Laman

Jumat, September 30

Hidup ini hanyalah ibarat duduk ditebing

Saat kita duduk ditebing sebenarnya kita sedang dalam posisi beribadah yaitu dzikir berpikir akan ke Maha Kuasaan Allah, itu merupakan golongan ibadah, contohnya pada saat kita merenungi kekuasan tuhan, ada dua orang membawa layar lebar berisi film sehingga menutupi pandangan kita tentang berdzikir merenungi kekuasaan tuhan pada akhirnya kita terpengaruh oleh layar film yang menutupi dzikir kita kepada Allah hingga kita terbuai oleh film yang mengasikkan itu, padahal film itu durasinya hanya sebentar akan tammat, tetapi akibat dari layar yang di bawa dua orang tadi kita terlena dan terpengaruh, karena kita lalai menonton film tersebut maka kita lupa berdzikir hingga kita mudah melakukan dosa-dosa, hingga kita makin jauh dari petunjuk-Nya dan terbuai oleh layar tersebut. Itulah gambaran kehidupan kita.

Dzikir adalah bahasa Arab yang telah teradopsi kedalam bahasa Indonesia dengan makna mengucapkan (menyebut) nama Allah. Sedangkan secara hakiki adalah mengingat Allah dalam setiap gerak hidup seorang mukmin.
Pikir adalah akal yang bisa juga dikonotasikan dengan ilmu (pengetahuan). Hidup manusia akan sempurna ( bahagia) jika zikir dan pikir itu melekat pada dirinya. Tetapi dzikir adalah selalu mengingat Allah, sehingga takut berbuat yang dilarang-Nya dan taat melaksanakan segala perintah-Nya.

Tujuan hidup manusia adalah beribadah baik secara batin maupun dzahir.

Allah subhananahwa ta'ala berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Tanda-tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla , yang Ia ciptakan di langit dan di bumi dan di antara keduanya, semua itu tidak diciptakan dengan sia-sia, tetapi mengandung tujuan. Yaitu untuk kemashlahatan makhluk-makhluk-Nya, sebagai sarana beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , sekaligus membuktikan tentang keesaan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. [Ali ‘Imran/3:190-191].

Yang dimaksud dengan merenungi ayat-ayat Allah, ialah melihatnya, merenungi manfaat-manfaatnya, sehingga menghasilkan sebuah keyakinan yang mendalam bahwa hanya Allah Azza wa Jalla saja dzat satu-satunya yang menciptakan semua itu. Dia-lah satu-satunya ilah yang berhak untuk disembah. Dia-lah satu-satunya ilah yang berhak ditakuti, ditaati, dan hanya Dia yang kita jadikan sebagai petunjuk, sebagai bukti keagungan dan kekuasaan-Nya. Dia tidak menciptakan semua itu dengan sia-sia.

Bagaimana mungkin manusia bisa terkagum-kagum dengan hasil karyanya, kemudian ia lupa dengan tanda-tanda kekusaan Allah Azza wa Jalla yang digelar di alam raya ini, bahkan tanda-tanda kebesaran-Nya di dalam diri manusia itu sendiri?

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri; maka apakah kamu tidak memperhatikan? [adz-Dzâriyât/51:20-21].

Dari uraian diatas bahwa
Dzikir itu pada hakekatnya adalah amalan hati.
Dzikir itu ingat kepada Allah sebagai Ilah bahwa Dialah yang wajib diibadahi dan ditaati. Dan semua perbuatan kita diawasi dan dicatat oleh-Nya untuk dimintai pertanggungan jawabannya.
Dzikir itu ingat kepada Allah yang Maha Kaya. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya, maka minta dan mohonlah kepada-Nya.
Dzikir kepada Allah itu meyakini bahwa Dialah adalah Dzat yang Maha Rahman, Rahim dan Maha Adil.
Kita harus ikhlas akan pemberian-Nya, sabar terhadap musibah dan cobaan yang menguji kita.

