyid (guru) yang memimpinnya ke jalan Allah, maka syetanlah yang menjadi gurunya”.

Karena pentingnya mursyid ini, seorang ulama tabi’in, Muhammad bin Sirin rahimahullah mengatakan:

إِنَّ هَذَا العِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Karena itu, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Riwayat Muslim).

“Sertakan dirimu kepada Allah, jika kamu belum dapat menyertakan dirimu kepada Allah, maka sertakanlah dirimu kepada orang yang telah beserta Allah, maka ia akan menyampaikan kepada kamu pengenalan kepada Allah.” ( H.R. Abu Dawud). 

“Cahaya di atas cahaya, Tuhan akan menuntun kepada cahaya-Nya, siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An-Nur : 35).

Baca Apakah Tasawuf Bukan bagian dari Agama Islam? Sehingga...

Apakah Ilmu Tasawuf bukan bagian dari agama Islam ?



Apakah Ilmu Tasawuf bukan bagian dari agama Islam sehingga banyak ummat Islam tidak bertasawuf ?

Sombong, serakah dengki, dendam, pelit dll itukan Ilmu Tasawuf!

Bicara Tasawuf bicara pengamalan Tharekat, bicara Tharekat bicara rukun Agama, bicara Rukun Agama bicara Rukun Islam, Rukun Iman, dan Rukun Ihsan Bicara Tharekat bicara pengamalan Tasawuf dalam Rukun Ihsan.

Pada saat malaikat Jibril memperkenalkan agama Islam kepada para sahabat melalui Rasulullah SAW. sesudah menjelaskan Tentang Islam dan Iman.

Kemudian Ia (Jibril) berkata: Beritahukan kepadaku apakah Ihsan itu? Nabi bersabda:

 قلﷺ أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك 

( Ihsan ialah) " Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya. Jika engkau tidak bisa melihatnya, sesungguhnya Ia melihatmu (HR Muslim )

*) Seolah-olah melihat Allah = Ma'rifatullah (Taqarrub Ilallah)

*) Sesungguhnya Ia melihatmu = Qolbu inti ruhanimu merasa selalu diawasi Allah ( muraqabah) sepanjang hayat, merasa bersama Allah)

Allah yang menyaksikan dan yang disaksikan (QS Al-Buruj: 3).

Hal ini menunjukkan bahwa sebuah kedekatan atau taqarrub sampai-sampai seakan-akan melihatNya, adalah akibat dari kesadaran kuat bahwa "Dialah yang melihat kita." Kesadaran jiwa bahwa Allah SWT melihat kita terus menerus, menimbulkan pantulan pada diri kita, yang membukakan mata hati kita dan sirr kita untuk memandangNya.

Ahli Tasawuf & Defenisi Tasawuf - Imu untuk mengetahui keadaan qobu baik dan buruknya

serta upaya membersihkannya

dan perjalanan menuju Allah ( Kitab Tanwirul Qulub). Sebagaimana Allah SWT :

Ke mana pun engkau menghadap, di situlah wajah Allah (QS Al-Baqarah: 115).

"Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepatuhan." (Al-An'aam 79). Dan Dia Maha Menyaksikan segala sesuatu (QS Saba’: 47).

Dialah yang Maha Awal dan Maha Akhir, Maha Lahir dan Maha Batin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS Al-Hadid: 3).

Sebagaimana firman Allah : 

ان الله كان عليكم رقىبا

" Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu ". (QS. An-Nisa 1).

Allah menjaga karena kamu ingat Allah, dzikrullah. Allah mengawasi karena kamu ingat Allah, dzikrullah.

" dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) yang berkata "Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan. (QS. Al-Anfal 8: 21).

" Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.(QS. Al-Anfal 8:27).

Allah yang menyaksikan dan yang disaksikan (QS Al-Buruj: 3).