Dzikir kepada Allah memberikan kekuatan untuk melaksanakan kewajiban yang Allah perintahkan.
Dzikir kepada Allah memberikan perlindungan kepada kita untuk tidak berbuat maksiat karena selalu ingat akan hukuman Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Perintah selalu berdzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring.
Supaya kita dilindungi, diawasi dan dikendalikan oleh aturan Allah. Selalu terbayang bahwa kita ini sesungguhnya mengharapkan ridha-Nya. Dan dengan ridha-Nya, Ia menghadiahkan surga kepada kita.

Kenapa orang melakukan maksiat? Karena orang itu sedang tidak berdzikir, artinya orang tersebut sedang lupa. Kondisi lupa kepada Allah menyebabkan keadaan seseorang tidak terkendali, sepertihalnya layangan yang putus. Jadi, orang-orang yang melanggar aturan Allah pada hakekatnya adalah orang-orang yang lupa kepada Allah sehingga menjadikan mereka liar.

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ  ۙ
Tunjukilah kami jalan yang lurus [QS. Al-Fatihah: 6]

Karena orang yang lurus adalah berjihad pada jalan-Nya, berjihad yaitu memperbanyak mengingat Allah jihad melawan hawanafsu.
Jihad yang paling utama adalah jihad seseorang untuk dirinya dan hawa nafsunya.(Riwayat Abnu An-Najari)

Baca juga : Jihad menanamkan dzikir pada hati dan tuntunannya dari hadist nabi Hadist tuntunan dari Rasulullah berdzikir dalam hati


Keutamaan berdzikir Laa Ilaha Illallah


Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah yaitu Kebaikan yang Paling Utama
Terkecuali dapat membawa manusia terlepas dari neraka nyatanya kalimat Laa Ilaaha Illallah adalah kebaikan yang paling penting.
Abu Dzar berkata, ”Katakanlah padaku wahai Rasulullah, ajarilah saya amalan yang bisa mendekatkanku pada surga serta menjauhkanku dari neraka. ” Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
”Apabila engkau lakukan kejelekan (dosa), jadi kerjakanlah kebaikan lantaran dengan lakukan kebaikan itu engkau bakal memperoleh sepuluh yang seumpama. ”
Lantas Abu Dzar berkata lagi, ”Wahai Rasulullah, apakah ’laa ilaha illallah’ adalah kebaikan?
 ” Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, :
”Kalimat itu (laa ilaha illallah, pen) adalah kebaikan yang paling penting. Kalimat itu bisa menghapuskan beragam dosa serta kekeliruan. ” (Dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani dalam tahqiq beliau pada Kalimatul Ikhlas, 55)
sabda Rasulullah SAW :

”Dzikir yang paling penting yaitu bacaan ’laa ilaha illallah’. ” (Dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani dalam tahqiq beliau pada Kalimatul Ikhlas, 62)

Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ Yaitu Amal yang Paling Utama
Keutamaan kalimat Laa Ilaaha Illallah yakni nyatanya kalimat ini yaitu amal yang paling penting. Selalu mengatakannya bakal memberi banyak ganjaran pada yang mengerjakannya. Bahkan juga ia bakal memperoleh ganjaran menyamakan memerdekakan budak serta adalah pelindung dari masalah setan.

Berapa kalikah kita berdzikir agar dosa yang kita lakukan sadar atau tidak dalam sehari semalam agar dosa kita diampuni Allah ?

Baca juga : Siapa orang yang selalu berdzikir Laa Ilaha Illalloh tanpa merasa jenuh karena ingin membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah.

Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ yaitu Kunci dari 8 Pintu Surga
Keutamaan paling akhir dari kalimat Laa Ilaaha Illallah yaitu kalimat itu yaitu kunci dari 8 pintu surga. Orang yang selalu mengatakan kalimat ini dalam kesehariannya dapat jadi penghuni surga dengan masuk melalui pintu mana saja yang disenanginya. Dari ’Ubadah bin Shomit radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

”Barangsiapa mengatakan ’saya bersaksi kalau tak ada sesembahan yang memiliki hak disembah dengan benar terkecuali Allah semata, tak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad yaitu hamba-Nya serta utusan-Nya, serta (bersaksi) kalau ’Isa yaitu hamba Allah serta anak dari hamba-Nya, serta kalimat-Nya yang di sampaikan pada Maryam dan Ruh dari-Nya, serta (bersaksi juga) kalau surga yaitu benar ada serta neraka juga benar ada, jadi Allah pastinya akan memasukkannya kedalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki. ” (HR. Muslim no. 149)

Baca juga : Hidup yang sesungguhnya terasa nikmat dengan sebenar-benarnya karena merupakan petunjuk Allah serta fitrah manusia.

Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah Membawa Manusia Masuk Surga
Keutamaan pertama mengatakan kalimat Laa Ilaaha Illallah yaitu nyatanya kali itu dapat membawa manusia jadi penghuni surga. Satu waktu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mendengar muadzin mengatakan ’Asyhadu alla ilaha illallah’. Lantas beliau menyampaikan pada muadzin tadi, ”Engkau terlepas dari neraka. ” (HR. Muslim no. 873)

Baca juga : Hidup ini ibarat duduk di tebing
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ”Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelumnya wafat dunia yaitu ‘lailaha illallah’, jadi dia bakal masuk surga” (HR. Abu Daud. Disebutkan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621)


Siapa mereka yang yang selalu berdzikir Laa Ilaha Illallah & mengingat Allah ?








Kamis, September 29

Medekat kepada Allah harus kembali ke titik NOL

" Tembus intinya itu jauh lebih baik daripada kulitnya ".

Tidak ada seorang mahluk yang bisa menolak kebenaran agama ISLAM bahwa agama ini adalah murni petunjuk dan wahyu dari Sang Pencipta Tuhan seru sekalian Alam.

Manusia pada intinya adalah mahluk RUH.8
Sebelum setiap manusia lahir ke dunia. Allah telah mengambil kesaksian dari setiap jiwa atau ruh manusia. Kita akan memulai dari ayat.
Allah SWT berfirman:

هَلْ اَتٰى عَلَى الْاِنْسَانِ حِيْنٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًـا مَّذْكُوْرًا

"Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?"
(QS. Al-Insan: Ayat 1)

Pada saat itu belum ada jasad fisik wajah dan nama yg bisa membedakan kita.

Ketika di Alam RUH ( Titik Nol )
Titik nol ( sebelum di tiupkan ruh kedalam janin )

Jika sebuah ilustrasi titik nol itu adalah saat kelahiran kita di dunia, berarti sesungguhnya ada titik dimana sebelum nol yang bisa kita sebut sesuai dengan judul bahasan adalah “before zero”.

Dan bagaimana proses penciptaan yang digambarkan dalam ayat, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (serayaberfirman) “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjad isaksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keEsaan Tuhan)”. (QS. Al A’raaf, 7 : 172)

Berkaitan dengan ayat ini, Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits, “Ketika Allah menciptakan Adam, DIA mengusap punggungnya, maka dari punggung itu setiap ruh yang menyerupai biji atom berjatuhan, yang DIA (Allah) adalah penciptanya sejak itu sampai hari kiamat kelak”. (HR. Imam Tirmidzi)

Maja ketika manusia mulai masuk aqil balig, yakni mulai diperhitungkan segala amalannya. Dan bagi para mualaf titik nol mulainya diperhitungkan amalnya mereka adalah ketika mereka masuk ke dalam islam.

Manusia adalah sejatinya penghuni surga dan mahluk yang suci, tetapi karena Allah sebaik-baik Perencana berkehendak ingin memberikan UJIAN kepada hamba-Nya jin maupun manusia agar mendapatkan surga-Nya maka Dia akan memilih hamba-hamba-Nya yang ta'at kepada-Nya, lewat kehidupan dunia, maka Allah berfirman akan menciptakan khalifah ( pemimpin ) di muka bumi.

FirmanNya :kepada Malaikat  :
”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: ”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”. Tuhan berfirman: ”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”(Al-Baqarah:30)

Nah bagaimana dengan bahasan kita diatas yaitu :

ILMU KULIT ( PIKIRAN ) / Menuntut Ilmu
ILMU INTI ( RUH ) Membersihkan hati.