Ibnu Athaillah menggambarkan secara bijak:

"Alam semesta ini gelap, dan sebenarnya menjadi terang karena dicahayai Allah di dalamnya. Karena itu siapa yang melihat semesta, namun tidak menyaksikan Allah di dalamnya, atau di sisinya, atau sebelum dan sesudahnya, benar-benar ia telah dikaburkan dari wujud Cahaya, dan tertutup dari matahari ma'rifat oleh mendung-mendung duniawi semesta."

Ada cahaya yang diperkenankan masuk, ada yang diperkenankan sampai.

Kadang-kadang cahaya mendatangimu, tapi hatimu dipenuhi gambaran mahluk sehingga cahaya itu pergi lagi.

Kosongkan hatimu dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Dia akan mengisinya dengan segala ma'rifat dan rahasia ( Ibnu Athaillah).

Bagi mereka yang dicahayai oleh Allah maka digambarkan oleh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam:

"Telah terpancar cahayanya dan jelaslah kegembiraanya, lalu ia pejamkan matanya dari dunia dan berpaling darinya, sama sekali dunia bukan tempat tinggal dan bukan tempat ketentraman. Namun ia jiwanya bangkit di dalam dunia itu, semata menuju Allah Ta'ala, berjalan di dalamnya sembari memohon pertolongan dari Allah untuk datang kepada Allah.

Indonesia sekarang banyak bermunculan pemikiran seperti Ilmu Tharekat yang isinya padahal Tasawufmengatakan tidak ada dalam Al-Quran, hati-hati, karena sudah disebutkan Rasulullah SAW tidak ada yang aku tinggalkan diperagakan oleh rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

Dalam Kata-katanya, perilakunya dan ketetapan-ketetapannya, kalau kita bicara soal sunnah pasti bicara tentang hadits, bicara tentang hadits bicara induk hadist atau Ummul Hadits, Al-Quran ada ummulnya yaitu Al-Fatihah, begitu juga hadist ada Ummulnya, Ummul hadistnya lebih dikenal dengan Islam, Iman, Ihsan. 

Mari kita melihat kepada keadaan di masyarakat kita kalau mereka minta do'a kepada seorang Kyai misalnya yang disebut cuma 2 "  Kyai mohon do'anya, semoga saya dan keluarga dikuatkan Iman dan  Islamnya, Ihsan nggak disebut ? ini kira-kira disebut karena nggak perlu tidak disebut? atau karena nggak tahu nggak disebut? atau karena yang 3 itu masuk dalam satu dua saya dari situ dulu ngobrolnya membahas Kitab Miftahus Sudur Kunci Pembuka Dada ) sebenarnya akan menjadi keperluan ummat sebenarnya,  karena Miftahus Sudur adalah bicara Tharekat, bicara Tharekat bicara Tasawuf, bicara Tasawuf bicara Rukun Ihsan.

Iman dari seluruh ayat-ayat Iman atau b hadist-hadist Iman jadilah Ilmu Tauhid Ilmu Ushuluddin Ilmun Kalam.

Islam digali oleh para ahli dari Al-Qur'an dan Sunnah jadilah Ilmu Fiqih sering disebut Ilmu Syari'at, itu untuk mempermudah mahasiswa dan siswa saja karena Syari'ah, Tharekat, Makrifat sering di bagi pada dua yaitu Ilmu Dzahir dan Batin.

dirujuk aja Kitab Tanwirul Qulub Syeh Amin Alkurdi.

Ilmu Islam, Apakah dia Tauhid Fiqih Tasawuf selagi dia berada di ranah Ilmu disebutnya Syari'at.

Kalau sudah bergeser kepada pengamalan maka dia menjadi Tharekat, Tharekat adalah pengamalan terpadu, antara Tauhid Fiqih dan Tasawuf, kalau merujuk kepada referensi kitabnya syeh Al Kurdi.

Bicara Ihsan dikalangan masyarakat, jangankan bisa mengurai Ihsan panjang lebar bahkan kepada prakteknya saja tidak tahu apalagi takhrifnya saja banyak yang belepotan kalau ditanya rukun ihsan kebanyakan tidak jelas menguraikannya.