ILMU KULIT ( Pikiran / nafsu )
Sejauh dan sebanyak apapun kita memiliki ilmu namun hati kita jauh dari dari mengingat ALLAH. Masih banyak lalai dan tidak bisa dipungkiri kita sering lalai dan masih terselip rasa ujub dan penyakit hati lainnya terkadang tidak disadari, karena kita masih sebatas pikiran ( nafsu ) yang lebih dominan dari pada qalbu.

ILMU INTI ( Ruh / qalbu )
Bukan berarti jika kita pada posisi ini kita tidak pernah lalai tetapi lebih pada karena pada posisi ini selalu bersandar pada ALLAH disetiap keadaan, sesuai dengan petunjuk Allah bahwa Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Yaitu orang-orang yg selalu mengingat Allah dzikir, berdzikir merupakan ibadah yang sangat agung.
"Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.
(An Nisa 103)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah ada suatu kaum yang duduk untuk berdzikir kepada Allah ta’ala melainkan malaikat akan meliputi mereka dan rahmat akan menyelimuti mereka, dan akan turun kepada mereka ketenangan, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

Allah ta’ala berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

“Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku juga akan mengingat kalian.” (QS. al-Baqarah: 152)
Allah ta’ala juga berfirman,

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang.” (QS. ar-Ra’d: 28)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Sebagian dari kalangan ahli hikmah yang terdahulu dari Syam -dugaan saya adalah Sulaiman Al Khawwash rahimahullah mengatakan, ‘Dzikir bagi hati laksana makanan bagi tubuh. Maka sebagaimana tubuh tidak akan merasakan kelezatan makanan ketika menderita sakit. Demikian pula hati tidak akan dapat merasakan kemanisan dzikir apabila hatinya masih jatuh cinta kepada dunia’. Apabila hati seseorang telah disibukkan dengan mengingat Allah, senantiasa memikirkan kebenaran, dan merenungkan ilmu, maka dia telah diposisikan sebagaimana mestinya…” (Majmu’ Fatawa, 2/344)

Oleh sebab itu, menjadi orang yang banyak mengingat Allah merupakan cita-cita setiap mukmin. Allah ta’ala berfirman,

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Dan kaum lelaki yang banyak mengingat Allah demikian pula kaum perempuan, maka Allah persiapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang sangat besar.” (QS. Al Ahzab: 35)

Rasullah SAW pun pernah bersabda :
" Sesungguhnya segala sesuatu itu ada alat pembersihnya,
dan untuk membersihkan hati
adalah dengan melakukan dzikrullah " (H.R al-Baihaqi r.a)

” Tidak ada sesuatu amal pun yang dapat menyelamatkan seseorang kecuali dengan banyak melakukan dzikir kepada Allah Azza Wajalla”.
(H.R Thabrani dari Mu’ad dan Abi Syaibah)

Jadi sejauh ini inilah rahasianya bahwa orang-orang seperti inilah yang senantiasa menjunjung tinggi kalimat TAUHID, Mereka yang Istiqomah dalam setiap Waktu baqda sholat mereka mengangungkan kalimat tayyibah " Laa Ilaha Illalloh " dan disetiap keadaan selalu terkoneksi dengan Allah dan merasa selalu diawasi Allah yaitu Ada di dasar agama islam Rukun agama bagian ke 3  sesudah Rukun Islam dan Iman yaitu RUKUN IHSAN yaitu :
" Beribadahlah kamu kepada Allah seolah-olah kamu melihatnya, apabila engkau tak melihatNya maka ketahuilah bahwa Allah melihatmu " ( Al-Hadist )
inilah orang yang selalu menyucikan jiwanya.
Kita datang dari keadaan suci maka kembalinyapun harus suci, karena Allah Maha suci menerima yang suci.

Untuk menjadi orang yang ingin mensucikan hati maupun jiwanya maka memerlukan guru yang dapat mengarahkan dan menanamkannya pada hati kita untuk menuju qalbu yang suci, lihat dan Baca dan KLIKDISINI

Di dalam mentalqin dzikir, seorang guru mursyid dapat melakukan kepada jama’ah (banyak orang) atau kepada perorangan. Hal ini  didasarkan pada riwayat Imam Ahmad dan Imam Thabrani yang menerangkan bahwa Rasulullah Saw telah men-talqin para sahabatnya, baik secara berjama’ah atau perorangan.

Adapun talqin Nabi Saw kepada para sahabatnya secara jamaah sebagaimana diriwayatkan dari Sidad bin Aus RA: ”Ketika kami (para sahabat) berada di hadapan Nabi Saw, beliau bertanya: ”Adakah diantara kalian orang asing (maksud beliau adalah ahli kitab-red), aku menjawab: ”Tidak!” Maka beliau menyuruh menutup pintu, lalu berkata: ”Angkatlah tangan-tangan kalian dan ucapkanlah La ilaaha illallah!” Kemudian beliau melanjutkan: ”Alhamdulillah, ya Allah sesungguhnya Engkau mengutusku dengan kalimat ini ”La ilaaha illallah”, Engkau perintahkan aku dengannya dan Engkau janjikan aku Surga karenanya. Dan Engkau sungguh tidak akan mengingkari janji.”Lalu beliau berkata: ”Ingat! Berbahagialah kalian, karena sesungguhnya Allah telah mengampuni kalian.”

Sedangkan talqin Beliau kepada sahabatnya secara perorangan adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Yusuf Al-Kirwaniy dengansanad yang sahih, bahwa sahabat Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah pernah memohon kepada Nabi SAW: ”Ya Rasulullah, tunjukkanlah aku jalan yang paling  dekat  kepada Allah, yang paling mudah bagi hambanya dan yang paling utama di sisi-Nya!” Maka Beliau menjawab:” Sesuatu yang paling utama yang aku ucapkan dan para nabi sebelumku adalah La ilaaha illallah. Seandainya tujuh langit dan tujuh bumi berada di atas daun timbangan dan La ilaaha illallahberada di atas daun timbangan yang satunya, maka akan lebih beratlah ia (la ilaaha illallah),” lalu lanjut beliau: ”Wahai Ali, kiamat  belum akan terjadi selama di muka bumi ini  masih ada orang yang mengucapkan kata ’’Allah’’.” Kemudian sahabat Ali  berkata: ”Ya Rasulullah, bagaimana aku berdzikir menyebut nama Allah?” Beliau menjawab: ”Pejamkan kedua matamu dan dengarkan dariku tiga kali, lalu tirukan tiga kali dan aku akan mendengarkannya. ”Kemudian Nabi Saw  mengucapakan La ilaaha illallah tiga kali dengan memejamkan kedua mata dan mengeraskan suara beliau, lalu sahabat Ali bergantian  mengucapkan La ilaaha illallah seperti itu dan Nabi Saw  mendengarkannya. Inilah dasar  talqin dzikir jahri (La ilaaha illallah).

Adapun  talqin dzikir qolbi yakni dengan hati tanpa mengerakkan lisan  dengan itsbat tanpa nafi, dengan lafadz ismudz-dzat (Allah) yang diperintahkan Nabi Saw dengan sabdanya: ”Qul Allah Tsumma dzarhum” (Katakanlah, ”Allah” lalu biarkan mereka), adalah dinisbatkan kepada  Ash-Shiddiq Al-A’dham (Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ) yang mengambilnya secara batin dari Al-Musthofa Saw. Inilah dzikir yang bergaung mantap di hati Abu Bakar Ra. Nabi Saw  bersabda: ”Abu Bakar mengungguli kalian bukan karena banyaknya puasa dan shalat, tetapi karena sesuatu yang bergaung mantap di dalam hatinya.” Inilah dasar  talqin dzikir sirri.

Semua aliran thariqoh bercabang dari dua penisbatan ini, yakni nisbat kepada Sayyidina Ali Karamallahu wajhah untuk dzikir jahri dan nisbat kepada Sayyidina Abu Bakar Ra untuk dzikir sirri. Maka kedua beliau inilah sumber utama dan melalui keduanya pertolongan Ar-Rahmandatang.