Kita lihat masyarakat kita 

Tentang Rukun agama Islam, Kalau ditanya rukun agama Islam berapa ? banyak yang tidak tahu ! tahunnya Rukun Islam ? 

Dinul Islam ada 3 Islam Iman Ihsan 

Dengan Kaki Tiga (Tripod ) islam Iman Ihsan satu patah pasti roboh, itu sudah hukum alam, karena kakinya tinggal dua mari kita melihat dalam keadaan di masyarakat kita, kalau mereka minta doa ke kyai yang disebut cuma 2 "  Kyai minta do'anya dikuatkan Iman Islamnya, Ihsannya tidak disebut ini kira-kira nggak disebut apa karena tidak perlu atau karena tidak tahu atau yang ketiga ini masuk kepada ketagori Rukun yang ke satu atau yang kedua?

Membahas kitab Miftahus sudur ( Kunci pembuka dada) sebenarnya keperluan umum, keperluan ummat sebenarnya, karena kitab Miftahus shudur bicara Tharekat atau Jalan bicara Tharekat bicara Tasawuf, bicara Tasawuf bicara Rukun Ihsan.

Iman dari seluruh ayat-ayat ayat Iman Alquran dan hadis-hadis iman digali oleh para ahli maka jadilah Ilmu Tauhid Ilmu ushuluddin Ilmu kalam.

Islam dari seluruh ayat-ayat quran & hadis digali oleh ahli maka jadilah Ilmu Fiqih atau peraturan namun sering disebut Ilmu Syari'at untuk mempermudah mahasiswa saja atau untuk mempermudah saja sering disebut Ilmu Zahir. Rujukannya Tanwirul Qulub Syekh Amin Al Kurdi.

Ilmu Islam Tauhid Fiqih Tasawuf selagi dia berada di wilayah ilmu maka dinamakan Syari'at. Akan tetapi Ilmu Islam Tauhid Fiqih Tasawuf jika bergeser kepada pengamalan maka disebut Tharekat. Jadi Tharekot adalah pengamalan terpadu antara Tauhid Fiqih dan Tasawuf.

Bicara Ihsan di kalangan masyarakat jangankan menguraikan secara panjang lebar tahrifnya aja masih banyak yang gagigu sering di tanyakan dalam majlis-majlis Ilmu dalam pengajian pengajian umum.

Kalau menjelaskan rukun Islam yang lima banyak yang tahu begitupun rukun Iman yang enam kalau ditanya tentang rukun yang ketiga yaitu Ihsan banyak yang bingung menunjukkan bahwa pelajaran Ihsan tidak tembus ke masyarakat

Alkisah ada Rombongan-rombongsn  9 dokter bertanya kenapa pesantren perguruan di mana² ? Karena tidak mendalalami Tharekat karenarukun agama ada yang kurang diperhatikan satu

Sebenarnya sudah 1500 tahun hadits ini menyebar ke seluruh dunia namun tidak banyak dipahami definisi ihsan padahal ini salah satu dasarnya (Rukun) Agama.

Seharusnya ini Ilmu anak ibtidai'ah TK sekarang banyak yang sudah ubanan dan ulama-ulama dipesantren sekalipun jarang di ajarkan dan banyak yang tidak mengetahuinya.

Defenisi Ihsan.

"  Kamu beribadah kepada Allah dengan Keyakinan seakan-seakan-akan kamu melihat Allah kalaupun tidak mampu  mencapai tingkatan seakan-akan melihat Allah, maka yakini Allah maha melihat kepadamu. (HR Muslim).

Ummat sekarang Emergency gawat darurat

Apakah itu cukup sebagai hafalan pengetahuan? tidak! selain pengetahuan di otak dan lidahnya harus tembus ke dalam ==>> rasanya.( KH Zezen Zaenal Abidin ).

Kita Butuh Wasilah Perantara Untuk Mengetahuinya


Ilmu Islam Ada berapa Tingkatan

Rabu, Agustus 18

Seorang muslim dituntut untuk berjihad melawan nafsunya, dan menjauhkan dirinya dari terjerumus dalam kealfaan mengingat Allah, sehingga tidak membahayakan bagi agama dan imannya.