Nabi Saw mentalqin kalimah thoyibah ini kepada para sahabatradliallah ‘anhum untuk membersihkan hati mereka dan mensucikan jiwa mereka, serta menghubungkan mereka ke hadirat iIaahiyah(Allah) dan kebahagiaan yang suci murni. Akan tetapi pembersihan dan pensucian  dengan kalimah thoyibah ini atau  Asma-asma Allah yang lainnya itu, tidak akan berhasil kecuali si pelaku dzikir menerimatalqin dari syaikhnya yang alim, amil, kamil, fahim, terhadap makna Al-Qur’an dan syariat, mahir dalam hadits atau sunnah dan cerdas dalam akidah dan ilmu kalam. Dimana syaikhnya tersebut juga telah menerima talqin kalimah thoyyibah tersebut dari syaikhnya yang terus bersambung dari syaikhnya yang agung, yang satu dari syaikh agung yang lainnya sampai kepada Rasulullah Saw.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.’”

Kelengkapan hadits ini adalah:

وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِيْ عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang pencabutan nyawa orang mukmin. Ia benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya.


SYARAH HADITS
ath-Thûfi rahimahullah berkata, “Hadits ini merupakan asas tentang jalan menuju Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan metode supaya bisa mengenal dan meraih cinta-Nya. Karena pelaksanaan kewajiban batin yaitu iman dan kewajiban zhahir yaitu Islam dan gabungan dari keduanya yaitu ihsân, semuanya terdapat dalam hadits ini, sebagaimana semuanya ini juga terkandung dalam hadits Jibril Alaihissallam. Dan ihsân menghimpun kedudukan orang-orang yang menuju kepada Allâh berupa zuhud, ikhlas, muraqabah, dan lainnya.

Maksudnya, barangsiapa bersungguh-sungguh dalam mendekat kepada Allâh Azza wa Jalla dengan ibadah-ibadah wajib lalu ibadah-ibadah sunnah, maka Allâh akan mendekatkannya kepada-Nya dan menaikkan derajatnya dari tingkatan iman ke tingkatan ihsân. Karenanya, ia menjadi hamba yang beribadah kepada Allâh dengan merasa selalu diawasi Allâh sehingga hatinya penuh dengan ma’rifat (pengenalan) kepada Allâh, cinta kepada-Nya, takut kepada-Nya, malu kepada-Nya, mengagungkan-Nya, merasa tenang dengan-Nya dan rindu kepada-Nya.

Ketika hati dipenuhi dengan pengagungan kepada Allâh, maka yang lainnya akan lenyap dari hati tersebut serta ia tidak lagi punya keinginan kecuali yang diinginkan Rabb-nya. Saat itulah, seorang hamba tidak bicara kecuali dengan dzikir kepada Allâh dan tidak bergerak kecuali dengan perintah-Nya. Jika ia bicara, ia bicara dengan Allâh. Jika ia mendengar, ia mendengar dengan-Nya. Jika ia melihat, ia melihat dengan-Nya. Jika ia berbuat, ia berbuat dengan-Nya. Itulah yang dimaksud dengan firman Allâh Ta’ala, ” Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.”

Barangsiapa menafsirkan dan mengisyaratkan hadits di atas dengan hulul (menitisnya Allâh kepada makhluk) atau ittihad (manunggaling kawula gusti) atau ajaran lain maka ia telah sesat dan menyesatkan dan ia telah mengisyaratkan kepada kekafiran.

Dan ini termasuk salah satu rahasia tauhid, karena kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH maknanya seseorang hamba tidak menuhankan selain Allâh dalam cinta, harapan, takut dan taat. Jika hati sudah penuh dengan tauhid yang sempurna, maka tidak ada lagi kecintaan untuk mencintai apa yang tidak dicintai Allâh atau kebencian untuk membenci apa yang tidak dibenci Allâh. Barangsiapa hatinya seperti ini, maka organ tubuhnya tidak akan bergerak kecuali dalam ketaatan kepada Allâh dan ia tidak mempunyai keinginan kecuali di jalan Allâh dan pada sesuatu bisa mendatangkan ridha-Nya.
Diringkas dari Jâmi’ul ’Ulûm wal Hikam (II/345-348).