Sesungguhnya merasa dilihat Allah adalah ingat kepada Allah qalbu menyebut Allah (Muraqabah) di sebut dzikir, ini adalah merupakan inti dari segala ibadah-ibadah sesuai tujuan di ciptakan-Nya jin dan manusia untuk beribadah, ibadah dzikir ma'rifat akan Allah dalam surah ( Ad Dzariyat 56) وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

" Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS.Ad- Zaariyat 52: 56).

* ) Mengabdi, Beribadah, Ma'rifatullah, itulah tugas hamba mengabdi dalam seluruh hidupnya dan dzikir itu mampu mengikat diri ke Allah

Sebagaimana rukun agama yang tiga dalam hadis Jibril 

1. Rukun ISLAM, Syari'at ==>Jasad

2. Rukun IMAN, Aqidah ==> Akal

3. Rukun IHSAN Akhlak,Tasawuf Taharekat == >> Ruh, dimana ruh makanannya dzikrullah.

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. QS. Ad Zaariyat 55).

Pada saat malaikat Jibril memperkenalkan agama Islam kepada para sahabat melalui Rasulullah SAW. sesudah menjelaskan Tentang Islam dan Iman.

Kemudian Ia (Jibril) berkata: Beritahukan kepadaku apakah Ihsan itu? Nabi bersabda:

 قلﷺ أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك 

( Ihsan ialah) " Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya. Jika engkau tidak bisa melihatnya, sesungguhnya Ia melihatmu (HR Muslim )

*) Seolah-olah melihat Allah = Ma'rifatullah (Taqarrub Ilallah)

*) Sesungguhnya Ia melihatmu = Qolbu inti ruhani manusia, merasa selalu diawasi Allah ( muraqabah) sepanjang hayat, ibadah sepanjang hayat apabila hatinya telah hidup oleh bimbingan seorang guru ahlinya dan ia dimanapun selalu merasa bersama Allah.

Sebagaimana Allah SWT : "Sesungguhnya aku hadapkan wajahku (qalbu mata batin) kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepatuhan." (Al-An'aam 79).

Kemana pun engkau ( mata batinmu)  menghadap, di situlah wajah Allah (QS Al-Baqarah: 115).

Dan Dia Maha Menyaksikan segala sesuatu (QS Saba’: 47). " Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan (QS Al-Buruj: 3).

Dialah yang Maha Awal dan Maha Akhir, Maha Lahir dan Maha Batin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS Al-Hadid: 3).

Hal ini menunjukkan bahwa sebuah kedekatan atau taqarrub sampai-sampai seakan-akan melihatNya, adalah akibat dari kesadaran kuat bahwa "Dialah yang melihat kita." Kesadaran jiwa bahwa Allah SWT melihat kita terus menerus, menimbulkan pantulan pada diri kita, yang membukakan mata hati kita dan sirr ( rahasia) kita untuk memandangNya.

Sebagaimana firman Allah : " Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu ". (QS. An-Nisa 1).

Allah menjaga karena kamu ingat Allah, dzikrullah. Allah mengawasi karena kamu ingat Allah, dzikrullah.

" dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) yang berkata "Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan. (QS. Al-Anfal 8: 21).

" Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.(QS. Al-Anfal 8:27).

Penjelasan : Ihsan itu adalah Kemampuan qalbumu melihat Allah. Kata lain (Ma'rifat) 

Terbukanya penghalang qolbu, qolbu bukan hati daging fisik, qolbu yang benar adalah (qolbu Abstarak ghaib ) bashirah mata batin qolbu adalah pusat inti Ruh manusia.

Qolbu abstrak furqon mata batin Inti ruh diri, ruh qudsi yang bersih qalbun salim dimaknai sebagai hati yang bersih dari unsur-unsur kemusyrikan, baik yang nyata ( syrik jaliy /besar) maupun yang samar (syrik khafi/tersembunyi).

Sehingga ia tidak pernah lupa 'ikatan primordialnya' untuk selalu menuhankan Allah dan menyembah, beribadah, berma'rifat hanya kepada-Nya. Di samping itu, ia selalu condong (hanif, lurus ) kepada kebenaran, kebaikan, dan keluhuran budi pekerti (akhlaq al-karimah)

Tidak akan baik sebuah kalbu kecuali apabila menetap padanya ma’rifatullah ma'rifat Dzat (mengenal Dzat Allah ‘azza wa jalla ), Kemampuan Qalbumu Melihat Allah (Ma'rifat) Terbukanya Penghalang Qolbu, mengetahui keagungan-Nya, cinta dan takut kepada-Nya, berharap dan tawakal kepada-Nya.

Inilah hakikat Tauhid yang merupakan makna "La ilaha illallah". Tidak ada kebaikan bagi kalbu kecuali saat menjadikan Allah Yang Maha Esa sebagai sesembahan yang diibadahi, yang dicintai, dan ditakuti, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Ibnu Athaillah menggambarkan secara bijak: "Alam semesta ini gelap, dan sebenarnya menjadi terang karena dicahayai Allah di dalamnya. Karena itu siapa yang melihat semesta, namun tidak menyaksikan Allah di dalamnya, atau di sisinya, atau sebelum dan sesudahnya, benar-benar ia telah dikaburkan dari wujud Cahaya, dan tertutup dari matahari ma'rifat oleh mendung-mendung duniawi semesta."

Kontemplasi demi kontemplasi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid yang Kamil Mukammil hanya akan menggapai kebuntuan jalan dalam praktek Muroqobah, Musyahadah maupun Ma'rifah.

Dikatakan demikian manakala jiwa itu bagaikan teman yang berkhianat, karena itu (ihsan) tiada jalan untuk membiarkannya barang sekejappun, agar jiwa tidak berhianat karena ia dapat menghancurkan modal (amal-amal baik) bahkan meraih keuntungan, untuk itu diperlukan adanya pengawasan secara terus menerus di setiap gerakan baik dalam diamnya sekalipun dan setiap detiknya.

Rasulullah SAW bersabda:" Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran besar. Lantas sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah? Rasul menjawab, “jihad (memerangi) hawa nafsu.”

💦 " Jihad batin lebih berat dari jihad dzahir, karena jihad batin adalah satu jihad yang terus menerus yang bertujuan memutus semua kehendak dan dorongan hawa nafsu, untuk melakukan perkara-perkara yang terlarang serta mengekang keinginan terhadapnya ". [ Syekh Abdul Qadir Jaelani ].

Bagi mereka yang dicahayai oleh Allah maka digambarkan oleh Ibnu Athaillah dalam al-Hikam:

"Telah terpancar cahayanya dan jelaslah kegembiraanya, lalu ia pejamkan matanya dari dunia dan berpaling darinya, sama sekali dunia bukan tempat tinggal dan bukan tempat ketentraman. Namun ia jiwanya bangkit di dalam dunia itu, semata menuju Allah Ta'ala, berjalan di dalamnya sembari memohon pertolongan dari Allah untuk datang kepada Allah.

Allah berfirman : 

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Innani annallohu la ilaha illa anaa fakbuduni wa aqimissholata *li dzikryy "*

" Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah Sholat *untuk berdzikir kepada-Ku* .[ QS.Taha 14].

"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang *LALAI* dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan menolong dengan barang berguna."(QS Al- maun, 4-6).

فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ 

" Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu, *berdzikir lah kepada Allah* di *WAKTU BERDIRI, di WAKTU DUDUK dan di BERBARING*...(QS.An-Nisa’ 103)

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman : 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

" Sungguh telah ada pada " (Diri) Rasulullah itu *suri Tauladan Yang Baik Bagimu* (yaitu) bagi orang yang *MENGHARAP (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia BANYAK BERDZIKIR kepada ALLAH* ( QS. Al-Ahzab 33: 21). 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. *Aku BERSAMANYA KETIKA IA MENGINGAT-KU. Jika ia MENGINGAT-KU SAAT SENDIRIAN, AKU akan mengingatnya DALAM DIRI-KU*. .. (Hadist Qudsi) 

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19) 💤💤

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik [yaitu] Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan *hati mereka di waktu mengingat (berdzikir) Allah*. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (Q.S. Az-Zumar Rombongan-rombongan 39: 23).