Firman Allâh Azza wa Jalla (dalam hadits di atas), yang artinya, “Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.”

Ini menunjukkan bahwa orang yang dicintai Allâh dan didekatkan kepada-Nya memiliki kedudukan khusus di sisi Allâh Azza wa Jalla sehingga jika ia meminta sesuatu kepada Allâh Azza wa Jalla , Allâh memberikan apa yang diminta; Jika ia memohon perlindungan kepada-Nya maka Allâh Azza wa Jalla akan melindunginya; Dan jika ia berdo’a maka Dia mengabulkan do’anya. Dan kisah-kisah tentang orang yang do’anya mustajab.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

Sebagian di ambil dari sumber: https://almanhaj.or.id

Rabu, September 14

Celakanya Lalai kepada Allah

Berbicara tentang ghaflah ( lalai ) ilmu, maka kita akan berbicara tentang ghaflah, yakni kelalaian. Kita malas untuk berpikir, itulah salah satu contoh kelalaian. Ghaflah ini dapat mengantarkan seseorang kepada murkanya Allah Subhanahwa ta 'ala. Maka dari itu setiap perbuatan harus disertai pengetahuan (ilmu), juga dilakukan dengan sadar, sebab apapun yang kita lakukan di dunia ini akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah kelak. Pemahaman akan sesuatu itu sangat penting, maka berhati-hatilah atas ilmu yang telah dimiliki. Itu baru Ilmu, bagaimana dengan Harta dan Masa Muda? kenapa Ghaflah (Lalai) itu dapat mengundang murkanya Allah?
Simaklah penuturan yang sarat makna dari Ustadz KH.Wahfiudin Sakam. Semoga jadi Ilmu berkah.

Sabtu, Agustus 13

Cara Bertaubat dari Ghibah

Cara bertaubat dari Ghibah

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah orang yang telah berbuat ghibah tidak harus mengumumkan taubatnya. Cukup baginya memintakan ampun bagi orang yang dighibahi dan menyebutkan segala kebaikannya di tempat-tempat mana dia mengghibahinya. Pendapat ini yang dikuatkan oleh Ummu Abdillah Al-Wadi’iyyah dalam kitabnya Nashihati lin Nisa’ (hal. 31).

Haruskah Meminta Maaf kepada Orang yang Dighibahi?

Dalam permasalahan ini, perlu dirinci:

Pertama, bila orang tersebut mendengar ghibahnya, maka dia harus datang kepada orang tersebut meminta kehalalannya (minta maaf).

Kedua, jika orang tersebut tidak mendengar ghibahnya maka cukup baginya menyebutkan kebaikan-kebaikannya dan mencabut diri darinya di tempat ia berbuat ghibah.

Al-Qahthani dalam kitab Nuniyyah beliau (hal. 39) menasihati kita:

“Janganlah kamu sibuk dengan aib saudaramu dan lalai dari aib dirimu, sesungguhnya yang demikian itu adalah dua keaiban. ” Wallahu a’lam.

Kapan Boleh Mengghibah ?

Kapan Boleh Mengghibah ?

Al-Imam An-Nawawi berkata: “Ghibah dibolehkan dengan tujuan syariat yang tidak mungkin mencapai tujuan tersebut melainkan dengannya.”

Dibolehkah ghibah pada enam perkara:

1. Ketika terdzalimi (dianiaya).

2. Meminta bantuan untuk menghilangkan kemungkaran.

3. Meminta fatwa.

4. Memperingatkan kaum muslimin dari sebuah kejahatan atau untuk menasihati mereka.

5. Ketika seseorang menampakkan kefasikannya.

6. Memanggil seseorang yang dia terkenal dengan nama itu.

(Riyadhus Shalihin, bab “Apa-apa yang diperbolehkan untuk Ghibah”)

Cara bertaubat dari ghibah klik DISINI