Allah Subhanahu Wata'ala Berfirman : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

" Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah Wasilah, (jalan perantara) Yang menyampaikanmu kepada Allah dan berjihadlah ( diantaranya jihad batin melawan hawa nafsu) pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.( QS.Al Maidah 5: 35.)

Rasulullah SAW Bersabda : 

عن دود عن ابن مسعود قال رسول الله ص م : كُنْ مَعَ اللهِ وَاِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَ اللهِ فَكُنْ مَعَ مَنْ كَانَ مَعَ اللهِ فَإِنَّهُ يُوْصِلُكَ اِلَى اللهِ

Artinya: “Sertakan dirimu kepada Allah, jika kamu belum dapat menyertakan dirimu kepada Allah, maka sertakanlah dirimu kepada orang yang telah beserta Allah, maka ia akan menyampaikan kepada kamu pengenalan kepada Allah.” (H.R. Abu Dawud)

Berdasarkan keterangan Hadits di atas bahwa kita harus menyertakan diri kepada orang yang beserta Allah, artinya kita harus belajar secara langsung kepada orang yang telah dapat serta Allah yang lazim disebut mursyid atau guru atau Syekh. Maka tidaklah berlebihan jika Abu Yazid al-Busthami berpendapat bahwa: ”Barang siapa yang menuntut ilmu tanpa berguru, maka syetan gurunya”, pendapat tersebut didasarkan pada Hadits Nabi Saw:

مَنْ لاَشَيْخٌ مُرْشِدٌ لَهُ فَمُرْشِدُهُ الشَّيْطَانُ

Artinya: “Barangsiapa yang tiada Syekh Mursyid (guru) yang memimpinnya ke jalan Allah, maka syetanlah yang menjadi gurunya”.

Karena pentingnya mursyid ini, seorang ulama tabi’in, Muhammad bin Sirin rahimahullah mengatakan:

إِنَّ هَذَا العِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Karena itu, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Riwayat Muslim).

" Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus 10:62)

مَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ *وَلِيًّا مُّرْشِدًا*

... man yahdillahu fahuwal muhtadi waman yudhlil falan tajida lahu *walii-yan mursyidan;*

Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong Wali Mursyid yang dapat memberi petunjuk kepadanya*.(QS. Al- Kahfi 18 :17)

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, cara terbaik untuk meraih muqarabah Merasa dilihat Allah ( dzikir) itu semua ialah dengan MENCARI GURU ROHANI yang akan membawa HATI HIDUP. Inilah yang akan menyelamatkan seseorang di AKHIRAT. Wajib Mencari Guru Mursyid https://youtu.be/C7SIRLvDeF0 

Firman Allah dalam Al Qur’an

 وَّدُوْنَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ وَاذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَلَا تَكُنْ مِّنَ الْغٰفِلِيْنَ بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ

" Dan sebutlah (Allah) dalam hatimu (Siir Rahasia, dzikir kofi, tersembunyi ) dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang LALAI. (QS.7 Tempat Tertinggi :205).

Siapa yang tau cara berdzikirnya dan banyaknya berapa dan bagaimana ? Selain daripada berguru kepada ahli qolbu ahli ruh guru rohani yang sudah bersih qolbunya !

“ Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di PAGI dan SENJA hari dengan mengharap keridhaan-Nya,( .💦..)dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang HATINYA telah Kami *LALAIKAN* dari *MENGINGATI KAMI* serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Q.S. Al-Kahfi 18: 28).

(..💦.)[orang-orang yang menempuh jalan mengamalkan ilmu tasawuf yang mengadakan perjalanan menuju Allah, pengikut-pengikut jalan kerohanian sekelompok kecil dari manusia mereka jamaah rombongan atau orang-orang yang selalu mecari ridho Allah dan mereka adalah jamaah yang di tuntun banyak mengingat Allah punya kontrol diri, ahli dzikir baik dzikir zahar bersuara, atau kofi tersembunyi siir dalam hati yang mengamalkan rukun agama ke tiga hakikat rukun ihsan]

Apakah Ilmu Tasawuf bukan bagian dari Agama Islam Sehingga kita boleh Abaikan?  https://backtocreator.blogspot.com/2021/08/apakah-ilmu-tasawuf-bukan-bagian-dari.html

Ilmu Syariat Dan Ilmu Ma'rifat Satu Kesatuan Yang Tidak Terpisah

Ilmu Syariat & Ilmu Ma'rifat Ada Pada Satu Tempat Tak Bisa Terpisah.

" Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah. (Az Zaariyat 51: 49).

Sebagaimana Tubuh dengan Ruh dan sebagaimana Rukun Islam Iman Adalah Syari'at & Rukun Ihsan adalah Ma'rifat Ilmu tentang Akhlak/Adab/Tasawuf pengamalannya adalah menempuh jalan ( ber-Tharekat /jalan, metode, cara) dengan bimbingan guru ruhani hasilnya adalah Ma'rifat ( Seolah-olah Melihat Allah ) dan merasa selalu diawasi Allah ( Muraqabah ) bersama Allah.

Tujuan manusia dihidupkan adalah Ibadah,(Ma'rifat) QS.5156 ibadah yang di sertai ma'rifat ibadah tanpa ma'rifat adalah gerak gerik ritual kosong tak bermakna.

Rukun Ihsan : “ Ihsan itu adalah kalian beribadah/menyembah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya. Kalaupun kalian tidak bisa melihat-Nya, maka ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Melihat kalian (apa yang kalian kerjakan).” ( HR Muslim).

Sebagaimana pula tentang talqin, talqin bagi ilmu syari'at dan talqin dalam ilmu tasawuf, ayat yang sama mengenai talqin yaitu : Laqinu mautakum Laa Ilaha Illallah artinya : Talqinlanlah/bimbinglah orang yang akan mati dengan Laa Ilaha Illallah yang men talqin/membimbing orang sembarangan itu talqin bagi ilmu syari'at untuk orang sakaratulmaut, sedangkan talqin dalam ilmu rukun Ihsan/ ilmu tasawuf adalah talqinlanlah/ bimbinglah orang yang akan mati ( calon mati semua orang yang akan mati namun berfokus pada hati yang lalai banyak lupa mengingat Allah hati yang mati mengingati Allah agar hati itu hidup mengingat Allah yang membimbingkan talqin pun bukan sembarangan orang tetapi adalah oleh guru ruhani pula yang bersih hatinya pilihan Allah Waliyullah Wali Mursyid sebagaimana pada ( QS.18: 17) & ( QS. 5: 35 ) & (QS. 10:62) dengan tujuan utamanya agar menghadap Allah sudah terbiasa lisan dan hatinya menyebut Allah dan menghadap Allah dalam dalam keadaan bersih ( QS.26: 88-89)

Syariat merupakan penyembahan mahluk kepada Sang Khalik. Sedangkan Hakikat adalah kesaksian mahluk terhadap kehadiran-Nya. ( Imam Al-Qusyairi ).

" Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, (Syari'at & Hakikat) antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing ( QS.19:20).

Allah membatasi manusia dengan hati-nya artinya ilmu pengetahuan lahir-nya tubuh jasmani-nya dengan Ilmu pengetahuan batin-nya tubuh ruhani-nya

" ... sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hati (qolbu-nya )dan sesungguhnya kepadanyalah kamu akan dikumpulkan. (QS Al Anfal 8: 24).

" barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hati (qolbu-nya). QS. 64:11).

Tonton video berikut  ini https://youtu.be/gBQoOgIkCbs

Baca juga Kewajiban Seorang muslim dituntut berjihad melawan hawa nafsunya